Category: Goresan Kebenaran Published: Tuesday, 16 January 2018

Kebenaran Mulia
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Jinnadhammo Mahathera

 

Kebenaran Mulai tentang Kehidupan Berkeluarga

Banyak orang sering mengatakan bahwa agama Buddha tidak menyenangkan karena terus menerus mengajarkan tentang penderitaan makhluk hidup. Akibatnya mereka merasakan tertekan, dan tidak memperileh suka cita dari mendengarkan dharma, mereka merasa seolah-olah penderitaan dan ketidakpuasanm yagn dibicarakan itu justru menjadi kekuatan yang bergabung dengan penderitaan dan ketidakpuasan yagn sudah ada di dalam diri mereka. sehingga mereka selalu merasa sedih dan patah semangat. Bukan hanya itu saja. Ajaran-ajaran dasar Sang buddha - Empat kebenaran mulia (ariya sacca) dimulai dengan penderitaan sebagai tema ajarannya. Hal ini jaub lebih banyak diajarkan dibanding hal-hal lain. Seolah-olah Sang Buddha justru mengusik orang-orang yang karena takut pada penderitaan datang mencario perlindungan pada dhamma, tetapi sebagai akibatnya, mereka malahan lari menjauh dari dhamma. Mereka tidak ingin duduk dan mendengarkan siapapun yang berbicara tentang penderitaan dan ketidakpuasan. Pernyataan demikian itu sebenarnya menunjukkan bahwa mereka belum memiliki pelatihan agama yang cukup untuk memahami tujuan-tujuan sejati agama Buddha yang mereka anut. Fakta bahwa Sang Buddha mengajarkan tentang penderitaan itu sepenihnya sejalan dengan hal-hal sebagaimana adanya. Itu sesuai dengan nama "Kebenaran Mulia". Kebenaran ini merupakan prinsip-prinsip dasar Agama Buddha. Kebenaran ini sangatlah benar. Sang Buddha adalah orang yang benar-benar tahu. itulah sebabnya beliau beliay dapat menunjukkan kekurangan dan cacat makhluk hidup karena pada dasarnya semua penderitaan yang kita alami disebabkan oleh kekurangan-kekurangan tersebut.

Read more: Kebenaran Mulia

Category: Goresan Kebenaran Published: Monday, 15 January 2018

Kebijaksanaan

 

Sang Buddha bersabda : “Rago doso mado moho yattha panna na gadhati : Dimana terdapat nafsu, kebencian, kemabokan dan kedungguan disitu tidak terdapat kebijaksanaan”. Didalam tindakan sehari-hari yang tanpa disadari kita telah banyak melakukan kesalahan-kesalahan walau pun ada kalanya bertujuan baik.

Sering dijumpai seorang manager yang emosional mengomelin bawahannya dihadapan orang ramai tanpa mau tahu apakah bawahan tersebut sakit hati atau tidak. Di rumah adakalanya orang tua juga menghardik anak-anaknya yang telah dewasa dengan sejumlah kata-kata yang kurang tepat walaupun maksudnya baik. Demikian juga halnya di sekolah sang guru yang emosional tanpa pikir panjang membentak-bentak dan bahkan menyudutkan siswanya yang kurang mampu menangkap mata pelajaran dengan kalimat yang menyakitkan dihadapan siswa lainnya. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang demikian terjadi didalam kehidupan sehari-hari. Maksud & tujuan memang baik tapi cuma caranya yang kurang tepat sehingga hasil yang diinginkan kebanyakan tidaklah sesuai dengan yang diharapkan. Siapapun yang diomelin walaupun salah dihadapan orang ramai pasti akan menimbulkan rasa malu dan rendah diri. Siapapun juga jika selalu dipermalukan dan disepelekan, suatu saat pasti akan kecewa dan timbul antipati. Jika kondisi antipati yang timbul dari orang-orang yang ditegur maka apapun hasil yang diharapkan dari dia akan sia-sia belaka. Mengapa semua kondisi ini bisa terjadi? Semuanya tidaklah terlepas dari kurangnya kebijaksanaan yang dimiliki. Orang yang kurang bijaksana akan bertindak dan berlaku semau gue didalam meraih cita-cita yang diingininya, walaupun niat dan tujuan adakalanya baik tapi belum tentu memberikan hasil yang memuaskan. Didalam sabda NYA, Sang Buddha menekankan bahwa hidup dengan kebijaksanaan adalah yang terluhur.

Read more: Kebijaksanaan

Category: Goresan Kebenaran Published: Monday, 15 January 2018

Keajaiban Dari Kaca Mata Buddhis
Oleh : Karma Jigme Rofin B.A. (Hons)

 

Keajaiban tentu menarik perhatian banyak kalangan, apalagi yang dikatakan bahwa dapat membawa rezeki dan melancarkan usaha. Fenomena demikian yang belakangan ini hangat dibicarakan oleh segelintir umat Buddha yang kurang memahami Dhamma, mereka kelihatan terlalu mengagungkan orang-orang yang dikatakan memiliki kekuatan gaib dengan harapan dapat menambah kekayaan dan kejayaan usaha mereka.

Read more: Keajaiban Dari Kaca Mata Buddhis

Category: Goresan Kebenaran Published: Saturday, 13 January 2018

Kasih Sayang Tanpa Kebijaksanaan

 

Kalau kita berkunjung ke Vihara Samaggi Jaya yang terletak di kotamadya Blitar, Jawa-Timur; kita akan menemukan berbagai macam gambar dan tanda dimana semua itu merupakan satu isyarat bahwa membangun sebuah vihara tidaklah sama dengan membangun rumah biasa, tetapi mempunyai makna lambang yang cukup berat. Gambar dan tanda yang menempel atau pun yang berada di lingkungan sebuah vihara tidak ditujukan sebagai pajangan belaka ataupun sekedar untuk menghias vihara saja. Akan tetapi semua itu mengandung arti yang cukup dalam dan merupakan satu medium yang sangat baik untuk menyampaikan ajaran-ajaran Sang Buddha.

Read more: Kasih Sayang Tanpa Kebijaksanaan

Category: Goresan Kebenaran Published: Saturday, 13 January 2018

Karma Orang Tua Dan Anak

 

Seorang mahasiswi menangis tersedu-sedu dihadapan dosen agama Buddha yang penuh kasih terhadapnya. Ia sedih, kecewa, dan agak tergoncang batinnya menghadapi kenyataan pahit yang harus diterimanya saat ini. Ia tidak menduga bahwa hubungan cinta yang telah dibinanya selama ini harus kandas di tengah jalan. Ia tidak menyangka bahwa calon mertuanya akan menolak dirinya sebagai menantu hanya karena ia mempunyai seorang ayah yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Ia sedih karena calon mertuanya beranggpan bahwa jika orangtuanya berkelakuan tidak baik, maka anaknya pasti mempunyai kelakuan yang tidak baik pula. Ia kecewa karena ia merasa bahwa anggapan itu tidak berlaku terhadap dirinya. Dengan penuh kesabaran, dosen agama Buddha tadi memberikan nasihat-nasihat yang ternyata dapat menghibur mahasiswi tersebut.

Read more: Karma Orang Tua Dan Anak

Category: Goresan Kebenaran Published: Friday, 12 January 2018

Karma Buruk Dan Homoseksualitas
Oleh : Yang Mulia Bhiksu George

 

Bhiksu George (Amerika Serikat) yang berasal dari Amitabha Buddhist Centre memberikan kotbah Dharma tentang Karma dan tumimba lahir pada tanggal 29 Januari 1999 di aula PUB. Pada waktu pembahasan tanya jawab, salah satu dari teman saya bertanya secara tertulis : Apakah dilahirkan berbeda, seperti menjadi homoseksual merupakan karma buruk pada kehidupan masa lampau? Beliau duduk buat seketika, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan hati hati dan kemudian menjawabnya. Saya telah merangkum pembicaraannya tetapi bukan dicatat kata demi kata melainkan sebaliknya.

Read more: Karma Buruk Dan Homoseksualitas

Category: Goresan Kebenaran Published: Friday, 12 January 2018

Kebingungan Di Zaman Modern
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu K. Sri. Dhammananda Nayake Mahathera

 

Zaman modern sekarang ini ditandai dengan perubahan cepat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan terjadi begitu cepatnya, sehingga dunia yang berputar dan terpencar-pencar tidak sempat kita lihat dengan mata kepala sendiri. Dunia tidak lagi berada dalam ketenangan seperti pada masa lalu. Hal ini adalah wujud zaman di mana masyarakat tradisional terancam hancur berhadapan dengan misteri dari modernisasi.

Read more: Kebingungan Di Zaman Modern

Category: Goresan Kebenaran Published: Thursday, 11 January 2018

Karma Atau Nasibkah Ini?
Oleh : U.P. Dharma Mitra Peter Lim

 

"Sesuai dengan benih yang di tabur, begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah biji-biji benih & engkau pulalah yang akan merasakan buah dari padanya."
Samyutta Nikaya I: 227.

Dengan pandangan mata yang nanar, serta diiringi deraian air mata yang rintik-rintik, si Ani (bukan nama sesungguhnya) menyesali & menolak ketinggalan kelas yang di alami. Di dalam pikirannya selalu timbul pertanyaan mengapa si A, B & C yang menurut pandangannya jauh lebih bodoh alias idiot, bias lulus dengan angka yang menyakinkan, sedangkan dia, tidak! Padahal di caturwulan III saja agak ambruk. Di manakah keadilan itu? Mengapa dia yang harus tinggal kelas sedangkan orang lain tidak? Inikah yang namanya kesialan? Rasanya hidup itu jadi hambar & tiada artinya sama sekali. Di sisi lain, terlihat pula si Badu (juga bukan nama yang sebenarnya) dengan rona wajah yang frustasi membanting-banting semua benda yang ada di sekitarnya. Si Badu menyesali atas ketidakadilan yang sedang berlaku terhadap dirinya. Mengapa orang lain saja selalu sukses di dalam karir sedangkan dia malahan hancur-hancuran? Di sisi selanjutnya orang lain memiliki kepintaran, kesehatan yang memadai, kekayaan yang berlimpah ruah & ketenaran sedangkan dirinya selalu apes, untuk cari kerja saja, susahnya minta ampun. Mengapa jalur kehidupannya tidak semulus & selancar orang lain? Mengapa, mengapa dan mengapa? Lain pula halnya dengan si Ani & Badu, si Nanda (nama bukan sebenarnya) pun dengan pandangan mata yang kosong menatapi ruangan yang berukuran empat kali lima meter persegi, yang seba putih sambil terbaring dengan pasrah.

Read more: Karma Atau Nasibkah Ini?

Category: Goresan Kebenaran Published: Thursday, 11 January 2018

Jangan Menaruh Dendam Di Hati
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera

 

Dalam kehidupan ini kita tidak mungkin hidup sendiri. sebagai anggota keluarga, kita hidup di tengah-tengah anak istri, atau anak dan suami kita. Dalam pekerjaan, kita hidup di tengah-tengah teman-teman sekantor, atau di tengah-tengah kawan-kawan kita satu pabrik. Sebagai pelajar, kita hidup di tengah-tengah pelajar atau mahasiswa lainnya. Sebagai anggota masyarakat, kita hidup di tengah-tengah ribuan, bahkan jutaan sesama kita.

Read more: Jangan Menaruh Dendam Di Hati

Category: Goresan Kebenaran Published: Saturday, 06 January 2018

Jantung Kemanusiaan
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera

 

Sekarang kita telah memasuki bulan Februari, yang di dalam agama Buddha dikenal dengan sebutan bulan Magha. Pada saat bulan purnama sempurna di bulan Februari umat Buddha memperingati hari suci Magha.

Hari suci Magha merupakan hari yang sangat bersejarah, hari keramat bagi umat Buddha. Bersejarah, keramat, dan istimewa; karena hari suci ini ditandai dengan empat tanda istimewa, yaitu :

  1. Pada saat bulan purnama sempurna di bulan magha atau bulan Februari, 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian sempurna atau Arahat, datang bertemu di Veluvana Arama di kota Rajagaha.

    Read more: Jantung Kemanusiaan

Category: Goresan Kebenaran Published: Saturday, 06 January 2018

Jalur Kehidupan
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera

 

Saya ingin memberi penjelasan kepada saudara-saudara, bahwa sebagai manusia, apalagi sebagai seorang umat beragama, akan baru bisa disebut mempunyai tujuan apabila di dalam hidup ini telah ada usaha kita untuk mencapai tujuan; dan tujuannya adalah mencapai kebebasan. Maksud dari mencapai kebebasan itu yaitu di dalam perjuangan hidup kita sebagai manusia ini, dapat tercapai cita-cita kita yaitu mencapai keadaan yang tidak terikat; jadi mencapai Kebebasan di dalam hidup ini. Itu baru dikatakan kita mencapai tujuan. Apabila tidak mempunyai tujuan demikian maka hidup ini belum dikatakan mempunyai cita-cita atau mempunyai tujuan, karena tujuan orang hidup itu adalah memang satu-satunya untuk menikmati Kebebasan. Yang dinamakan Kebebasan itu adalah tidak mempunyai keterikatan dengan hal-hal yang membuat diri kita terikat.

Read more: Jalur Kehidupan