Category: Goresan Kebenaran Published: Sunday, 28 January 2018

Manfaat Pelimpahan Jasa
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Mahathera

 

Di dalam tradisi kita sebagai umat Buddha, memperingati upacara kematian atau memperingati saat-saat kematian orang yang kita sayangi, saat-saat wafat orang yang kita cintai sesungguhnya telah dimulai sejak jaman Sang Buddha. Tentu saja bukan hanya dengan mengirim makanan, mengirim pakaian kepada orang tua atau almarhum. Ada beberapa hal yang memang diajarkan oleh Sang Buddha dalam upacara peringatan kematian seperti hari ini. Ada dua cerita yang berkembang dalam masyarakat Buddhis. Cerita yang pertama telah sering kita dengar yaitu cerita seorang murid Sang Buddha yang paling sakti, yang paling hebat, bernama Bhante Moggalana. Dalam bahasa Mandarin, cerita ini dikenal sebagai Mu Lien Ciu Mu (Y.M. Moggalana menolong ibunya). Cerita inilah yang paling dikenal masyarakat luas. Padahal cerita itu tidak terdapat dalam Tripitaka. Menurut cerita ini, pada waktu sedang bermeditasi, Bhante Moggalana mempergunakan kemampuan batinnya untuk melihat alam-alam lain selain alam manusia. Memang bagi kita yang sudah biasa melatih meditasi, sebetulnya melihat alam lain bukanlah sesuatu hal yang luar biasa. Melihat alam surga, melihat alam neraka bukanlah sesuatu yang sulit. Surga 26 tingkat pun bisa dilihat satu demi satu. Tidak ada masalah. Pada waktu itu Bhante Moggalana melihat surga, tempat para dewa dan dewi yang lebih dikenal orang dengan istilah 'malaikat'. Selain itu, beliau juga melihat ke alam-alam menderita, alam setan, setan raksasa yang kita sebut Asura, setan kelaparan atau alam peta dan juga alam neraka. Bhante Moggalana dengan prihatin melihat alam-alam menderita yang sangat menyedihkan ini.

Read more: Manfaat Pelimpahan Jasa

Category: Goresan Kebenaran Published: Sunday, 28 January 2018

Manfaat Menjadi Bhikkhu
Oleh : Edi Kurniawan

 

Tiap orang memiliki pandangan-pandangan berbeda tentang seorang Bhikkhu. Jika ditinjau dari umur, pendapat remaja lain dengan pendapat orang dewasa. Remaja berpendapat bahwa menjadi bhikku berarti mencukur rambut mengenakan jubah, melaksanakan sila-sila, dan mengendalikan hawa nafsu. Ini tak sesuai dengan jiwa meraka. Jiwa yang penuh dengan gejolak nafsu. Sangat sulit bagi mereka yang mengendalikan nafsu keinginan. Bagi mereka, masa remaja harus diisi dengan kesenangan-kesenangan dan pergaulan. Menjadi Bhikkhu adalah urusan di hari tua nanti.

Read more: Manfaat Menjadi Bhikkhu

Category: Goresan Kebenaran Published: Saturday, 27 January 2018

Manfaat Ke Vihara
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Mahathera

 

Jikalau kita renungkan, setiap tahun terhitung ada sekitar 52 minggu. Selama itu, berapa kali kita tidak hadir ke vihara? Dalam 52 minggu yang ada berapa kali kita hadir di vihara? Ada umat yang hadir sebanyak 30 kali, ada pula umat yang hadir kurang dari 30 kali. Kadang-kadang malah ada umat yang hanya hadir 4 kali dalam setahun, yaitu: Pada perayaan Magha Puja, Waisak, Asadha, serta Kathina. Jadi, ada umat yang hadir ke vihara sebanyak 4 kali, 14 kali, tetapi jarang ada umat yang dapat hadir penuh sampai 52 kali setahun. Alasan mereka macam-macam, salah satunya: Sibuk. Menghadiri puja bakti secara rutin memang cukup sibuk. Namun bila kita melihat kesibukan para pejabat tinggi negara kita, di tengah kesibukannya mereka masih dapat melaksanakan ibadahnya dengan khusuk lima kali sehari. Apabila kita seminggu sekali saja tidak memiliki waktu, apakah berarti kita memang lebih sibuk daripada para pejabat tersebut? Hanya kita sendirilah yang tahu jawaban sesungguhnya.

Read more: Manfaat Ke Vihara

Category: Goresan Kebenaran Published: Saturday, 27 January 2018

Manusia Sampah
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Vijito

 

Apakah definisi manusia sampah? Manusia sampah adalah manusia yang tidak ada gunanya atau tidak ada manfaatnya. Manusia yang hidupnya membuat kemarahan atau manusia yang selalu menodai dirinya dengan perbuatan-perbuatan salah. Perbuatan-perbuatan salah itu selalu dilakukan kepada orang lain. Manusia sampah adalah orang yang kehilangan pandangan benar, prilaku yang baik telah tiada, jauh dari kebenaran dan kebaikan, jauh dari cinta kasih dan welas asihnya, jauh dari cinta kasih dan welas asihnya, jauh dari rasa simpati dan keseimbangan batin. Mereka lebih dekat dengan perbuatan-perbuatan buruknya, di dalam pikirannya yang ada hanyalah kekotoran batin (kilesa).

Read more: Manusia Sampah

Category: Goresan Kebenaran Published: Friday, 26 January 2018

Manusia Dan Spiritual
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro

 

Sebagai makhluk yang memiliki predikat manusia adalah makhluk yang berakal budi, yang memiliki daya pikir, kecerdikan, kepandaian, kemampuan, ingatan, perasaan dan kesadaran. Tetapi, karena dosa, lobha dan moha (kebencian, keserakahan dan ketidaktahuan) maka orang yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan justru menjadi sebaliknya, kejam, sadis, garang, bengis; suka merusak, menganiaya, menyakiti, membunuh; tidak ada cinta kasih, kasih sayang, simpati dan kebijakan serta sama sekali tidak ada sifat kemanusiaan.

Read more: Manusia Dan Spiritual

Category: Goresan Kebenaran Published: Friday, 26 January 2018

Memilih Buddha Dhamma
Oleh : Karma Jigme Rofin B.A. (Hons)

 

Setelah 2500 tahun lebih Buddha Dhamma dibabarkan oleh Sang Buddha, semakin hari semakin banyak pula terjadi penafsiran yang berbeda-beda tentang AjaranNya. Mereka yang merasa paling mengerti Dhamma mulai memisahkan diri dengan menarik pengikutnya untuk mendirikan sekte-sekte atau aliran kepercayaan Buddha dan mengklaim bahwa hanya merekalah yang mempratekkan ajaran murni dan praktis yang dibabarkan oleh Sang Buddha.

Agar umat Awam tidak salah memilih jalan menuju pencerahan, ada baiknya kita mengetahui ciri-ciri dari Buddha Dhamma yang pernah diajarkan oleh Sang Tathagatha.

Read more: Memilih Buddha Dhamma

Category: Goresan Kebenaran Published: Thursday, 25 January 2018

Mahalnya Kebenaran
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro

 

Proses kehidupan manusia merupakan perjalanan yang panjang, unik, rumit, dan sulit untuk dapat diselami. Karena kehidupan ini bukanlah semata-mata apa yang hanya kita lihat. Kehidupan ini tidaklah demikian, tetapi kehidupan ini ada yang lebih dari sekedar materi yang nampak oleh indria.

Maka tidak sedikit bila kita jumpai orang-orang yang berkecukupan materi bahkan berlimpah-limpah. Tetapi kehidupannya merasa tidak tenang dan bahagia, selalu resah dan gelisah, khawatir dan takut. Dan sebaliknya yang materinya kurang mencukupi, pasti gresulo (merana).

Read more: Mahalnya Kebenaran

Category: Goresan Kebenaran Published: Thursday, 25 January 2018

Memberi Dalam Dhamma Berarti Menambah
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Subalaratano

 

Banyak orang terutama yang berwatak kikir akan tertawa mendengar kata-kata di atas. Karena baginya, orang yang telah memberikan sesuatu pasti akan mengurangi apa yang dimilikinya. Mana mungkin miliknya akan bertambah. Hal itu karena ia hanya melihat dengan menggunakan kaca mata duniawi, batinnya masih sangat terikat atau melekat kepada apa yang dimilikinya sekarang. Ia belum sadar bahwa apa yang dimiliki itu adalah merupakan buah dari kedermawanannya dahulu.

Di jaman Sang Buddha, seorang yang sangat kikir bernama Toddeya, karena kedunguannya ia terikat kepada hartanya demikian hebat, setelah mati ia tumumbal lahir menjadi seekor anjing yang menjaga tempat dimana ia menyembunyikan hartanya itu. Barulah setelah Sang Buddha membuka tabir yang tak terlihat oleh mata manusia biasa kepada anak Toddeya, persoalan itu menjadi jelas. Anak tersebut kemudian sadar bahwa harta yang dimiliki oleh si dungu bukan memberikan kebahagiaan, tapi sebaliknya akan membawa orang itu ke alam penderitaan.

Read more: Memberi Dalam Dhamma Berarti Menambah

Category: Goresan Kebenaran Published: Wednesday, 24 January 2018

Lima Kesempatan
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Santamano

 

Appamado ca dhammesu, Etammangalamuttamanti.
Tekun melaksanakan Dhamma, itulah Berkah Utama.

 

Melalui banyak jalan kita melewati proses kehidupan ini. Segala problem dan rintangan yang datang kepada kita diselesaikan dengan cara damai maupun peperangan, akhirnya pun akan kembali kepada tanggung jawab kita semua. Seandainya kita berusaha ingin melepaskan peranan kita di masyarakat atau hubungan antara individu dengan individu lainnya, maka akan terdapat sesuatu yang ganjil. Banyak sekali perbuatan bermanfaat yang harus kita lakukan di dalam kehidupan kita sehari-hari, dan perbuatan baik itu tak mungkin bisa ditunda atau ditinggalkan begitu saja.

Read more: Lima Kesempatan

Category: Goresan Kebenaran Published: Wednesday, 24 January 2018

Kunci Suksesnya Pergaulan
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Mahathera

 

Hari ini kita akan mencoba melihat Dhamma, ajaran Sang Buddha dari berbagai segi yang mungkin bermanfaat. Kalau sebagai generasi muda kita sudah bisa mengenal Dhamma, ini memang bahagia. Mengapa demikian? Karena Dhamma ajaran Sang Buddha, ibaratnya seperti supermarket. Di supermarket itu kalau kita mau cari tusuk gigi sampai linggis, ada! Mau cari korek kuping sampai cangkul, ada! Dhamma ajaran Sang Buddha juga demikian. Kita mau cari apa saja, ada. Karena Dhamma, dikatakan oleh Sang Buddha, adalah segala sesuatu yang bisa kita pikirkan dan yang tidak bisa kita pikirkan. Coba kata-kata ini direnungkan, Dhamma adalah segala sesuatu yang bisa kita pikirkan dan yang tidak bisa kita pikirkan". Itu adalah Dhamma! Jadi semua yang saudara pikirkan, misalnya saudara pikir tusuk-gigi itu juga Dhamma. Saudara pikir cangkul, juga Dhamma; saudara pikir buku, itu Dhamma; saudara pikir pohon itu Dhamma; semua adalah Dhamma, tidak ada yang lain.

Read more: Kunci Suksesnya Pergaulan

Category: Goresan Kebenaran Published: Tuesday, 23 January 2018

Kiat Sukses Bisnis Dalam Era Globalisasi
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Mahathera

 

PENDAHULUAN

Globalisasi di berbagai bidang dengan segala dampak positif dan negatifnya telah banyak dibahas secara umum maupun khusus dalam berbagai forum pertemuan oleh banyak fihak. Menyadari akan hal tersebut, maka dalam keterbatasan makalah ini fenomena itu tidak akan dibicarakan secara rinci. Hanya saja, berkenaan dengan era globalisasi tersebut banyak orang menduga bahwa dengan majunya jaman maka agama akan ditinggalkan oleh para pengikutnya. Dugaan ini sudah berkembang cukup lama, namun ternyata hal ini tidaklah selalu benar, minimal bila kita berbicara tentang agama Buddha. Hal ini juga telah diakui oleh ahli teologi Harvey Cox yang menjadi dosen senior di Harvard University. Beliau menyatakan bahwa gejala ini tidak diduga oleh para peramal 25 tahun yang lalu yang meramalkan bahwa agama semakin layu karena modernitas. Pernyataan tersebut telah dikutip John Naisbitt dalam Megatrends 2000 halaman 255.

Read more: Kiat Sukses Bisnis Dalam Era Globalisasi