Category: Ajaran Dasar Published: Tuesday, 12 December 2017

Riwayat Hidup Buddha Gotama

 

Sang Buddha lahir di antara suku Sakya, di sebuah kerajaan di negeri yang sekarang bernama Nepal. Raja di sana bernama Suddhodhana, permaisurinya adalah Ratu Maya. Meskipun Raja Suddhodana dan Ratu Maya sudah lama menikah, namun anak yang sangat mereka dambakan belum juga mereka peroleh, sampai pada suatu waktu Ratu Maya mencapai umur 45 tahun. Ketika itu Ratu Maya ikut serta dalam perayaan Asadha yang berlangsung tujuh hari lamanya. Setelah perayaan selesai Ratu Maya mandi dengan air wangi, mengucapkan janji uposatha dan kemudian masuk ke kamar tidur.

Sewaktu tidur, Ratu Maya memperoleh impian yang aneh sekali. Ratu bermimpi bahwa empat orang Dewa Agung telah mengangkatnya dan membawanya ke Himava (Gunung Himalaya) dan meletakkannya di bawah pohon Sala di (lereng) Mannosilatala. Kemudian para istri Dewa-Dewa Agung tersebut memandikannya di danau Anotatta, menggosoknya dengan minyak wangi dan kemudian memakaikannya pakaian-pakaian yang biasanya dipakai oleh para dewata. Selanjutnya Ratu dipimpin masuk ke sebuah istana emas dan direbahkan di sebuah dipan yang bagus sekali. Di tempat itulah seekor gajah putih dengan memegang sekuntum bunga teratai dibelalainya memasuki kamar, mengelilingi dipan sebanyak tiga kali untuk kemudian memasuki perut Ratu Maya dari sebelah kanan.

Ratu memberitahu impian ini kepada Raja dan Raja kemudian memanggil para Brahmana untuk menanyakan arti dari impian tersebut. Para Brahmana menerangkan bahwa Ratu akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi seorang Cakkavati (Raja dari semua Raja) atau seorang Buddha.

Memang sejak hari itu Ratu mengandung dan Ratu Maya dapat melihat dengan jelas bayi dalam kandungannya yang duduk dalam sikap meditasi dengan muka menghadap ke depan.

Sepuluh bulan kemudian di bulan Waisak Ratu memohon perkenan dari Raja untuk bersalin di rumah ibunya di Devadaha. Dalam perjalanan ke Devadaha tibalah rombongan Ratu di taman Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) yang indah sekali. Di kebun itu Ratu memerintahkan rombongan berhenti untuk beristirahat. Dengan gembira Ratu berjalan-jalan di taman dan berhenti di bawah pohon Sala. Pada waktu itulah Ratu merasa perutnya agak kurang enak. Secepatnya para dayang memasang tirai di sekeliling Ratu. Ratu berpegangan pada sebatang dahan pohon Sala, dan dalam sikap berdiri itu lahirlah bayi laki-laki. Waktu itu tepat bulan purnama di bulan Waisak, tahun 623 sebelum masehi (SM).

Empat Maha Brahma menerima bayi itu dengan jaring emas. Dari langit turunlah air hangat bercampur dingin untuk memandikan anak itu, walaupun sebetulnya sang bayi sudah bersih, tanpa darah yang melekat. Bayi itu kemudian berdiri tegak, berjalan tujuh langkah. Setiap dia menapak, di bawah kakinya tumbuhlah bunga teratai, lalu Ia berkata :

"Aggo `ham asmi lokassa
jettho `ham asmi lokassa
settho `ham asmi lokassa
ayam antima jati
natthi dani punabbhavo"

artinya adalah :

"Akulah pemimpin di dunia ini
akulah tertua di dunia ini
akulah teragung di dunia ini
inilah kelahiranku yang terakhir
tak akan ada tumimbal lahir lagi".

Seorang pertapa bernama Asita (juga di sebut Kaladevala) diberitahu oleh para dewa, bahwa telah lahir seorang bayi lelaki yang kelak menjadi seorang Buddha (Yang Sadar). Maka Asita pun berangkat ke tempat bangsa Sakya. Asita melihat sang bayi memiliki 32 tanda dari seorang Mahapurisa, ialah "orang besar": Asita segera memberi hormat kepada sang bayi, lalu Raja Suddhodhana menirunya. Asita tertawa bergembira, lalu kemudian menangis. Raja bertanya, mengapa? Pertapa itu menjelaskan, dia tertawa karena senang bahwa bayi itu akan menjadi Buddha kelak, tetapi dia menangis, karena dia sudah tua, tidak akan berkesempatan turut menerima ajaran-ajaran Sang Buddha itu.

Pertapa Asita meneruskan berkata wanti-wanti agar di masa pangeran tumbuh jangan diperbolehkan melihat empat hal, jika Raja tak ingin pangeran menjadi Buddha, ialah: orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa. Jika pangeran melihat empat jenis kehidupan itu, dia pasti akan meninggalkan istana. Pada hari yang sama, lahir pula (timbul) dalam dunia ini :

  1. Yasodhara, yang kemudian juga dikenal sebagai Rahula mata (ibu dari Rahula).

  2. Ananda, yang kelak menjadi pembantu tetap Sang Buddha.

  3. Kanthaka, yang kelak menjadi kuda Pangeran Siddhartha.

  4. Channa, yang kelak menjadi kusir Pangeran Siddhartha

  5. Kaludayi, yang kelak mengundang Sang Buddha untuk berkunjung kembali ke Kanilavatthu.

  6. Seekor gajah istana.

  7. Pohon Bodhi, di bawah pohon ini Pangeran Siddhartha kelak akan mendapatkan Agung.

  8. Nidhikumbhi, kendi tempat harta pusaka.

Lima hari setelah lahirnya sang bayi, Raja Suddhodana memanggil sanak saudaranya bersama-sama 108 Brahmana untuk merayakan kelahiran anak pertamanya dan juga untuk memilih nama yang baik. Para waktu itu, Raja bertanya kepada para Brahmana yang mahir dalam ilmu ramal meramal. Tujuh dari mereka berkata bahwa, putra raja kelak akan menjadi raja dari segala raja (Cakkavati) atau akan menjadi Buddha. Seorang Brahmana termuda yang bernama Kondanna, meramalkan dengan pasti bahwa sang bayi kelak akan menjadi Buddha. Nama untuk sang bayi yang dipilih ialah Siddhartha, dengan nama keluarganya Gotama/Gautama. Siddhartha berarti: Tercapailah segala yang dicita-citakannya. Tujuh hari setelah Pangeran Siddhartha lahir, Ratu Maya meninggal dunia. Raja Suddhodhana menikah lagi dengan Putri Pajapati, yang merupakan adik dari Ratu Maya. Ratu baru ini yang kemudian diserahkan tugas untuk merawat sang bayi.

Setelah putra raja itu berumur beberapa tahun, ayahnya mengajaknya ke perayaan pesta membajak. Raja sendiri turut membajak bersama para petani. Selama perayaan berlangsung ramai, dayang-dayang juga terlena. Mereka lupa mengawasi dan menjaga Pangeran Siddhartha karena ingin menyaksikan kemeriahan pesta. Ketika kembali, mereka sangat heran melihat sang pangeran kecil sedang duduk bersila, melakukan meditasi.

Secepatnya seseorang dikirim untuk memberitahu Raja Suddhodhana. Diiringi para pengikut dan petani, datanglah rombongan berbondong-bondong menyaksikan kejadian yang aneh itu. Memanglah demikian. Sang pangeran kecil sedang bermeditasi, kaki bersila, tanpa menghiraukan sekelilingnya. Sama sekali dia tidak terusik dengan kebisingan sekelilingnya. Ditambah satu keganjilan lagi, ialah bayangan pohon jambu tempat pangeran bernaung tidak mengikuti perubahan letak matahari, melainkan tetap menaungi sang pangeran. Melihat peristiwa ini, untuk kedua kalinya sang raja memberi hormat kepada putranya itu. Waktu itu pangeran berusia tujuh tahun. Raja memerintahkan untuk membuat tiga buah kolam di istana, satu berisi teratai biru, yang satu lagi berisi teratai merah, dan yang terakhir berisi teratai putih. Raja juga mengeluarkan perintah agar kemana pun pangeran pergi, harus dilindungi sebuah payung indah, baik siang maupun malam. Itu adalah lambang keagungannya. Ketika umurnya telah mencapai masa pendidikan formal, raja mendatangkan seorang guru bernama Vissamitta. Dia harus memberi pelajaran tentang ilmu pengetahuan.

Pangeran ternyata sangat pandai, sehingga dalam waktu singkat semua ilmu yang diajarkan dia serap dengan baik. Dia juga seorang yang baik hati, selalu penuh kasih sayang kepada siapapun. Tidak hanya terhadap manusia. Pendek kata kepada semua makhluk dia selalu memperhatikan. Mengenai sifat kasih sayang ini, dikenal satu cerita yang menarik, terjadi ketika pangeran masih belum remaja.

Pada suatu hari, putra Raja Suddhodhana itu berjalan-jalan di taman istana. Sepupunya yang bernama Devadatta juga bersamanya, tetapi anak itu menyandang busur beserta anak panah. Ketika kelihatan sekelompok belibis terbang, Devadatta dengan sigap membidikkan panahnya. Seekor belibis terkena, lalu jatuh. Pangeran dan pembidik berlari-lari ke arah tempat jatuhnya korban. Tetapi anak Raja Suddhodhana tiba lebih dahulu, mengambil belibis serta memeluknya. Ternyata burung itu masih bernafas. Dengan hati-hati dan penuh kasih, pangeran mencabut anak panah, memetik beberapa lembar daun serta meremas-remasnya. Ramuan hijau itu dia tempelkan pada luka bekas panah. Devadatta datang kemudian, meminta belibis itu dengan mengatakan bahwa dia berhak memilikinya. Pangeran menjawab : "Tidak, belibis ini tidak akan kuserahkan padamu. Kalau dia mati, memang benar itu menjadi milikmu. Tapi lihatlah sekarang, dia masih hidup dan akan sembuh dari lukanya. Karena aku yang menolongnya, maka dia adalah hakku."

Devadatta tetap memprotes karena berpendapat bahwa belibis itu adalah haknya. Sedangkan Pangeran Siddhartha tetap pula pada pendiriannya. Atas usul pangeran, mereka pergi ke dewan para bijaksana, mohon agar diberikan keputusan adil pada kasus itu. Setelah kedua belah pihak didengarkan baik-baik, dewan berkata dan memutuskan : "Hidup adalah milik orang yang menyelamatkan. Hidup tidak mungkin menjadi milik orang yang mencoba menghancurkannya. Oleh sebab itu, mengikuti aturan-aturan keadilan yang berlaku, belibis ini dengan syah milik orang yang menyelamatkan jiwanya, ialah Pangeran Siddhartha."

Pada usia enam belas tahun, pangeran dibuatkan tiga buah istana oleh ayahnya.Satu istana untuk musim panas (Suramma), satu untuk musim hujan (Subha), dan satu lagi untuk musim dingin (Ramma). Ketiganya besar dan indah, lengkap dengan taman penuh bunga serta tetumbuhan lain yang lindung. Semuanya dibuat serba nyaman, penuh wangi-wangian. Kehidupan dibuat supaya senang, banyak berpesta.

Kemudian raja memberi undangan kepada para orang tua yang mempunyai anak-anak gadis. Mereka diminta mengirim anak-anak gadis tersebut ke istana, untuk berpesta, supaya sang pangeran dapat memilih seorang sebagai calon istri. Namun para orang tua mengabaikan undangan tersebut. Mereka berkata, sang pangeran tidak tahu ilmu perang, tidak mengerti nilai kesenian, bagaimana dia akan memelihara serta melindungi istrinya?

Mendengar hal itu, pangeran mohon kepada ayahnya supaya diselenggarakan sayembara mengenai keterampilan berbagai ilmu perang. Para lelaki seisi kerajaan, bahkan dari luar negara Sakya pun dibiarkan datang untuk mengikuti perlombaan. Pangeran sendiri juga akan turun ke arena pertandingan itu. Hasilnya sangat mengejutkan, karena sang pangeran yang menjadi juara. Dia amat mahir, lebih-lebih di bidang panah memanah. Sesudah perlombaan selesai, diadakan pesta besar di mana hadir kurang lebih empat puluh ribu gadis cantik. Pilihan Pangeran Siddhartha jatuh pada sepupunya sendiri, saudara sekandung Devadatta ialah Yasodhara, putri Ratu Amita, adik Raja Suddhodhana.

Setelah pernikahan itu, Raja Suddhodhana agak merasa tenang, karena ayahanda pangeran itu tetap mengingati ramalan para brahmana. Sang pangeran harus selalu dikerumuni oleh semua keindahan, kemewahan, keenakan makanan, dan kenyamanan. Raja lebih senang anaknya menjadi rajanya semua raja daripada menjadi Buddha. Dengan pernikahan, pangeran akan lebih terikat oleh keduniawian. Dan jangan sampai dia melihat orang tua; orang sakit, orang mati maupun seorang pertapa. Pengawal, dayang, dan pekerja istana lain merupakan para pemuda dan pemudi pilihan: gagah, tampan dan cantik-cantik Raja merasa puas, berharap putranya akan menggantikan dia memerintah di Kerajaan Sakya. Pangeran mempunyai pendapat sendiri tentang kehidupannya yang terkunkung di tiga istana itu. Maka pada suatu hari dia berkata pada ayahnya : "Ayah, perkenankanlah aku berjalan-jalan, keluar istana dan melihat kota. Suatu hari kelak, bukankah aku akan menggantikan ayah menjadi raja di negeri ini? Aku ingin melihat berapa luasnya ibukota dan tempat-tempat lain di lingkungan kerajaan."

Itu adalah permohonan yang lumrah, masuk akal. Baginda raja tidak mampu menolaknya. Cepat-cepat dia memerintahkan supaya bagian kota dan negeri yang akan dilewati pangeran di buat bagus. Disiapkan rakyat yang sehat, yang muda, dan yang bukan pertapa. Hanya mereka yang akan terlihat oleh sang pangeran.

Setelah semua siap, raja memberi ijin pangeran untuk keluar istana, berkeliling kota. Namun suratan ramalan tidak dapat disangkal.

Tiba-tiba, ketika sedang duduk nyaman di keretanya, pangeran melihat sesuatu yang buruk. Seperti manusia, namun baru kali ini dia melihatnya. Dia bertanya kepada kusirnya, Channa : "Apakah itu, Channa? Tidak mungkin itu seorang manusia! Mengapa dia bongkok? Mengapa dia gemetar dan memakai tongkat? Rambutnya mengapa begitu? Dan giginya, kemana giginya? Mengapa dia demikian jelek?"

Channa menjelaskan apa yang dia ketahui. Sedapat mungkin halus dan perlahan-lahan dia berkata-kata, agar sang pangeran tidak terkejut:"Itulah yang dinamakan orang tua, pangeran. Semua orang akan menjadi demikian. Sebaiknya tuanku lupakan saja dia! Tuan ketahui sajalah, bahwa kalau orang sudah lama hidup di dunia, tentu akan menjadi seperrti itu."

Siddhartha menjadi sedih, memerintahkan Channa supaya cepat pulang ke istana. Di sana dia merenung, bertanya-tanya sendiri mengapa demikian. Mengapa manusia menjadi tua? Bukankah lebih baik jika terus muda dan tampan? Dimatanya dia tetap melihat bayangan orang yang berbadan nyaris terlipat dua, renta semuanya. Malam itu diselenggarakan pesta besar guna menghibur sang pangeran. Tapi putra raja bangsa Sakya tidak mempedulikan keramaian dan kemewahan itu. Meskipun hadir ditengah-tengah para pengikut pesta, hatinya tidak berhenti selalu berkata seorang diri : "Kalian semua akan menjadi tua. Semuanya, yang paling cantik dan yang paling gagah sekalipun akan memiliki tubuh yang aus."

Kedua kali dia minta ijin kepada ayahnya untuk berjalan-jalan di kota Kapilavastthu. Raja dengan berat hati terpaksa mengabulkan. Namun putranya mohon agar penduduk tidak diberitahu lebih dahulu. Walaupun hatinya sedih, raja mengizinkan, memenuhi permohonan tersebut.

Pada kesempatan itu, pangeran pergi bersama Channa saja, berpakaian seperti anak keluarga bangsawan. Pemandangan yang tersuguh amat berlainan dari kali peftama dia keluar istana. Penduduk tidak berbondong-bondong mengelu-elu kedatangannya. Umbul-umbul dan bendera tidak menghiasi pinggiran jalan. Bunga-bunga tidak disebarkan. Tapi pangeran dapat melihat penduduk sedang bekerja sibuk sekali. Seorang pandai besi berpeluh menempa sebuah pisau. Tidak jauh dari sana, para pencelup bahan kain sedang memanaskan beberpa tampayan di atas api, aneka warna-warni mendidihkan kain-kain panjang. Agak tersisih, terdengar suara rintihan. Jelas sekali orang itu merasa sakit. Hati pangeran tersentuh, dia mendekat, lalu melihat badan orang itu penuh noda-noda berwarna unggu kehitaman. Tangannya terulur menyentuh kepala orang itu, bertanya kepada Channa : "Channa, mengapa dia? Dia sukar bernafas, apakah dia tidak dapat berbicara?" "Jangan tuanku, jangan menyentuh orang ini! Dia sedang menderita sakit. Penyakit itu namanya pes. Dia merasa tubuhnya terbakar, sebab itu dia merintih. Karena sangat sakit, dia tidak dapat berbicara."

"Apakah ada orang lain yang seperti dia?"

"Ada, dan jika tuanku menyentuhnya, barangkali tuanku akan ikut sakit seperti dia."

"Channa, masihkah banyak lagi hal-hal buruk seperti ini yang sama, orang menderita sakit sehingga badannya tidak berguna?"

"Benar tuanku, masih banyak lagi penyakit lain yang menyerang manusia di dunia ini."

"Tidak adakah orang yang dapat menolong orang sakit seperti ini? Apakah semua orang, siapapun bisa sakit? Apakah penyakit itu bisa datang secara tiba-tiba?"

"Betul, tuanku, penyakit dapat menyerang dengan mendadak. Dan semua orang bisa sakit, tidak memilih tua atau muda, kaya atau miskin. Tidak ada yang dapat mencegah, serta bisa datang sewaktu-watktu."

Pangeran menjadi amat sedih, segera kembali ke istana untuk merenungkan hal itu. Raja turut muram pula setelah mengetahui reaksi putranya terhadap hal-hal baru yang telah dilihatnya. Berselang beberapa hari, putra itu memohon lagi ijin untuk....

....klai makan sedikit demi sedikit. Akibatnya, lima "rekan pertapa" menganggap bahwa dia seorang pecundang, gagal dan tidak setia dengan teknik-teknik yang telah diajarkan. Mereka meninggalkan Sang Gotama seorang diri.

Pada suatu hari serombongan penari ronggeng lewat dekat gubuk pertapa Gotama. Sambil berjalan mereka bergurau dan bergembira dan seorang diantaranya bernyanyi dengan syair sebagai berikut: "Kalau tali gitar ditarik terlalu keras, talinya putus, lagunya hilang. Kalau ditarik terlalu kendor, ia tak dapat mengeluarkan suara. Suaranya tidak boleh terlalu rendah atau keras. Orang yang memainkannya yang harus pandai menimbang dan mengira."

Mendengar nyanyian itu, pertapa Gotama mengangkat kepalanya dan memandang dengan heran kepada rombongan penari ronggeng tersebut. Dalam hatinya ia berkata : "Sungguh aneh keadaan di dunia ini bahwa seorang Bodhisatta (calon Buddha) mesti menerima pelajaran dari seorang penari ronggeng. Karena bodoh, aku telah menarik demikian keras tali penghidupan, sehingga hampir-hampir saja putus. Memang seharusnya aku tidak boleh menarik tali itu terlalu keras atau terlalu kendor."

Di dekat tempat itu tinggal pula seorang wanita muda kaya raya bernama Sujata. Sujata ingin membayar kaul kepada dewa pohon karena permohonannya supaya diberi seorang bayi laki-laki terkabul. Hari itu Sujata mengirim pelayannya ke hutan untuk membersihkan tempat di bawah pohon di mana ia ingin mempersembahkan makanan yang lezat-lezat kepada dewa pohon. la agak terkejut waktu pelayannya dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan:"O, nyonya, dewa pohon itu sendiri telah datang dari kayangan untuk menerima langsung persembahan nyonya. Beliau sekarang duduk bermeditasi di bawah pohon. Alangkah beruntungnya bahwa dewa pohon berkenan untuk menerima sendiri persembahan nyonya."

Sujata gembira sekali mendengar berita itu. Setelah makanan selesai dimasak, berangkatlah Sujata ke hutan. Sujata merasa kagum melihat dewa pohon dengan wajah yang agung sedang bermeditasi. la tidak tahu, bahwa orang yang dikira sebagai dewa pohon sebenarnya adalah pertapa Gotama. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama yang dikira Sujata adalah dewa pohon.

Pertapa Gotama menyambut persembahan itu. Setelah selesai makan, terjadilah percakapan antara pertapa Gotama dan Sujata seperti di bawah ini :

"Dengan maksud apakah engkau membawa makanan ini?"

"Tuanku yang terpuja, makanan yang telah aku persembahkan kepada Tuanku adalah cetusan rasa terima kasihku karena Tuanku telah meluluskan permohonanku agar dapat diberi seorang anak laki-laki."

Kemudian pertapa Gotama menyingkap kain yang menutupi kepala bayi dan meletakkan tangannya didahinya sambil memberi berkah :

"Semoga berkah dan keberuntungan selalu menjadi milikmu. Semoga beban hidup akan engkau terima dengan ringan. Aku bukanlah dewa pohon, tetapi seorang putra raja yang telah enam tahun menjadi pertapa untuk mencari sinar terang yang dapat dipakai untuk memberi penerangan kepada manusia yang berada dalam kegelapan. Aku yakin dalam waktu dekat ini Aku akan berhasil memperoleh sinar terang tersebut. Dalam hal ini persembahan makananmu telah banyak membantu, karena sekarang badanku menjadi kuat dan segar kembali. Karena itu dengan persembahan ini engkau akan mendapat berkah yang sangat besar. Tetapi, adikku yang baik, coba katakan, apakah engkau sekarang bahagia, dan apakah penghidupan yang disertai cinta saja sudah memuaskan?"

"Tuanku yang terpuja, karena aku tidak menuntut banyak maka hatiku dengan mudah mendapatkan kepuasan. Sedikit tetesan air hujan sudah cukup untuk memenuhi mangkuk bunga Lily, meskipun belum cukup untuk membuat tanah menjadi basah. Aku sudah merasa bahagia memandang wajah suamiku yang sabar atau melihat senyum bayi ini. Setiap hari, dengan senang hati aku mengurus pekerjaan rumah tangga, memasak, memberi sajen kepada para dewata, menyambut suamiku pulang dari pekerjaan; apalagi sekarang dengan dilahirkannya seorang anak laki-laki yang menurut buku-buku suci akan membawa berkah kalau kelak kami meninggal dunia. Juga aku tahu bahwa kebaikan datang dari perbuatan baik dan kemalangan datang dari perbuatan jahat yang berlaku bagi semua orang dan pada setiap waktu, sebab buah yang manis muncul dari pohon yang baik dan buah yang pahit muncul dari pohon yang penuh racun. Apa yang harus ditakuti oleh orang yang berkelakuan baik kalau nanti tiba saatnya mesti mati?"

Mendengar penjelasan Sujata maka pertapa Gotama menjawab :

"Kau sudah mengajar kepada orang yang seharusnya menjadi gurumu; dalam penjelasanmu yang sederhana itu terdapat sari dari kebajikan yang lebih nyata dari kebajikan yang tinggi; meskipun engkau tidak belajar apa-apa, namun engkau tahu jalan kebenaran dan menyebar keharumanmu ke semua pelosok. Sebagaimana engkau telah mendapat kepuasan, semoga aku pun akan mendapatkan apa yang aku cari. Aku, yang engkau pandang sebagai seorang dewa, minta didoakan supaya aku dapat berhasil melaksanakan cita-citaku."

"Semoga Tuanku berhasil mencapai cita-cita Tuanku sebagaimana aku berhasil mencapai cita-citaku." Pertapa Gotama kemudian melanjutkan perjalanan dengan membawa mangkuk kosong. la menuju ke tepi sungai Neranjara dalam perjalanannya ke Gaya. Tiba di tepi sungai pertapa Gotama melempar mangkuknya ke tengah sungai sambil berkata: "Kalau memang waktunya sudah tiba mangkuk ini akan mengalir melawan arus dan bukannya mengikuti arus."

Satu keajaiban terjadi karena mangkuk itu ternyata mengalir melawan arus. Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya dan pada sore hari tiba di Gaya. la memilih tempat untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (latin: Ficus Religiosa), kemudian mempersiapkan tempat duduk di sebelah tiimur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari seorang pemotong rumput yang bernama Sotthiya. Di tempat itulah pertapa Gotama duduk bermeditasi dengan wajah menghadap ke timur dengan tekad yang bulat. Selama bermeditasi itu, sang pertapa tidak terlepas dari godaan-godaan. Kekuatan kejahatan dan keburukan silih berganti mengancam serta mempermainkan dia. Namun semua itu tidak menggetarkan Sang Gotama. Malam semakin larut, segalanya bergegas. Seolah-olah semua makhluk di hutan itu mengerti bahwa kemenangan atas ketidaktahuan nyaris akan .digapai oleh seseorang yang bakal mashyur dair abad ke abad dengan nama Buddha Sakyamuni, Gotama yang telah bangun. Malam itu sang pertapa agung menemukan bahwa penjara ketidaktahuan (ignorance) harus dirobohkan. Manusia harus mawas diri, meneliti ke kedalaman diri sendiri (insight). Dengan penelitian tanpa batas ke dalam diri sendiri tersebut, manusia akan mengerti bahwa dia hanya terdiri dari kesatuan jasmani, pikiran, perasaan, ingatan dan kesadaran. Kesemua bagian itu harus dikendalikan agar tidak terkena polusi atau pencemaran. Pendalaman terhadap diri sendiri (insight) berguna untuk meniadakan pencemaran itu (asavakkhaya-nana).

Pencemaran pertama ialah kesenangan-kesenangan nafsu, pandangan, pendengaran, penciuman, rasa (melalui lidah), rasa sentuhan (melalui kulit) dan kenangan (melalui pikiran). Yang kedua adalah kesinambungan hidup; selalu mendambakan kehidupan yang terus menerus (abadi) tanpa pengalaman tumimbal lahir (reinkarnasi), tanpa sakit, tanpa tua, atau kematian, serta selalu mendapatkan kesenangan-kesenangan sensual. Pencemaran ketiga adalah sesungguhnya yang paling mendasar; kebodohan, atau tepatnya mengetahui secara keliru/pandangan salah tentang kehidupan ini.

Pagi-pagi keesokannya, ketika udara lembut sejuk serta terang, bukanlah fajar lumrah di hari-hari musim panas biasanya. Merekahnya langit di timur saat itu merupakan era baru. Seseorang yang telah mencapai pencerahan sempurna pada saat bulan purnama di bulan Vaisak, yang telah menemukan Dhamma bagi makhluk-makhluk di dunia ini, Beliau telah bangkit dari bawah pohon Bodhi. Gotama, Sang Buddha telah terbebas dari segala sumbatan, belenggu, dan dari segala keterbatasan.

Kebijaksanaan yang agung telah berkembang. Tapi Sang Gotama pencapai pencerahan tidak percaya bahwa semua orang, siapa saja akan mudah menerima ajaran-ajaran beliau. Maka untuk memberitahu berita tentang kebenaran itu, Beliau memutuskan untuk menemui bekas guru-gurunya. Namun kemudian diketahui, bahwa Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta telah meninggal dunia. Lalu Beliau teringat kepada lima rekan pertapanya yang telah menganggap Sang Gotama sebagai orang yang telah gagal. Konon mereka berada di Taman Rusa, di Benares.

Disanalah Sang Buddha mengajarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Mulai hari itu hingga empat puluh lima tahun kemudian, Beliau terus mengajar pria dan wanita, para raja beserta para petani, orang yang berkasta Brahmana berdampingan dengan mereka yang berkasta paling rendah, orang-orang kaya dan miskin, para pertapa dan para perampok. Beliau tidak membedakan satu dari lainnya, semua berkedudukan sama rendah maupun sama tinggi. Sang Buddha membuat sebuah revolusi sosial dengan menerima kaum perempuan hingga menjadi Bhikkhuni serta mampu mencapai tingkat kesucian dan berhak berkotbah maupun mengajar.

Pada usia delapan puluh tahun, Sang Buddha meninggal di Kusinara (sekarang Uttar Pradesh di India). Waktu itu bulan purnama di bulan Vaisak. Saatnya sama seperti saat kelahiran Pangeran Siiddhartha Gotama, dan sama seperti saat memcapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha.

Dimasa kini, penganut ajaran Buddha tersebar di Sri lanka, Myammar, Thailand, Kamboja, Jepang, Cina, Vietnam, Tibet, Taiwan, Monggolia, Korea, beberapa bagian negara India, Pakistan, Nepal, Rusia, Indonesia, Amerika, dan Eropa. Umat Buddha di seluruh dunia itu berjumlah sekitar lima ratus juta jiwa.

 

[Sumber: Buku "Riwayat Hidup Buddha Gotama", Pandita. S. Wldyadharma; Buku "Panggilan Dharma Seorang Bhikkhu", Biografi dari YM. Girirakkhito Mahathera, Penyusun: Nh. Dini.]

 

 

Hits: 117