Category: Goresan Kebenaran Published: Thursday, 11 January 2018

Jangan Menaruh Dendam Di Hati
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera

 

Dalam kehidupan ini kita tidak mungkin hidup sendiri. sebagai anggota keluarga, kita hidup di tengah-tengah anak istri, atau anak dan suami kita. Dalam pekerjaan, kita hidup di tengah-tengah teman-teman sekantor, atau di tengah-tengah kawan-kawan kita satu pabrik. Sebagai pelajar, kita hidup di tengah-tengah pelajar atau mahasiswa lainnya. Sebagai anggota masyarakat, kita hidup di tengah-tengah ribuan, bahkan jutaan sesama kita.

Memang kenyataan, kehidupan di bumi bukan kehidupan di surga. Di tengah-tengah lingkungan kita ini, kita tidak bisa membayangkan keharmonian dan ketentraman sampai nanti kita menutup mata. Suatu saat, teman kita sendiri, atau mungkin orang yang tidak kita kenal, berbuat sesuatu yang tidak kita sukai kepada kita.

Apakah di dalam pekerjaan, apakah dalam dunia usaha, apakah sebagai pelajar, bahkan juga di tengah-tengah pengabdian sosial; kita sering mendapat perlakuan yang tidak kita senangi. Lebih dari itu, bahkan satu saat, bukan hanya tidak kita senangi, tetapi juga sering mereka mengganggu, merugikan, dan merusak kehidupan kita. Dengan seribu satu macam alasan mereka-mereka itu melakukan tindakannya kepada kita. Mungkin hanya karena salah paham. Mungkin juga karena kita yang memang salah. Tetapi, juga mungkin, karena ia iri hati kepada kita. Tidak rela kita menjadi maju, atau tidak setuju kita jadi seperti ini; dan sebagainya, masih banyak lagi. Kemudian kita menerima makian, menerima hinaan. Difitnah, didamprat. Milik kita mungkin hilang, kita tertipu, atau kadang-kadang diminta dengan paksa. Dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat di dalam kehidupan kita sendiri, juga pada kehidupan di sekitar kita.

Kalau kita melihat dengan kacamata duniawi, kita memang melihat, bahwa pelaku-pelaku terhadap diri kita itu adalah: si A, si saudaraku B, si suamiku sendiri, si C, si D, si dia, si itu, dan lain-lain. Dalam satu artikel pernah diumpamakan; pikiran kita ini seperti buku telepon yang tebal saja; yang hanya berisi berderet-deret daftar nama-nama orang saja. Nama-nama dari sekian banyak orang yang menjengkelkan kita, yang menyakiti hati kita, yang merusak milik kita. Semua itu adalah orang-orang yang masuk di dalam daftar dendam kita. Dan setiap saat, nama-nama itu muncul berganti-ganti oleh hawa nafsu untuk membalas kebencian kepada mereka satu persatu; tidak peduli apakah dia atau kita yang sebenarnya salah.

Kalau pikiran sudah sedemikian itu maka kita akan susah tidur. Susah untuk mempunyai ketenangan di dalam hati. Kehidupan kita gelisah; mudah tersinggung, dan batin kita menjadi beku. Sebaliknya, kalau kita melepaskan kacamata duniawi, dan memakai kacamata atau lensa Kesunyataan untuk melihat kejadian-kejadian pada diri kita ini, maka apakah yang kita lihat? Yang kita lihat adalah: Apa yang sebenarnya terjadi! Sesungguhnya bukan sang suami yang menyakiti saya, bukan si dia yang mengingkari janji, bukan si A, si B, si C, bukan si ini atau si itu yang membuat semuanya ini terjadi pada diri kita. Tetapi, kalau bukan mereka-mereka siapa sebenarnya yang melakukan itu? Yang melakukan itu, sebenarnya kita sendiri. Karena kita, semua itu terjadi, menimpa diri kita.

Oleh karena, di dunia ini di manapun juga, tidak ada satupun peristiwa, apakah peristiwa itu menyenangkan atau tidak, yang terjadi dengan begitu saja. Semua yang terjadi pada kita adalah akibat dari perbuatan kita masing-masing; baik yang kita perbuat pada kehidupan ini, maupun yang telah kita perbuat pada kehidupan kita yang lampau, yang belum berbuah. Oleh karenanya, janganlah kita dendam. Apapun yang terjadi pada diri kita, adalah akibat dari perbuatan kita masing-masing. Bukan dibuat oleh orang lain kemudian dilemparkan kepada kita. Bukan! Ini adalah hukum Kesunyataan, hukum karma yang universal.

Jangan menyalahkan, apalagi membenci orang lain. Karena, kita harus mengerti, apapun yang terjadi pada diri kita adalah apa yang harus kita terima, adalah akibat dari perbuatan kita masing-masing. Itulah keadaan kita yang sesungguhnya kalau kita mau melihatnya dengan kacamata Kesunyataan, dengan kacamata Dharma.

Kemudian timbul satu pertanyaan. Lalu bagaimanakah sikap kita pada mereka yang mengganggu ketentraman kita? Bagaimanakah tindakan kita pada mereka yang berbuat jahat pada kita? Apakah kita harus toleran terhadap mereka? dan apakah mereka itu tidak membuat karma jelek baru?

Sikap untuk menyadari bahwa apapun yang menimpa kita adalah akibat dari perbuatan jelek kita sendiri, yang memang harus kita terima; adalah sikap kita yang pertama. Tetapi, bukan berarti hanya dengan sikap pertama itu saja kemudian kita berhenti. Langkah pertama untuk menyadari bahwa yang terjadi pada kita adalah akibat dari karma kita masing-masing, adalah sikap berpikir yang amat penting. Oleh karena dengan menyadari hal itu, kita tidak akan menaruh dendam pada mereka-mereka yang berbuat jahat pada kita. Dan kalau rasa dendam ini berusaha kita atasi, maka usaha untuk menasehati mereka, untuk memperbaiki mereka, semampu kita; adalah benar-benar usaha baik yang tulus. Karena kalau rasa dendam yang membakar dada kita belum kita atasi lebih dahulu, maka semua nasihat kita, petunjuk-petunjuk kita, untuk mereka yang menjengkelkan kita itu, akan menjelma menjadi pelampiasan dendam dan benci kepada mereka.

Dan juga, sesungguhnya kita harus kasihan melilhat mereka yang berbuat jahat; baik berbuat jahat kepada kita maupun kepada orang lain. Mengapa kita kasihan, dan kemudian membantu mereka supaya mereka jangan melanjutkan atau mengulangi perbuatan-perbuatan jahat itu lagi? Kita kasihan, karena kita mengerti, bahwa mereka yang berbuat jahat itu, pada suatu saat, pasti, memetik penderitaan sebagai akibatnya. Ini adalah hukum Ilahi. hukum Karma yang universal.

Kalau seandainya hukum Karma itu tidak ada, maka tidak ada gunanya kita menghindari kejahatan. Kalau seandainya hukum Karma itu tidak ada, tidak ada gunanya undang-undang yang mengatur manusia, supaya tidak berbuat jahat. Hukum Karma adalah Kesunyataan Universal. Kita harus menerima akibat dari setiap perbuatan kita. Apakah kita lupa pada perbuatan kita, apakah kita mengharap buahnya atau tidak; akibat dari setiap perbuatan pasti datang pada kita. Oleh karena itu, marilah kita bertekad untuk meluhurkan bangsa dan negara kita ini dengan banyak berbuat baik. Jangan kita menjadi anggota masyarakat yang suka berbuat jahat. Karena selain merugikan orang lain, kejahatan itu akan menghancurkan kita sendiri. Dan kita semua, satu persatu, tidak ada yang ingin hidupnya hancur.

Dalam Samyutta Nikaya dicatat kata-kata Kesunyataan Sang Buddha yang sangat terkenal :

"Yadidam vaphate bijam, tadisam labhate phalam,
Kalyanakari ca kalyanam, papakari ca papakam."

Artinya :

"Sesuai dengan bibit yang telah disebar,
Begitulah buah yang akan dipetik.
Pembuat kebaikan akan memetik kebaikan.
Pembuat kejahatan akan memetik kejahatan."

Demikian juga dalam Dhammapada 110, Sang Buddha mengatakan :

"Mereka yang hidup seratus tahun, berbuat jahat dan tidak mengendalikan diri, maka hidup sehari saja adalah lebih baik bagi orang yang mempunyai sila dan selalu sadar."

Jangan kita main tipu, jangan kita main clurit, main bajak, atau main paksa; hanya untuk mencari harta. Seorang yang mengerti, akan mempunyai sikap hidup demikian: Lebih baik kita hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan; seperti yang telah dianjurkan oleh setiap ajaran agama, dan juga oleh Pemerintah kita. Hendaknya kita hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, tetapi mempunyai moral dan akhlak yang baik. Dari pada hidup dengan harta berlebihan tetapi banyak kejahatan yang diperbuat.

Pada suatu saat, tengah malam nanti, besok, atau beberapa tahun kemudian, kita semua akan mati. Setelah kematian, bukan harta yang mengikuti kita, tetapi perbuatan kita yang akan selalu ikut ke mana kita pergi; baik perbuatan-perbuatan yang baik, maupun perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

Kalau kita mengerti hukum Karma, merenungkan hukum Karma, dan yakin pada hukum Karma, maka kita akan takut berbuat jahat. Takut pada akibat berbuat jahat. Takut pada akibat kejahatan. Karena akibat kejahatan itu adalah kehancuran bagi kehidupan kita sendiri.

Bahkan, kalau kita berpikir lebih jauh, maka akan kita lihat lebih jelas lagi. Kalau kita berbuat jahat pada satu orang, bukan hanya satu orang itu saja yang kita rugikan. Mereka yang lain akan ikut merasa takut, merasa khawatir. Mereka khawatir, jangan-jangan pada kesempatan lain kita berbuat jahat seperti itu kepada mereka. Kehadiran kita membuat rasa tidak aman bagi banyak orang. Tetapi sebaliknya, kalau kita mengendalikan hawa nafsu kita, tidak berbuat jahat, mempunyai moral baik, menjalankan sila dengan baik, bisa dipercaya, tidak menipu; itu berarti kita sudah memberikan kepada mereka abhaya dana: rasa aman. Rasa aman ini diperlukan setiap orang, termasuk diri kita masing-masing.

Dengan pengertian hukum Karma yang merasuk, merasuk sampai ke tulang sumsum kita; mendarah daging pada hidup kita, kita akan bersemangat dalam perbuatan baik. Perbuatan baik yang luhur dan tulus. Karena kita mengerti benar, bahwa kebaikan akan membawa kebahagiaan, keharmonisan, dan kedamaian; bagi banyak orang, maupun bagi masing-masing kita. Damai di luar, dan juga damai di dalam batin.

Akhirnya, sekali lagi, mari kita bertekad: Janganlah kita menaruh dendam pada siapapun juga. Berusaha sungguh-sungguh menyadari bahwa apapun yang terjadi pada kita adalah akibat dari karma kita masing-masing. Kemudian, berusaha sebanyak mungkin menambah dan mengisi terus kehidupan ini dengan kebaikan.

 

[Dikutip dari Buku Kumpulan Dhammadesana, Sri Pannavaro Thera, Jilid I.]

 

 

Hits: 106