Category: Goresan Kebenaran Published: Wednesday, 27 December 2017

Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Tentang Pemutaran Roda Dharma)
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Sukhemo

 

Pada hari ini, hari Minggu tanggal 23 Juli 2000, kita kembali berkumpul di Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya untuk bersama-sama memperingati satu hari yang sangat penting bagi umat Buddha, yaitu Asādha Pūjā. Asādha (Sansekerta) atau Asāḷha (Pali) adalah nama bulan yang bersamaan dengan bulan Juli atau Agustus. Hari bulan pernama tahun 2000 atau tahun Buddhis 2544, jatuh pada hari Minggu, 16 Juli. Hari bulan purnama dalam bulan Asādha adalah hari dimana Sammasambuddha Gotama membabarkan Ajaran untuk pertama kali kepada lima orang pertapa yang bernama Assaji, Vappa, Mahānama, Bhaddiya, dan Kondañña. Khotbah ini disebut : DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA, khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma. Sejak saat itu sampai sekarang, roda Dhamma sudah berputar tanpa berhenti lebih dari 25 abad lamanya. Apakah Ajaran itu masih relevan sampai sekarang, setelah lebih dari 25 abad lamanya? Ya, tentu saja masih relevan, karena Dukkha pada zaman dulu masih kita alami pada zaman sekarang. Apakah Dukkha itu?

Kelahiran, usia tua, sakit, kematian adalah Dukkha. Berkumpul dengan yang tidak disukai adalah Dukkha, berpisah dengan yang dicintai adalah Dukkha. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah Dukkha. Krisis ekonomi, peperangan, gempa bumi dan sebagainya, menyebabkan Dukkha. Singkatnya, kemelekatan pada tubuh jasmani dan batin (panca-upadana khanda) menyebabkan Dukkha.

Apakah sebab Dukkha itu? Jawabnya adalah Tanhā, nafsu keinginan, yang terdiri dari nafsu keinginan untuk memuaskan kesenangan indria (kama tanhā), nafsu keinginan untuk penjelmaan (bhava tanhā), dan nafsu keinginan untuk pemusnahan diri (vibhava tanhā).

Apakah Dukkha itu dapat dilenyapkan? Ya, Dukkha itu dapat dilenyapkan, yaitu dengan melenyapkan sebabnya, Tanhā. Kalau Tanhā itu lenyap, maka Dukkha juga akan lenyap.

Bagaimana cara melenyapkan Dukkha itu? Dukkha itu dapat dilenyapkan dengan suatu Jalan yang terdiri dari 8 faktor, yaitu :

  1. Pandangan benar (sammā-diṭṭhi).

  2. Pikiran benar (sammā-saṅkappa).

  3. Ucapan benar (sammā-vācā).

  4. Perbuatan benar (sammā-kammanta).

  5. Mata-pencarian benar (sammā-ājīva).

  6. Daya upaya (sammā-vāyāma).

  7. Perhatian benar (sammā-sati).

  8. Meditasi benar (sammā-samādhi).

Pengetahuan dan pengertian Buddha Gotama tentang Empat Kesunyataan Mulia ini, yaitu :

  1. Dukkha.

  2. Sebabnya Dukkha.

  3. Lenyapnya Dukkha.

  4. Jalan untuk Melenyapkan Dukkha.

Telah sempurna dalam 3 tahap dan 12 segi pandangan.

Tiga tahap itu adalah :

  1. Sacca ñāna = pengetahuan tentang 4 Kesunyataan Mulia.

  2. Kicca ñāna = pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan tentang 4 Kesunyataan Mulia itu.

  3. Kata ñāna = pengetahuan mengenai apa yang telah dilakukan tentang 4 Kesunyataan Mulia itu.

12 segi pandang itu adalah :

    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang Dukkha.

    2. Kesunyataan Mulia tentang Dukkha harus diketahui.

    3. Kesunyataan Mulia tentang Dukkha telah diketahui dengan sempurna.

    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang Sebabnya Dukkha.

    2. Sebabnya Dukkha harus dilenyapkan.

    3. Sebabnya Dukkha telah dilenyapkan dengan sempurna.

    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Dukkha.

    2. Lenyapnya Dukkha harus direalisasikan.

    3. Lenyapnya Dukkha telah direalisasikan dengan sempurna.

    1. Inilah Kesunyataan Mulia tentang Jalan untuk melenyapkan Dukkha.

    2. Jalan ini harus dikembangkan.

    3. Kesunyataan Mulia tentang Jalan untuk melenyapkan Dukkha ini telah dikembangkan dengan sempurna.

Masing-masing Kesunyataan terdiri dari 3 tahap, sehingga 4 Kesunyataan Mulia tersebut memiliki 12 segi pandangan. Semuanya telah sempurna diketahui dan dimengerti oleh Sammasambuddha Gotama.

Pada awal khotbahnya, Buddha memperingatkan bahwa ada dua hal yang harus dihindarkan oleh pertapa, yaitu :

  1. Pemuasan nafsu indria, yang dinilai rendah (hīno), kasar (gammo), duniawi (pothujjaniko), tidak mulia (anariyo), tak bermanfaat (anatthasañhito).

  2. Penyiksaan diri, yang dinilai menyakitkan (dukkho), tidak mulia (anariyo), tak bermanfaat (anatthasañhito).

Kemudian Buddha mengajarkan hasil penemuan Beliau, yaitu Jalan Tengah Berunsur 8 (terdiri dari pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencarian benar, daya upaya benar, perhatian benar, meditasi benar) yang membukakan mata batin, yang menimbulkan pengetahuan, yang membawa ketenteraman, kemampuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian nibbana/akhir dukkha.

Setelah itu Buddha menguraikan tentang 4 Kesunyataan Mulia: Dukkha, Sebab Dukkha, Lenyapnya Dukkha, Jalan menuju Melenyapkan Dukkha.

Salah seorang dari 5 pertapa yang bernama Kondañña mengerti apa yang diajarkan oleh Buddha, dan memperoleh Mata Dhamma bahwa "segala sesuatu yang mempunyai sebab, semuanya akan lenyap setelah sebabnya lenyap" dan mencapai tingkat kesucian pertama, Sotāpanna.

 

[Dikutip dari Gema Dhammavaddhana Edisi 7.]

 

 

Hits: 10