Category: Ajaran Dasar Published: Saturday, 04 November 2017

Upacara dan Perayaan Dalam Agama Buddha

 

Hari Waisak

 

Waisak adalah peristiwa tahunan yang terpenting bagi umat Buddha. Pada saat itu diperingati Kelahiran, Pencapaian Penerangan Sempurna dan Parinirvana dari Buddha. Ketiga peristiwa ini jatuh pada bulan purnama, bulan kelima penanggalan bulan. Peristiwa ini dihormati oleh jutaan umat Buddha di seluruh dunia. Ini merupakan perayaan untuk kegembiraan dan kebaikan bagi semua. Ini juga merupakan kesempatan untuk melihat kembali perkembangan spiritual kita.

 

Bagi beberapa umat Buddha, ibadah Waisak dimulai pagi-pagi benar ketika mereka berkumpul di vihara untuk melaksanakan delapan sila. Yang lain mungkin bergabung dengan ibadah umum untuk mengikuti upacara dengan mengambil tiga perlindungan, menjalankan lima sila, membuat persembahan di altar dan memanjatkan pujian. Mereka juga mengikuti prosesi dan pradaksina, serta mendengarkan khotbah Dharma.

 

Di beberapa vihara, umat Buddha mengambil bagian dalam upacara pemandian patung bayi Pangeran Siddharta (Buddha saat Beliau masih seorang pangeran) yang diletakkan di kolam bertaburan bunga. Air yang wangi di gayung dengan sendok besar dan dituangkan ke patung itu. Ini melambangkan penyucian perbuatan-perbuatan jahat seseorang dengan perbuatan baik.

Beberapa umat Buddha juga melaksanakan vegetarian di hari ini dengan mengingat ajaran Cinta Kasih universal. Pada hari ini vihara-vihara dihias indah dengan bendera Buddhis dan lampu-lampu, dan altar dipenuhi bunga-bunga, buah-buahan dan persembahan lainnya.

 

Hari Upavasatha

Saat Upavasatha (Uposatha) atau bulan baru dan bulan purnama (tanggal 1 dan 15 penanggalan bulan), banyak umat Buddha berkumpul di vihara untuk bermeditasi, membuat persembahan, mengulang khotbah Dharma, dan melakukan penghormatan pada Tiga Permata. Beberapa umat Buddha juga melaksanakan vegetarian pada hari-hari tersebut, sebagaimana mereka menjalankan delapan sila.

 

Hari Ullambana

Ullambana adalah perwujudan rasa hormat umat Buddha kepada leluhur mereka dan cinta kasih mereka kepada semua makhluk yang menderita di alam sengsara. Peringatan Ullambana pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan bulan, didasarkan pada kejadiaan saat Maudgalyayana (Mogallana), seorang pengikut Buddha, melalui kekuatan meditasinya menemukan bahwa ibunya dilahirkan kembali di alam sengsara. Karena sedih, ia meminta bantuan Buddha yang kemudian menasehatinya untuk membuat persembahan kepada Sangha, kaerna jasa kebajikan dair perbuatan itu dapat membebaskan penderitaan ibunya dan juga makhluk lain di alam sengsara. Membuat persembahan untuk membebaskan penderitaan orang yang telah meninggal dan makhluk lain di alam sengsara menjadi perayaan umum yang populer.

Ullambana diperingati dengan mempersembahkan kebutuhan-kebutuhan Sangha, mengulang khotbah Dharma, dan melakukan perbuatan-perbuatan amal. Jasa kebajikan dari perbuatan-perbuatan ini akan dilimpahkan kepada semua makhluk.

 

Upacara Perpindahan Cahaya

Dalam upacara ini, umat memegang sebatang liling yang menyala sambil berjalan berkeliling batas tepi vihara, objek suci, atau bangungan bersejarah dengan meditasi berjalan. Mereka memanjatkan mantara atau nama Buddha sebagai pujian kepada-Nya. Upacara ini melambangkan cahaya Kebijaksanaan (menyebarkan Kebenaran) ke segala penjuru dunia untuk menghalau sisi gelap ketidaktahuan. Secara pribadi ini memiliki makna menyalakan lampu Kebijaksanaan dalam diri seseorang.

Nyala api yang dapat dipindahkan ke lilin lain yang tak terhitung banyaknya tanpa memadamkan nyalanya sendiri, melukiskan bahwa Kebijaksanaan dapat dibagikan tanpa mengurangi bagian orang yang membagikan. Terbakarnya sumbu disertai lelehnya lilin mengingatkan kita pada ketidakkekalan dan perubahan-perubahan semua benda yang terkondisi, termasuk hidup kita sendiri. Merenngkan hal ini dapat membantu kita menghargai setiap momen dalam hidup tanpa menjadi melehat padanya. Perhatian dapat dilatih dengan menjaga agar nyala lilin tidak padam. Ini menggambarkan penjagaan pikiran dari faktor-faktor negatif yangmerusak kehidupan spiritual. Dalam upacara ini, semangat dapat ditumbuhkan dengan melihat secercah api kecil yang menerangi lautan kegelapan, sampai lautan cahaya yang saling membagi penerangan bagi semua.

 

Upacara Tiga Langkah Satu Sujud

Dalam upacara ini, para pengikut biasanya berbaris sebelum terbitnya matahari untuk pengitari batas tepi vihara, membungkukkan badang sekali setiap tiga langkah, sambil memanjatkan mantra-mantra atau nama Buddha sebagai penghormatan bagi-Nya. Pada setiap sujud, Buddha dapat divisualisasikan sedang berdiri di atas telapak tangan kita yang terbuka dan kita sambut dengan hormat. Telapak tangan yang terbuka melambangkan bunga teratai, lambang merekahnya kesucian (walaupun akar-akar bunga teratai beradai di lumpur kejahatan, bunganya mekar dengan kesucian dan bersih dari lumpur). Setiap sujud merupakan penyampaian rasa hormat kepada Buddha (atau pada seluruh Buddha dan Bodhisattva yang tidak terhitung jumlahnya). Latihan ini membantu pemurniaan pikiran, menekan ego, dan mengurangi rintangan-rintangan epanjang jalan spiritual sambil seseorang menyesali tindakan-tindakan buruk yang lalu dan mengingnkan perkembangan spiritual. Dengan perhatian penuh para perbuatan, ucapan dan pikiran selama latihan, konsentrasi dan ketenangan dapat dicapai.

Upacara yang panjang ini mengingatkan seseorang kepada perjalanan menuju Penerangan Sempurna yang panjang dan sukar. Tetapi ini juga mengingatkan kita bahwa sejauh kita telah bertekad, seluruh rintangan akan dapat ditanggulangi. Keteguhan dalam melengkapi latihan ini walaupun ada rintangan juga dapat membantu memperkuat keyakinan kepada Buddha dan ajaran-ajaranNya yang menuntun kita menuju Penerangan Sempurna.

Merekahnya fajar pada akhir upacara melambangkan cahaya Kebijaksanaan menghalau kegelapan kebodohan karena seseorang telah maju selangkah dalam perjalanan menuju Penerangan Sempurna.

 

[Dikutip dari Buku Menjadi Pelita Hati. Judul Asli Be A Lamp Uppon Yourself. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Indonesia oleh Seksi Penerbit Pemuda Vihara Vimala Dharma, Bandung.]

 

 

Hits: 35