Category: Goresan Kebenaran Published: Wednesday, 03 January 2018

Frustasi Karena Cinta
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu K. Sri Dhammananda Nayaka Mahathera

 

Dalam dunia ini, adalah tidak mungkin untuk memenuhi seluruh keinginan kita. Tak perduli bagaimana kuat dan berpengaruhnya seseorang, ia akan tetap mengalami frustrasi. Ia akan menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Ketika ia telah memilikinya, ia menginginkan yang lebih banyak atau sesuatu yang lainnya lagi. Keinginan yang tak terpuaskan adalah wajar bagi setiap insan di dunia ini.

Read more: Frustasi Karena Cinta

Category: Goresan Kebenaran Published: Wednesday, 03 January 2018

Fanatik

 

"Wah elu belum tahu yah, si Tik-tok itu orangnya fanatik berat deh! Kayaknya dianya yang paling benar aja. Gaya bicarannya seperti orang suci aja. Bosen deh."

Apakah Anda sebagai seorang aktivis Buddhis pernah mendengar ocehan semacam itu? Atau anda yang sering dituduh begitu? Hal ini tak jarang anda jumpai bila Anda sering berkomunikasi dengan orang lain. Lantas apakah Anda akan mundur, menarik langkah-langkah Anda yang telah tertapak. menyerah karena kritikan-kritikan dan baru mau jalan bila mendapat berbagai pujian?

Sang Buddha bersadha pada pemula Atula, "Ini pepatah kuno O Atulaw! Bukan hanya sekarang; mereka mencela orang yang duduk diam, pun mencela orang yang banyak bicara. Mereka juga mencela orang yang sedikit bicara. Tiada seorang pun yang tidak dicela".

Read more: Fanatik

Category: Goresan Kebenaran Published: Tuesday, 02 January 2018

Etika Buddha : Membentuk Pribadi Bersusila Yang Mandiri Dan Peduli
Oleh : Jo Priastana S.S

 

Pendahuluan

Zaman sekarang yang ditandai oleh perubahaan pesat di dalam banyak bidang kehidupan disamping kemajuan juga mendatangkan kegelisahan. Dengan kemajuan komunikasi dan informasi dunia menjadi kecil, dan seturut dengan itu timbulah masalah kegelisahan yang menyangkut masalah moral. Banyak orang merasa tidak punya pegangan lagi tentang norma kehidupan. Bunuh diri egoistic dan anomic yang disebut Emile Durkhein dan melanda kehidupan manusia modern merupakan cirri dari kosongnya norma moral dan makna kebersamaan.

Read more: Etika Buddha : Membentuk Pribadi Bersusila Yang Mandiri Dan Peduli

Category: Goresan Kebenaran Published: Tuesday, 02 January 2018

Empat Hukum Spiritual

 

Sang Buddha Hidup!

Beberapa orang beranggapan bahwa Sang Buddha telah dilahirkan di India sekitar 2600 tahun yang silam, dan setelah itu wafat delapan puluh tahun kemudian. "Manusia Buddha" ini hanyalah bentuk duniawi dari Buddha Sejati yang ada selamanya. Buddha Sejati segera muncul kedunia dalam wujud manusia jika Ajaran Sejati telah dilupakan.

Untuk orang-orang yang sederhana. Sang Buddha tampaknya telah mati. Misalnya anda berpikir bahwa guru yang anda hormati telah mati, bukanlah keyakinan itu akan membuat anda mengandalkan diri sendiri untuk mengusahakan keselamatan? Inilah makna dari "kematian" Sang Buddha.

Read more: Empat Hukum Spiritual

Category: Goresan Kebenaran Published: Tuesday, 02 January 2018

Dunia Membutuhkan Cinta Kasih
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera

 

Tanggal 21 Mei 1989 adalah saat bulan purnama sempurna di bulan Waisak. Kembali kita peringati peristiwa suci Waisak, yaitu Tiga Peristiwa Suci pada pribadi Guru Besar yang kita cintai Buddha Gotama: saat kelahiran, tercapainya Penerangan Sempurna, dan Parinibbana (wafat) Beliau. Pada setiap tahun, hari yang keramat ini selalu memberikan semangat baru pada diri kita.

Sang Buddha telah meninggalkan kita 2533 tahun yang lalu, Namun, sepanjang masa kita tetap ditantang dalam perjuangan kehidupan. Perjuangan kehidupan itu tidak pernah berhenti dan tidak akan berhenti. Pelajar berjuang dalam dunia pendidikan. Karyawan berjuang dalam menyempurnakan tugasnya. Pedagang berjuang dalam usahanya. Seniman, sarjana, rohaniawan, para pengemban tugas negara, semuanya berjuang untuk mencapai puncak tujuan. Dalam perjuangan itulah kita menghadapi tantangan-tantangan, persoalan, dan kesulitan. Tantangan kehidupan ini seringkali menggoncangkan semangat kita. Kadang-kadang di antara kita ada yang merasa seperti tidak mampu lagi berjalan untuk maju. Ditinggalkannya perjuangan untuk mencapai cita-citanya itu. Kemudian mereka hidup tanpa tujuan dan tanpa semangat lagi.

Read more: Dunia Membutuhkan Cinta Kasih

Category: Goresan Kebenaran Published: Friday, 29 December 2017

Doa Dan Penyembahan
Oleh : Dr. G.P. Malalasekera

 

Orang-orang selalu bertanya : “Apakah umat Buddha bersembahyang? Apa yang dilakukan umat Buddha ketika mereka pergi ke kelenteng atau kuil? Dan bagaimanakah pandangan Buddhis terhadap doa/sembahyang?”

Doa dan penyembahan yang sebenarnya hanya merupakan salah satu bagian pelengkap dalam berbagai kepercayaan. Di dalam Buddhisme, kata doa mempunyai banyak arti. Di dalam aliran kepercayaan terhadap Ketuhanan, yaitu kepercayaan yang meyakini akan sesuatu yang maha kuasa, kekuatan Tuhan sebagai pencipta bumi beserta segala isinya, berdoa berarti mengutamakan permohonan kepada Tuhan, meminta kepadanya, dengan rendah hati meminta petunjuk/bimbingan dan perlindungan, kesehatan yang baik dan kebahagiaan, dan bahkan pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

Read more: Doa Dan Penyembahan

Category: Goresan Kebenaran Published: Thursday, 28 December 2017

Doa, Bisakah Terkabul?
Oleh : Yan Saccakiriyaputta

 

Hidup ini tidak memuaskan. Ada saja yang kita rasa masih kurang kita miliki; harta, rezeki, berkah, sandang-pangan, pekerjaan, kesehatan, keamanan, keturunan, keselamatan, kebahagiaan, dll. Sesungguhnya semua itu bisa kita dapatkan dengan melakukan suatu usaha, dengan membuat sebabnya, karena manusia memang memiliki potensi untuk itu. Manusia bukanlah makhluk lemah dan ringkih, sehingga untuk memenuhi segala kebutuhannya harus mengharapkan belas kasihan makhluk lain. Menurut agama Buddha, manusia bukanlah wayang golek, yang segala sesuatunya diatur dan digerakkan oleh Pak Dalang/Sutradara. Tak ada makhluk lain yang ikut mengatur persoalan nasib seseorang. Namun karena terbelenggu oleh ketidaktahuan, manusia tidak dapat melihat dan merealisasikan potensi yang ada pada dirinya. Mereka lebih suka memohon dan meminta kepada para dewa, sebagai jalan pintas untuk memenuhi segala keinginannya, tanpa mau bersusah payah. Apalagi bila dalam memohon itu dipersembahkan sajian yang mewah dan mahal, maka dianggap akan lebih mempercepat terkabulnya permintaan mereka. Tindakan memohon dan meminta kemurahari hati para Dewa atau Maha Dewa untuk sesuatu inilah yang umum disebut Berdoa.

Read more: Doa, Bisakah Terkabul?

Category: Goresan Kebenaran Published: Wednesday, 27 December 2017

Dhammacakkappavattana Sutta (Khotbah Tentang Pemutaran Roda Dharma)
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Sukhemo

 

Pada hari ini, hari Minggu tanggal 23 Juli 2000, kita kembali berkumpul di Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya untuk bersama-sama memperingati satu hari yang sangat penting bagi umat Buddha, yaitu Asādha Pūjā. Asādha (Sansekerta) atau Asāḷha (Pali) adalah nama bulan yang bersamaan dengan bulan Juli atau Agustus. Hari bulan pernama tahun 2000 atau tahun Buddhis 2544, jatuh pada hari Minggu, 16 Juli. Hari bulan purnama dalam bulan Asādha adalah hari dimana Sammasambuddha Gotama membabarkan Ajaran untuk pertama kali kepada lima orang pertapa yang bernama Assaji, Vappa, Mahānama, Bhaddiya, dan Kondañña. Khotbah ini disebut : DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA, khotbah tentang Pemutaran Roda Dhamma. Sejak saat itu sampai sekarang, roda Dhamma sudah berputar tanpa berhenti lebih dari 25 abad lamanya. Apakah Ajaran itu masih relevan sampai sekarang, setelah lebih dari 25 abad lamanya? Ya, tentu saja masih relevan, karena Dukkha pada zaman dulu masih kita alami pada zaman sekarang. Apakah Dukkha itu?

Read more: Dhammacakkappavattana Sutta - Khotbah Tentang Pemutaran Roda Dharma

Category: Goresan Kebenaran Published: Tuesday, 26 December 2017

Dhamma Memang Bukan Barang Baru
Oleh : Upi. Labhavati

 

Kecenderungan manusia pada umumnya adalah selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Ini karena sifatnya yang pembosan dan karena kenyataan dari tidak kekalnya dan tidak tetapnya hati dan pikiran manusia (anicca). Tak pelak lagi, semuanya yang telah didapatkan segera akan ditinggalkan, dan ia mulai lagi mencari-cari sesuatu yang baru (menurut pandangannya).

Celakannya, karena sempitnya pengetahuan manusia, yang belum mengetahui hakikat dari Dhamma, lalu menyamaratakan posisis benda-benda dan hal-hal duniawi, dengan Dhamma. Padahal sifat, kedudukan, dari benda-benda dan hal-hal duniawi sangatlah bertolah kebelakang dengan Dhamma yang kekal. Dhamma yang dimaksudkan disini adalah Dhamma yang kekal, sang Ajaran Pokok, Hukumn-Hukum Alam, Hukum-Hukum Kebenaran, yang telah ada dan berlaku dari sejak dahulu kala, sekarang, maupun untuk masa yang akan datang; sedangkan benda-benda dan hal-hal duniawi - semacam barang-barang (yang bisa dimiliki), diri manusia ini, ilmu-ilmu pengetahuan, hingga kepada gagasan-gagasan dan pemikiran-prmikiran manusia -, semua ini bisa berubah, selalu berubah, dn pasti akan berubah. Ia terkena hukum-hukum alam, hukum anicca. dan lain lain. Pendek kata, terkena oleh Dhamma itu sendiri. Sedangkan Dhamma, tidak pernah berubah. Dhamma tidak mungkin dan tidak akan berubah sesuai dengan kehendak manusia. Bukan karena manusia mengatakan Dhamma berubah, lalu Dhamma (akan benar-benar) berubah. Tidak! Hanya manusia bodohlah yang akan dan mau percaya kepada pemikiran-pemikiran sempit semacam ini.

Read more: Dhamma Memang Bukan Barang Baru

Category: Goresan Kebenaran Published: Tuesday, 26 December 2017

Dhamma Cahaya Kehidupan
Oleh : Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro

 

Tanpa terasa bahwa tiga hari kita telah melangkah dan memasuki tahun 1999. Di tahun baru ini kita membuka harapan dan cita-cita yang baru. Walau, tentu kita tidak melupakan berbagai macam pengalaman yang telah kita alami dan kita lalui selama satu tahun di tahun 1998. Apakah itu pengalaman yang menyenangkan, menggembirakan, yang membuat hati kita bahagia, atau sebaliknya, yaitu: pengalaman yang menyedihkan, mengerikan bahkan yang memilukan.

Read more: Dhamma Cahaya Kehidupan

Category: Goresan Kebenaran Published: Wednesday, 20 December 2017

Dhamma Adalah Harta Yang Paling Mulia
Oleh : Venerable Phra Ajahn Yantra Amaro

 

Khotbah ini adalah hari yang istimewa saat anda semua datang untuk memberikan dana makanan dan persembahan, serta memohon tuntunan sila bersama.

Dhamma adalah harta yang paling berharga. Jika misalnya seseorang menggali dan menemukan, serta memanfaatkannya, orang tersebut akan menjadi kaya dalam sepanjang hidupnya, kaya dalam kesadaran dan kebijaksanaan serta amat bahagia.

Dhamma berarti segala sesuatu yang baik, sejuk, damai, sejahtera, dan terang. Seseorang yang telah memperoleh pengertian tentang Dhamma memiliki hati yang baik, tenang, damai, bermanfaat, berbudi luhur, dan bijaksana. Apapun yang ia lakukan, dilakukannya dengan penuh semangat, perhatian, dan kebijaksanaan, karena batin mereka tenang dan damai, dan pikiran mereka terang dan jernih. Seseorang yang memiliki Dhamma tidak pernah merasa kesepian tetapi penuh daya/semangat, pengetahuan, kesadaran, dan kebahagiaan.

Read more: Dhamma Adalah Harta Yang Paling Mulia