Category: Kasih Mahayana Published: Tuesday, 21 November 2017

Seks: Bolehkah DiNikmati?
Oleh : Yang Mulia Lama Yeshe

 

Apakah Buddha sendiri memberikan daftar perbuatan seksual apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh umat awam?

 

Seks adalah bagian dari kehidupan kita, terutama bagi mereka yang telah menginjak usia dewasa. Dunia pergaulan saat ini sudah tidak seperti dulu lagi, kebebasan mereka merebak ke mana-mana. Ada seks bebas, ada homoseksualitas, seks sebelum menikah, perzinahan, dan sebagainya. Bagaimana kita sebagai umat awam menyikapinya? Apakah itu boleh, apakah itu tidak boleh?

 

Tentu saja bagi mereka yang mengambil sila untuk hidup selibat, seks jelas tidak boleh dilakukan. Tapi bagaimana dengan umat awam? Apakah ada aturan berhubungan seks bagi umat awam dalam ajaran Buddha?

 

Etika Buddha tentang Seks

Winton Higins, dalam ceramahnya kepada The Macquarie University Buddhist Society, mengatakan bahwa tradisi buddhis bicara lebih sedikit dibandingkan yang lain tetapi sebenarnya cukup tegas. Sebgai ganti peraturan ynag tetap dan resmi, ajaran Buddha menyediakan prinsip-prinsip pedoman umum bagi kita, tetapi kita juga tidak lepas dari kewajiban untuk melakukan penilaian secara moral pada setiap situasi yang kita hadapi.

Seperti agama lain, ajaran Buddha juga punya etika yang kuat terhadap hubungan manusia dan perilaku sesksual secara umum. Mari kita lihat Pancasila, kelima sila yang diambil umat awam

Aku mengambil latihan sila:

  1. Menahan diri dari melukai makhluk hidup / mempraktekkan cinta kasih.

  2. Menahan diri dari mengambil yang tidak diberikan/ mempraktekkan kemurahan hati.

  3. Menahan diri dari melakukan perbuatan seksual yang salah/ mempraktekkan kepuasan hati.

  4. Menahan dari dari ucapan salah / mempraktekkan komunikasi yang jujur.

  5. Menahan diri dari minuman keras / mempratekkan kesadaran.

Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan perbuatan seks yang salah, kita harus melihat ke sila-sila lain. Perbuatan seks yang salah berarti semua perbuatan seks yang melibatkan kekerasan, penyalah gunaan, atau kebohongan perbuatan yang mengakibatkan penderitaan dan masalah. Sebaliknya, perbuatan seks yang baik itu berdasarkan cinta kasih, kemurahan hati, kejujuran, dan kejernjihan mental an emosional perbuatan yang memiliki hasil baik.

Bila dalam kehidupan seksual, kita bersikap tanpa kekerasan, tidak mengambil apa yang tidak diberikan dengan sukarela, tidak menipu, dan tidak ebtindah berdasarkan keadaan pikirang yang penuh khayal dan tidak bertanggung jawab, kita tidak akan melakukan pelanggaran sila ketiga. Etika seksual Buddha Dharma yang sangat keras, sudah lengkap tanpa sila ketiga. Sila ketiga diletakkan disitu untuk lebih menekankan. Seksualiatas adalah energi yang sangat kuat, fokus dari banyak keterikatan, kesombongan dan khayalan. Oleh karena itu, seksualitas perlu sebuah sila khusus.

Winton Higgins memberi contoh pelecehan seksual sebagai perbuatan yang melanggar sila ketiga karena menyakitkan dan melibatkan ‘mengambil yang tidak diberikan’ dilakukan dengan dasar anggapan dan khayalan yang mengakar pada pria bahwa wanita selalu bersedia menjadi objek seksual terus-menerus. Perkosaan dalam perkawinan juga sama saja. Begitu juga dengan pronografi yang penuh kekerasan dan kebencian terhadap wanita yang dapat menciptakan lingkungan yang kejam dan tidak aman bagi perempuan. Pornografi ini dapat menimbulkan keadaan pikiran yang bodoh dan jahat pada pria, termasuk khayakan tentang hakikat perempuan dan apa yang mereka inginkan. Jadi baik pria maupun wanita, keduanya mengalami penderitaan. Publikasi dan penggunaan pronografi yang merendahkan wanita juga melanggar sila ketiga.

Tetapi, selain hal-hal yang disebut diatas, apakah Buddha sendiri memberikan daftar perbuatan seksual apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh umat awam? Menurut Higgins, daftar itu tidak ada. Mengapa? Karena menurutnya, Buddha Dharma bukan tipe agama-etnik tapi ajaran yang universal. Agama-etnik biasanya ikut mengatur aspek-aspek kehidupan sipil, termasuk masalah reproduksi dan kelangsungan hidup suatu bangsa, sehingga agama-agama itu melarang seks yang tidak bertujuan untuk menghasilkan anak. Buddha tidak mengatakan apa-apa tentang kehidupan seks umat awam, tetapi Beliau langsung menginspirasi begitu banyak umat awam untuk mengikutiNya dan hidup selibat sebagai bhikkhu/ni yang sama sekali meninggalkan hal-hal yang berhubungan dengan seks, tetapi karena hidup berumah tangga biasanya akan berakhir dengan banyak anak yang harus diberi makan, pakaian dan rumah. Sebagai orangtua, orang hanya punya sedikit kebebasan atau waktu untuk kemajuan spiritual. Hidup selibat jauh lebih praktis bagi banyak orang yang terdorong oleh kebutuhan spiritual.

 

Seks dalam Perkawinan

Di negara Buddhis, setelah perayaan pernikahan para pengantin akan pergi menemui seorang Bhikkhu/ni dan meminta berkah darinya yang biasanya berupa kata-kata nasihat yang menerangkan tentang bagaimana mengharmoniskan hubungan suami-istri. Achan Chah, guru besar meditasi di Thailand, kedatangan banyak pengantin di wiharanya. Beliau akan mengatakan pada mereka, “Kalian telah menyerahkan tangan kalian dalam pernikahan. Tangan kalian punya lima jari. Anggaplah lima jari itu sebagai lima sila. Praktikkan sila-sila itu dalam perkawinan kalian dan perkawinan kalian akan bahagia. Itu saja yang kalian butuhkan.”

Winton Higgins berpesan, “Buddha tidak melarang seks. Praktikkan dengan terampil dalam semangat kelima sila, seks dapat membawa kebahagiaan. Seperti salah seeorang guru meditasi favorit saya yang menyimpulkan, ‘tidak ada salahnya menari sedikit bersama keinginanmu, selama keduanya dapat mendengar musik dan hati mereka terbuka’. Bahkan saya pikir Buddha Dharma mungkin meningkatkan kehidupan seks kita dalam latihan meditasi, di mana kita belajar keterampilan inti dari kesadaran untuk menjaga hati. Pikiran, dan tubuh kita berada di satu tempat pada waktu yang sama. Jadi ketika tubuh anda sedang mengalami saat menyenangkan bersama seorang teman yang Anda sayangi, pikiran Anda tidak menderita karena memikirkan rincian pajak, misalnya.

Tetapi kita juga harus betanya secara pribadi kepada diri sendiri, berapa banyak energi dan waktu yang seharusnya kita berikan pada seks, betapapun terampilnya praktis seks kita. Di urutan berapa seks berada dalam proiritas kita yang ketat dan tidak boleh dihindari, yang harus kita terapkan dalam hidup kita yang sibuk? Ketika kebanyakan dari kita harus berjuang mencari waktu untuk duduk bermeditasi setiap hari, ikut kelompok meditasi rutin setiap minggu atau pergi retreat? Sebagian dari jawaban itu akan tergantung pada seberapa pentingnya moral dalam komitmen kita terhadap rekan seksual kita. Banyak orang berusaha untuk membuat komitmen dan hubungan ini menjadi fokus fokus utama dari makna moral dalam kehidupan mereka, seperti yang disarankan Achan Chah. Tampaknya ini adalah jalan terbaik menuju kehidupan yang tak terpisahkan sebagai seorang praktisi spiritual dan seorang makhluk seksual.

 

[sumber: BuddhaZine / www.buddhanet.net. Dikutip dari Majalah Manggala Edisi Agustus - September 2001]

 

 

Hits: 119