Category: Damainya Meditasi Published: Saturday, 09 December 2017

Seeding The Heart : Lovingkindness With Children
Oleh : Gregory Kramel

 

Sejak anak sulung saya mencapai usia yang cukup besar untuk mengerti percakapan, saya telah mempraktekkan meditasi Lovingkindness bersamanya setiap malam di saat menjelang waktu tidur. Saya juga melakukan hal yang sama dengan kedua anak saya yang lain. Hal tersebut telah berlangsung sekitar enam belas tahun. Saya akan merasa gembira apabila dapat berbagi beberapa hal yang telah saya pelajari.

Lovingkindness adalah sejenis latihan meditasi yang diajarkan oleh Buddha untuk mengembangkan kebiasaan mental yang tidak mementingkan diri sendiri atau selalu mementingkan orang lain. Dengan membangkitkan dalam diri kita perasaan untuk berkehendak baik kepada diri sendiri, kepada orang-orang yang dekat dengan kita, dan kepada semua makhluk hidup, kita akan menjadikan perasaan-perasaan tersebut bangkit dibandingkan perasaan-perasaan lain yang tidak diinginkan atau buruk. Kebencian tidak dapat berdampingan dengan cinta kasih; kemarahan akan terhalau dan hilang jika kita menggantikan pikiran yang berakar dalam kemarahan dengan pikiran yang berakar dalam kasih.

Lovingkindness menjadikan pikiran lebih lembut, menghindari munculnya penilaian kita yang lebih dapat menerima kita sendiri dan yang lainnya, dan hal itu membuat kita dapat menghindari keegoisan kita sendiri. Pergerakan keluar seperti ini sangat penting dalam praktek meditasi untuk mengimbangi perhatian ke dalam. Keuntungan dari praktek Lovingkindness sangat besar bagi orang-orang yang mempratekkan meditasi tersebut. Hal itu menawarkan kepada kita semua suatu kesempatan untuk menemukan jati diri yang tidak mementingkan diri sendiri, kegembiraan, kemampuan untuk beradaptasi, dan kemampuan untuk berpikir lebih luas. Hal tersebut sungguh merupakan praktek universal yang tidak perlu diasosiasikan dengan konsep-konsep keagamaan yang tertentu.

Saya selalu memberikan ketiga putra saya sebuah pilihan. Kebanyakan pada setiap malamnya mereka dengan sadar mau melakukan hal ini. Jika pada suatu saat, salah seorang dari mereka sedang ngambek atau kecewa, saya akan berkata “Maukah kamu melakukan lovingkindness malam ini?” dan jika jawabannya adalah tidak, maka saya akan berkata, “Ok, sayang,” memberikan dia sebuah ciuman (dari atas selimutnya jika perlu), dan mengucapkan selamat malam. Jadi mereka mengerti bahwasannya hal tersebut adalah untuk mereka. Jika mereka melihat bahwa saya tidak tersinggung dikala mereka menolak melakukan hal itu –itu tidak melukai perasaan saya- maka hal itu akan menjadi sesuatu yang hidup dan merupakan bagian dari kehidupan mereka. Hal itu juga akan mencegah agar meditasi itu tidak menjadi sebuah ritual yang tanpa arti.

Perasaan baik ketika melakukan meditasi ini adalah apa yang dapat mereka bawa ke dalam kehidupan mereka. Mereka mengasosiasikan kegembiraan dan kedamaian mereka sendiri dengan meditasi yang mengharapkan kebahagiaan dan kedamaian bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

Hal itu terasa bagus karena praktek tersebut telah menjadi salah satu kebahagiaan keluarga kami setiap malamnya, sama halnya dengan bercerita dan ketika saya berbaring bersama mereka. Hal tersebut merupakan waktu yang istimewa bagi perhatian, kelembutan, fantasi, keterbukaan pikiran dan cinta kasih keluarga.

Itu menginspirasi saya ketika saya mengetahui bagaimana mereka merasakan praktek ini, jika dalam suatu waktu terjadi ketegangan, seperti sedang berargumen, mereka masih tetap mau mempratekkan Lovingkindness ini. Pada saat-saat seperti inilah sungguh suatu kesenangan dan kebersamaan dan asosiasi dari meditasi Lovingkindness menjadi sebuah nilai yang sangat unik.

Saya telah lama mengharapkan datangnya hari dimana putra sulung saya, yang sekarang telah berumur delapan belas tahun tidak mau mempraktekkan itu lagi. Bahkan ketika saya mempersiapkan diri untuk menerima hal ini, dia dan saya memperoleh keuntungan dari hubungan yang kita rasakan pada waktu menjelang tidur (dan tentunya pada saat-saat yang lain). Tekanan-tekanan yang dialami pada masa-masa remajanya dan tuntutan kebebasannya yang semakin berkembang merupakan suatu tantangan tersendiri pada saat itu, tapi hubungan yang sangat special ini sangatlah kuat. Sekarang saya menemukan hubungan yang sama dengan putra kedua saya pada saat dia memasuki masa remajanya.

Apa yang kemudian terjadi ketika putra sulung saya mencapai umur enam belas tahun, bahwa saya menjadi lebih sibuk dengan kedua adiknya disaat menjelang tidur dan beliau mengerti untuk tidak menuntut kehadiran saya pada saat pratek tersebut. Setiap kalinya ketika saya bertanya kepadanya apakah dia masih mempratekkan Lovingkindness sendirian, dan saya senang menemukan bahwa dia masih melakukan hal itu.

Sekarang, saya harus menjelaskan bahwa semua ini memerlukan banyak waktu. Cerita (biayanya dikarang sendiri dari pada dibaca), meditasi Lovingkindness, dan waktu “bersama” dapat berlangsung hingga dua puluh atau tiga puluh menit. Dengan anak-anak yang berada di kamar yang terpisah, ini dapat berlangsung hingga satu jam setiap malamnya. Bagaimana baik dan indahnya hal tersebut, ada kalanya saya tidak dapat melakukan hal itu. Dan perlu untuk diketahui bahwa sebuah praktek yang hanya berlangsung lima menit sekalipun mempunyai nilai yang sangat besar.

Yang menarik, ketika saya sedang sibuk anak-anak masih mengharapkan “Lovingkindness cepat”, bahkan sebelum cerita atau waktu “bersama”. Ketika saya harus pergi, mereka melakukannya cukup baik tanpa saya. Inilah bagaimana kita seharusnya melakukan latihan Lovingkindness. Saya meminta mereka untuk menutup mata merekanya dan bersantai. Saya menyarankan agar mereka memberi perhatian kepada sensasi tubuh mereka. Kemudian, mereka berpikir bersama saya selagi saya mengatakan sebagai berikut :

Kirimkan cinta kasih kepada dirimu sendiri.
Benar-benar mencintai dirimu sendiri.
Mengingkan dirimu sendiri menjadi gembira.

Pikirkan :

Saya mencintai diri saya sendiri.
Semoga saya bebas dari kemarahan.
Semoga saya bebas dari kesedihan.
Semoga saya bebas dari kesakitan.
(Saya benar-benar mau bebas dari kesakitan)
Semoga saya bebas dari kesulitan.
Semoga saya bebas dari semua penderitaan.
Semoga saya selalu sehat.
Semoga badan saya tetap sehat dan kuat.
Semoga saya dipenuhi cinta kasih.
Semoga saya berbahagia.
Semoga saya benar benar berbahagia.
Semoga saya dalam kedamaian.

Saya memancarkan cinta kasih ini kepada sesama.
Saya tujukan cinta kepada Papa dan Mama.
Semoga Papa dan Mama bebas dari kesulitan.
Semoga mereka bebas dari rasa sakit dan sedih.
Semoga mereka bebas dari keterikatan, bebas dari kemarahan dan keinginan jahat.

Semoga mereka bebas dari semua penderitaan.
Semoga Mama dan Papa dalam keadaan sehat dan bahagia.
Benar-benar sehat dan bahagia.
Semoga mereka dalam kedamaian.

Saya tujukan cinta kasih kepada kedua saudara saya.(diubah seperlunya)
Semoga mereka bebas dari kesedihan dan kemarahan.
Semoga mereka bebas dari kesakitan.
Semoga mereka bebas dari semua penderitaan.
Semoga mereka bahagia dan bebas.
Bebas dari penderitaan, bebas dari segala kesulitan.
Semoga mereka dalam keadaan baik dan bahagia.
Semoga mereka dalam kedamaian.

Saya tujukan cinta kasih kepada guru-guru saya dan teman-teman disekolah.
(bahkan mereka yang tidak saya kenal)
Semoga mereka bebas dari dukacita dan penderitaan.
Semoga mereka bebas dari kemarahan dan segala kesulitan.
Semoga mereka berbahagia.
Bebas dari segala kesulitan dan kesedihan.
Semoga mereka dalam keadaan baik dan bahagia.
Semoga mereka dalam kedamaian.

Sekarang saya tujukan cinta kasih kepada semua orang yang tidak saya kenal – dimana saja yang ada di bumi.
Semoga semua makhluk hidup di planet ini bebas dari penderitaan.
Semoga mereka bebas dari rasa sakit, duka dan putus asa.
Semoga mereka berbahagia, Benar-benar bahagia.
Semoga mereka dalam kedamaian
Semoga semua makhluk di dunia bebas dari penderitaan.
Semoga semua makhluk di alam semesta, dimana saja, bebas dari penderitaan.
Semoga mereka sehat dan bahagia.
Semoga mereka dalam kedamaian.

Semoga semua makhluk dari segala jenis, diseluruh arah dapat berbahagia dan dalam kedamaian.
Yang berada diatas dan dibawah, Dekat dan jauh, Tinggi dan rendah.
Semua jenis kehidupan, Manusia dan bukan Manusia.
Yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.
Semua hewan, burung dan ikan-ikan.
Semua bentuk kehidupan dan makhluk, Tanpa terkecuali.
Semoga mereka semua berbahagia.
Semoga mereka menjadi bebas.

Saya membuka hati saya
Dan menerima semua cinta kasih dari semua bentuk kehidupan dan makhluk untuk kebalikannya.
Saya biarkan kasih itu ke dalam hati saya.
Dan saya membagikan semua keuntungan dari meditasi ini dengan semua orang.

Semoga semua makhluk sehat & bahagia.
Semoga semua makhluk sehat & bahagia.
Semoga semua makhluk sehat & bahagia.

Semoga mereka dalam kedamaian.
Semoga mereka dalam kedamaian.
Semoga mereka dalam kedamaian.

Setelah meditasi, setiap anak mendapat ciuman dan “I Love You”. Saya berbaring sebentar dan kemudian meninggalkan mereka.

Praktek ini sedikit berbeda dari yang saya lakukan dengan murid-murid meditasi saya yang lebih dewasa. Terdapat nuasa yang saya selaraskan dengan umur dan mood, untuk membuat meditasi menjadi apa yang anak-anak rasakan secara langsung dan secara emosional. Sejalan dengan pertumbuhan mereka menjadi dewasa dan dunia mereka yang berkembang, cakupan dari meditasi dapat berkembang dan masih tetap selaras dengan dunia mereka tersebut.

Sejak semula dengan beberapa instruksi dari praktek itu sendiri, saya menyusun latar belakang dan moodnya. Hal ini menciptakan sebuah transisi dari mendengarkan sebuah cerita ke memperhatikan perasaan mereka dan kemudian mengembangkan perasaan tersebut kepada kasih. Penyesuaian yang lain adalah bahwa setiap orang, kelompok atau wilayah dimana Lovingkindness ditujukan menggunakan kata-kata yang sedikit berbeda. Saya tidak mau praktek ini menjadi apa yang dihapal tanpa berpikir. Dengan menghindari pengulangan, kita menjadikan meditasi tersebut menjadi tetap hidup dan relevan.

Kemudian, kita mengembangkan perasaan kasih pada daerah yang paling subur; secara logika adalah orang-orang yang paling dekat dan paling kita cintai (atau hewan atau tanaman). Anak-anak mendapatkan perhatian yang paling banyak, berdasarkan kenyataan bahwa kita semua ingin bebas dari kesakitan dan kesulitan. Ketika kita tahu bagaimana kita merasakan perasaan-perasaan tersebut, kita dapat menyebarkan perasaan tersebut dengan identifikasi dan pengertian kepada orang lain. Bagaimanapun juga, mereka hanya seperti kita dan ingin bebas dari kesakitan, ketidaknyamanan dan penderitaan yang lain.

Kita menyebarkan cinta kasih kepada diri kita sendiri, kepada seseorang yang sangat kita cintai (Papa dan Mama), kepada mereka yang kita cintai (saudara saudara kita), dan kepada mereka yang kita sukai (teman-teman kita di sekolah) atau sedikitnya kepada mereka yang kita anggap netral (para guru, atau anak-anak yang lain), dan kepada semua makhluk. Dengan orang yang lebih dewasa, praktek ini dimulai dari diri kita sendiri kepada orang yang kita cintai, kemudian kepada orang yang netral, dan kemudian kepada seseorang yang kita benci, kemudian kepada orang-orang yang lebih jauh berdasarkan letak geografis. Dengan anak-anak, kita secara perlahan-lahan mengembangkan dunianya; kita tidak seharusnya memaksa mereka. Ketika mereka siap, kita tujukan cinta kasih terhadap orang-orang yang pernah membuat mereka jengkel. Bahkan kepada putra bungsu sayapun sering menambahkan orang yang pernah membuatnya marah. Dengan putra saya yang berumur tiga belas tahun, kami sering melakukan hal seperti itu, walaupun dia terlihat sedikit merasa kecewa pada yang lain.

Selalu ada elemen improvisasi jika saya melakukan hal ini. Jika saya melihat bahwa anak-anak secara khusus berada dalam suatu tempat yang mereka sukai, saya akan lebih terfokus untuk mengembangkan kasih pada guru-guru mereka. “Semoga mereka benar-benar dapat bebas dari kesulitan dan penderitaan.” Ini akan membantu mereka untuk melihat guru mereka sebagai manusia biasa, yang dapat merasakan kekecewaan, dengan kehidupan diluar kelas, dan tidak dapat terhindar dari kesalahan dan emosi. Saya juga menfokuskan cinta kasih yang lebih besar kepada seseorang yang membutuhkannya, seperti seorang nenek yang sakit. Dengan demikian, anak-anak tersebut dapat dibantu melihat bahwa ketika dimana ada kebutuhan, kamu melangkah keluar dari dirimu sendiri, dan kamu memberikan lebih banyak.

Di dalam menyebarkan cinta kasih secara geografis, saya mencoba untuk berjalan dalam koridor yang akhirnya menjadi sejenis latihan mental (‘Dimana kota tersebut?” “Benua apa itu?”) dan usahakan melakukannya secara umum supaya tidak menimbulkan perasaan yang berlebihan (“Oh, kita menyebarkan sesuatu yang tidak begitu dimengerti oleh saya, saya hanya akan berbaling di sini.”) Hal ini akan tumbuh dalam suatu pengalaman sesuai dengan umur yang bertambah.

Tapi seseorang harus lebih berhati-hati agar tidak menjadikan ini sejenis pelajaran geografis, walaupun menggugah sedikit rasa ingin tahu sebenarnya tidak apa-apa (“Saya memancarkan cinta kasih ke seluruh Asia, Afrika, Australia; melewati seluruh samudera kepada seluruh makhluk yang ada di lautan”). Perasaan penyebaran sangatlah dominan disini, dari saya, kepada mereka, kepada semua yang berada di bumi, dan kepada semua yang ada di jagad raya, kepada semua makhluk di seluruh arah tanpa terkecuali. Ini akan membantu hati untuk tumbuh dan melunak. Hal ini akan membawa anak-anak (atau kita) keluar dari (keegoisan) mereka sendiri dengan cara yang lembut.

Ada pula pertanyaan yang muncul dari anak-anak yang tidak saya dapatkan dari orang dewasa, seperti ketika putra bungsu saya ingin mengirimkan cinta kasih kepada “Yellow Blankie”. Pertama-tama saya katakan kepadanya bahwa Yellow Blankie tidak mempunyai kesadaran. Jawaban ini tidak memuaskannya. Kemudian saya katakan bahwa kita telah mengirimkan cinta kasih kepada Yellow Blankie, istilah “semua makhluk” dapat termasuk teman bonekanya jika putra saya memilih hal itu. Bagaimanapun juga, ketika kita mulai mempratekkan Lovingkindness, hal itu berlangsung seperti ini :

Saya : “Saya pancarkan cinta kasih untuk papa dan mama....”
Anak saya : “.... dan Yellow Blankie”
Saya : “Oke, dan Yellow Blankie”

Sejalan dengan semakin dewasanya putra sulung saya dan pengertian emosinya semakin bertambah, saya secara berhati-hati memperluas meditasi tersebut. Belas kasih adalah perpanjangan tangan dari cinta, di mana lebih jauh dari lintasan ini kita beranjak melebihi diri kita sendiri untuk menjangkau orang lain sehingga putra sulung saya mudah-mudahan, seperti yang diinstruksikan, setelah mengirimkan cinta kasih kepada semua makhluk, membiarkan dirinya sendiri merasakan penderitaan orang lain, membiarkan hatinya merasakan kesakitan orang lain. Hal ini dilakukan secara lembut dan tidak dipaksakan. Dalam hal inilah akan tumbuh suatu sikap saling menghormati dan kedewasaan yang dapat dia rasakan, sekalipun secara tidak kentara, menjadi mampu untuk bertumbuh dalam prateknya dengan cara ini.

Saya tidak dapat mengatakan dengan pasti, tapi harapan saya adalah bahwa cinta kasih ini dapat tumbuh sejalan dalam diri putra-putra saya ketika mereka memasuki dunia masa muda mereka yang lebih kaya dan kompleks lebih jauh lagi, sehingga hal itu juga akan berfungsi sebagai penyeimbang terhadap arogansi dan penilaian yang tidak dapat dihindarkan. Saya sungguh berharap agar mereka dapat mengembangkan cinta kasih kepada orang kurang beruntung yang bila dibandingkan dengan mereka, orang-orang yang kekurangan makanan, pakaian dan perumahan, orang-orang yang berada didaerah peperangan, atau daerah yang terjangkit suatu wabah penyakit. Dalam lingkungan kita yang serba nyaman, dimana banyak dari kita tidak pernah melihat secara langsung penderitaan itu. Saya ingin secara aktif menanamkan kapasitas dari welas kasih. Welas kasih itu sendiri akan tumbuh sejalan dengan pengalaman-pengalaman mereka.

Saya akan mencoba untuk melakukan hal ini dengan tidak terlalu terikat pada suatu hasil atau proses itu sendiri. Jika anak-anak saya memutuskan mereka tidak ingin melakukan ini lagi, saya hrap saya dapat menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar. Tetapi untuk sekarang, seperti enam belas tahun yang lalu, mereka menghargai latihan Lovingkindness ini.

 

[Sumber Asli: Seeding The Heart. Diterbitkan Dalam Bahasa Indonesia Pertama Sekali Oleh Bodhi Buddhist Centre Indonesia atas izin dari Gregory Kramel.]

 

 

Hits: 88