Category: Goresan Kebenaran Published: Friday, 12 January 2018

Karma Buruk Dan Homoseksualitas
Oleh : Yang Mulia Bhiksu George

 

Bhiksu George (Amerika Serikat) yang berasal dari Amitabha Buddhist Centre memberikan kotbah Dharma tentang Karma dan tumimba lahir pada tanggal 29 Januari 1999 di aula PUB. Pada waktu pembahasan tanya jawab, salah satu dari teman saya bertanya secara tertulis : Apakah dilahirkan berbeda, seperti menjadi homoseksual merupakan karma buruk pada kehidupan masa lampau? Beliau duduk buat seketika, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan hati hati dan kemudian menjawabnya. Saya telah merangkum pembicaraannya tetapi bukan dicatat kata demi kata melainkan sebaliknya.

"Dalam agama Buddha, kita tidak menghakimi atau menilai, kita tidak menilai seseorang dari warna kulit, kebangsaan, atau dengan pilihan seksualitasnya. Bagaimanapun, pada umumnya, kebanyakan kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan ini merupakan akibat yang dihasilkan dari karma buruk yang kita pernah lakukan." Ketika Dalai Lama di Amerika Serikat, banyak sekali reporter yang menanyakan pandangannya terhadap bhiksu yang merupakan gay dan umat Buddha yang gay.

Beliau menjawab mereka: "Sebahagian dari mereka merupakan monogami dan ada sebagian lagi yang ganas, layaknya heteroseksual, pertanyaan berikutnya?" Kita mesti berpengertian bahwa semakin banyak kesulitan yang kita hadapi didalam kehidupan ini, semakin banyak kesempatan bagi kita untuk mempraktekkan kebaikan. Jika seseorang itu sangat senang dan merasa puas akan kehidupannya, maka dia mempunyai sedikit kesempatan untuk mempraktekkan kebajikan. Oleh sebab itu, seseorang yang mempunyai kehidupan yang sulit mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menyadari sifat dasarnya (his true nature) dan mempraktekkan jalan yang benar bila dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kesulitan.

 

Komentar Bro Kelvin Wong:(Dari Milis Heartland, Singapura)

Sebenarnya beliau tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, tetapi bagaimanapun saya merasa bahwa jawabannya cukup memadai, karena kita perlu berpikir sendiri untuk mendapatan pengertian tentang kebenaran. Walaupun saya tidak berpikir bahwa pandangan Dalai Lama itu begitu liberal, seperti apa yang saya baca. Alasannya cukup mudah karena tidak semua gay mempunyai masalah kehidupannya dengan status seksualitasnya. Ada yang tidak mempunyai begitu banyak masalah karena mereka masih muda, walaupun sebenarnya banyak diantara kita mempunyai masalah tentang itu.

Bagaimana pula dengan masyarakat dimana homoseksuality merupakan bahagian dari kebudayaan, seperti pada masa zaman Yunani kuno? Apakah ketertarikan mereka terhadap pria merupakan hasil dari perbuatan karma buruk? Dapatkah kita berpendapat sama bahwa mengatakan perempuan yang lahir di masyarakat yang mempunyai sistem yang menentukan ayah sebagai kepala keluarga atau di masyarakat yang memiliki sifat patriotik yang berlebihan itu berdasarkan utang dari karma buruk mereka? Jadi apakah karma buruk menciptakan penderitaan bagi setiap wanita? Jadi terlahir sebagai gay tidak selalu merupakan akibat langsung dari buah hasil karma buruk kita ( lebih dari itu). Itu hanya memberikan kesempatan kepada karma buruk yang dilakukan pada kehidupan lalu untuk berbuah pada masyarakat yang seperti ini.

Bagaimanapun, saya berpikir bahwa kita tidak seharusnya terlalu khawatir tentang isu ini karena kita telah berada disini. Itu tidak dapat membantu walaupun kita mengetahui sebab mengapa kita seperti ini, itu lebih penting bila dapat membentuk masa depan kita sekarang. Lebih lanjut, kita sepatutnya bangga karena kita telah membersihkan karma buruk kita, dan meninggalkan karma yang baik agar dapat menerima buahnya dimasa yang akan datang.

Apa yang benar adalah kita mempunyai kesempatan yang lebih untuk mempraktekkan kebajikan. Penderitaan adalah Bodhi dan Bodhi adalah penderitaan. Orang yang mempunyai kehidupan yang baik pada masa sekarang, mungkin sedang menikmati buah dari karma baiknya dari masa lalu. Tetapi bila dia tidak lagi membuat kebajikan (karena dia tidak melihat adanya suatu keperluan untuk berbuat seperti itu).; dia hanya akan menghabiskan buah karma baiknya dan apa yang tertinggal hanya merupakan buah yang buruk. Jadi jangan hanya melihat menjadi gay dari sudut pandang negatif, kita seharusnya senang menjadi gay, memiliki kesempatan yang lebih untuk menjadi orang normal untuk mengerti Dharma.

 

 

Hits: 65