Category: Kasih Mahayana Published: Friday, 06 October 2017

Kebahagiaan Tiada Akhir
Yang Mulia Maha Bhiksu Hsing Yun

 

Suatu ketika, Su Tong Po dan Chi’in Shao Yu berdebat sengit tentang asal mula seekor kutu. Guru Zen Fo Yin berkomentar tentang konfrontasi tersebut, menyulis syair ini:

Angin sepoi-sepoi musim semi berhembus melalui sebuah pohon mengambil dua jalur,
Menghangatkan cabang pohon selatan sambil mendinginkan cabang pohon Utara,
Ini dia, sebuah pemikiran dari Barat,
Sedikit menyorot ke jurusan Barat dan sedikit ke Timur.

Syair ini merupakan salah satu syair favorit pribadi saya karena ide kebahagiana universalnya. Untuk waktu yang lama saya sudah sering mendeklamasikannya. Kemudian datanglah kesadaran ini: Dengan menjadi diri saya sendiri dan menanggulangi masalah-masalah, saya sungguh-sungguh menginginkan kebahagiaan untuk semua.

 

Kebahagiaan Sejak Lahir

Kecenderungan untuk memastikan setiap orang bahagia, bermula sejak diri saya lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Meskipun miskin, saya tidak akan berpikir dua kali untuk berbagi dengan teman-teman bermain, sepotong kue yang saya dapat dari kuil Buddha atau sebutir kerikir unik dekat pingiran jalan seolah-olah itu adalah mutiara. Di hari-hari raya saya akan membawa keluar permen milik keluarga saya ke halaman depan dan memberikannya kepada teman-teman baik saya dengan sepenuh hati. Pada akhirnya, tetangga-tetangga akan menggoda ibu saya karena memelihara anak yang aneh. Bagi saya, secara jujur, saya tidak mempunyai gambaran seberapa sulit menari sesuap nasi oleh orang-orang yang lebih tua. Saya hanya merasa senang melihat setiap orang berbahagia. Jadi saya tidak pernah lelah unuk melakukannya dan penghinaan atau ejekan idak pernah mengurangi semangat saya.

Pada usia 12 tahun, saya meninggalkan rumah untuk menjadi seorang biarawan dan memasuhi sebuah kehidupan yang benar-benar lepas dari hal-hal duniawi. Meskipun demikian, saya masih terus mencari kebahagiaan untuk siapa saja dalam setiap hal yang saya lakukan. Sementara saya tenggelam dalam ajaran Dharma, saya mampu membedakan antara pemahaman Dharma dan praktek Dharma. Saya berangsur-angsur sadar bahwabelas kasih dan kemurahan hati, kata-kata baik dan tindakan yang mendukung di dalam ajaan Buddha sungguh-sungguh di maksudkan untuk memastikan semua manusia akan hidup bahagia

Sepanjang karir saya sebagai seorang murid dan seorang oembicara Dharma, saya akan berusaha keras untuk memastikan kesejahteraan merata bagi semua orang, berita-berita baik ada untuk setiap orang, semua kesukaran sirna, sedangkan bena-beban dan penderitaan menjadi milik saya. Seorang pekerja kasar/rendah seperti saya di biara waktu itu ketiak saya baru tiba di Taiwan pada tahun 1949, akan bekerja keras untuk meluangkan waktu membaca dan menulis di luar beban kerja yang sangat berat. Kemudian saya menyadari hal itu sebenarnya tidak cocok untuk pencarian ilmiah saya. Jadi saya mengatur ulang waktu saya untuk bekerja di pagi hari dan belajar di malam hari. Saya berhasil mempelajarilogat penduduk asli, yang mana memungkinkan saya untuk berkomunikasi secara bebas dengan orang lain dan untuk mengerti nasehat/ajaran kepala biara untuk beragam pendengar. Semua yang dilakukan dengan baik, berakhir dengan baik.

 

Jembatan Penghubung Perbedaan Generasi

Pendekatan inovatif yang saya pakai ketika saya berbicara di Ilan pada tahun 1952 menarik satu kelompok biarawan muda yang semangatnya berbeda dengan biarawan yang lebih tua. Saya ingin menjembatani jurang oemisah antar dua generasi ini agar yang tua dan yang muda hidup bahagia berdampingan selama-lamanya. Sampai sekarang, pendeta-pendeta Tzu Chuang, Hsin Ping, Tzu Hui, Tzu Jung, Tzu Chia, danyang lainnya masih mengingat bgaimana Ai-ku sering membawakan say semangkuk mie biasa, bersikeras tidak boleh ada orng yang menyentuhnya, dan bagaimana saya akan menunggu sampai dia pergi untuk membaginya dengan semua orang. Waktu tidak bisa dibalik, tetapi kesenagnan masa lalu pasti akan selalu kembali. Bukan itu saja, tetapi selamanya saya akan memastikan semua orang berbahagia. Ika suatu saat saya menjadi satu-satunya orang yang diberikan semangkuk nasi ketika yang lain tidak, atau mie dimasak dengan cepat untuk saya sesudah kepergian tamu-tamu, saya secara jujur akan mejadi sangat tidak senang.

Saya akan melayani tamu yang paling muda dan yang paling junior datang untuk mendengarkan saya berbicara sebaik mungkin. Saya juga akan mengundang mereka minum teh dan makan makam denga saya atau eprgi bertamasya bersama. Kadang-kadang para tamu menyia-nyiakan dan ragu-ragu untuk memberikan respon, dan peduli akan kepentingan saya, murid-murid atau tamu-tamu lain yang menunggu akan berusaha untuk ikut campur. Tetapi rasa malu tidak akan cukup untuk mengekang saya. Apa yang saya inginkan adalah supaya setiap orang menjadi bahagia. Karenanya dinamakan Reverse Vehicle of Compassion, saya dengan penuh kerendahan hati hanya dapat berjanji untuk meniru Bodhisatva Avalokitesvara dalam meringankan penderitaan semua makhluk hidup dan membawa kegembiraan bagi semua.

Mengenai masalah transportasi, saya akan selalu menyesuaikan diri dengan kenderaan apapun yang kami dapatkan. Belakangan ini saya bepergian dengan sebuah mini van berkapasitas 9 penumpang. Dengan cara itu kami semua dapat bepergian bersama-sama dengan tenang dan senang. Pernah dalam perjalanan tahunan ke kuil-kuil cabang bersama dengan murid-murid kelas tamatan dari perguruan tinggi Buddha, saya betul-betul menikmati perjalanan tersebut dimana saya bergiliran menumpang masing-masing dari ke empat bus itu, jadi saya dapat melewatkan waktu bersama semua orang. Kadang - kadang keprihatinan murid-murid bahwasaya mungkin sangat keletihan.

Sekembalinya saya, saya tidak dapat menunggu untuk berbagi cerita dan cindera mata dengan murid-murid dan para umat. Saya mau setiap orang pulang membawa sesuatu setiap kali datang. Itulah intisari dari kebahagiaan untuk semua.

 

Kegembiraan Untuk Dunia

Dengan aktivitas awal yang terkonsentrasi di Ilan, utara Taiwan, para umat di selatan juga menyuarakan tuntutan mereka. Tahun-tahun berikutnya penuh dengan perjalanan pulang pergi yang tak henti-hentinya. Pada akhirnya, Fo Kuang Shan mendirikan banyak kuil-kuil cabang di seberang Taiwan dan di seluruh dunia masing-masing untuk melayani para umat disetiap tempatnya tersebut. Banyak yang ingin tahu tentang usaha besar-besaran ini dan besarnya biaya yang mereka perlukan. Intinya, pengumpulan dana diadakan secara lokal sehingga setiap orang akan berbagi kebahagiaan dalam memberi.

Kami di Fo Kuang Shan percaya dalam “Membantu orang-orang lanjut usia, mempekerjakan yang kuat dan mendampingi yang muda.” Untuk bahagia selama-lamanya, kita tidak boleh lelah dalam pencarian posisi dan praktek yang cocok dengan sifat dasar kita sendiri. Masing-masing dari kita adalah penjelmaan dari semangat kemanusiaan agama Buddha. Apa yang lebih baik dalam menunjukkan sebab agung dari penyebaran Dharma adalah untuk kepentingan semua makhluk hidup daripada sebuah realisasi!

 

Keharmonisan Di Antara Kami

Bukannya menghitung umat yang tak terbilang, saya mestinya telah memperoleh lebih dari 1000 murid semuanya. Mereka dari segala umur dan daang dari bermacam-macam lingkungan pergaulan. Dan tidak satupun memiliki watak atau pemikiran yang sama. Kunci satu-satunya bagi keharmonisan dalah membiarkan mereka hidup dengan bahagia selama-lamanya! Setiap tahun pada pergantian dan penempatan personil, saya akan mewawancarai semua lulusan dan dokter rumah sakit dari perguruan tinggi Buddhis, bertanya tentang aspirasi mereka, kelebihan pelajaran, dan bahkan masalah keluarga dan memberi mereka nasehat. Dalam proses it, saya memastikan perubahan susunan tahunan selesai dengan kegembiraan.

Jurang pemisah antar generasi hampir tidak ada di Fo Kuang Shan. Selama hampir 30 tahun suasana harmonis berlaku. Ketidakhadiran pemusuhan tentunya ada hubungannya dengan kegembiraan pembawaan lahir saya. (Saya jarang mengungkit masalah-masalah yang suda diselesaikan oleh murid-murid) urusan yang tidak dilaporkan kepada saya, saya melepaskannya kepadaorang lain; kesalahan besar saya perbaiki bersama-sama dengan yang berwenang; kekeliruan bicara dapat saya sembunyikan dengan baik – mungkin dengan sedikit humor – mengharapkan dapat belajar dari pengalaman.

Begitu pula, kami di Fo Kuang Shan selalu berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar, membiayai keperluan-keperluan umum dan membantu memperbaiki kondisi kehidupan, membangun sekolah-sekolah dan kelas-kelas untuk orang-orang muda, merayakan pesta-pesta dengan penduduk, dan memberi kepda yang membutuhkannya – hanya agar kita semua dapat hidup bahagia selama-lamanya.

 

Kedamaian Sampai Ke Masyarakat

Tahun 1990, Xu Jiatun, waktu itu kepala kantor cabang Hong Kong dari perwakilan berita New China, datang menemui saya sesudah tiba di Amerika Serikat. Kami berdua berasal dari kampung halaman yang sama di China dan saya ingin memastikan dia akan disambut kembali suatu hari nanti. Selain itu, tidak ada negera yang akan merasa kehilangan karena kepergiannya. Jadi saya menerimanya, dan dia dan semua kelompoknya bahagia sesudah itu.

Bulan Maret yang lalu, Taiwan diguncang oleh percekcokan tentang sebuah patung Bodhisatva Avalokitesvara di sebuah taman umum pusat kota Taipei. Pertikaian itu kelihatannya tidak akan berakhir. “Jika bukan saya yang harus menempuh neraka, siapakah yang harus!” Saya mulai mencoba mempengaruhi dan menyatukan pendapat dari seiap pihak umat Buddha dan Kristen dengan pihak pemerintah yang pada akhirnya mencapai sebuah keputusan yang menggembirakan semua pihak. Umat Buddha tetap mendapatkan patung Bodhisatva mereka, pihak pemerintah martabat mereka, dan umat Kristen diarahkan kepada jalan yang lebih baik. Belakangan ketika di tanya bagaimana saya dapat mencapai akhir yang menggembirakan itu, jawaban saya adalah saya sudah berharap sejak semula.

Terlalu sering saya menjadi orang yang mendamaian politis yang suka bertikai, di antara penguasa dan masyarakat yang saling bertentangan, di antara badan-badan pemerintah yang bermusuhan dan di antara figur-figur umum yang bersaing. Saya ingat beberapa tahun lalu saat penetapan hukum yang berhubungan dengan perang di Taiwain, yang ukup ganjil sebab diikuti oleh perselisihan buruh besar-besaran. Hari itu juga saya mengadakan sbuah rapat umum dengan seluruh 600 staf anggota dan bertanya apakah ada anggota yang bermaksud untuk mengikuti demonstrasi meminta kenaikan gaji. Pada puncaknya, saya bertanya jika setiap orang dapat mengatasinya. Saya harus mengakui saya cukup kaget mendengar persetujuan umum / konsensus yang ada. “Kami tidak membutuhkan kenaikan gaji. Di Fo Kuang Shan kami mempunyai keyakinan, dan kami memiliki kegembiraan yang tiada bandingnya!” Betapa membanggakan!

Tentu saja ada hari-hari baik dan ada hari-hari buruk. Kadang-kadang maksud untuk membawa kebahagiaan kepada semua sama sekali tidak berlaku. Orang-orang tua di rumah tidak dapat berbagi selera dan rasa yang sama; banyak laki=laki dan perempuan muda tidak dapat menemukan kesempatan untuk menjadi biarawan/biarawati ketika mereka menginginkannya; dan terlalu banyak harapan masih menunggu untuk ditampung dan diwujudkan.

Suatu ketika, sejumlah anggota menganggap kebebasan dan ilmu pengetahuan merupakan 2 faktor penting dalam kemajuan sosial. Tetapi lihatlah urusn dalam negeri Taiwan. Persaingan itu kejam, baik dalam pemilihan politik ataupun ujian sekolah; norma-norma kelihatan tidak ada, baik dalam undang-undang pemerintahan ataupun kebijakan badan hukum. Jika praktek demokrasi dan ilmu pengtahuan dan teknologi gagal untuk melahirkan perasaan gembira dan diberkahi. Mereka tetap akan gagal pada waktunya. Pembicaraan tentang penyatuan tentu saja ada. Tetapi perlu perhatian bahwa penyatuan hanya akan berarti sesuatu ketika kedua pihak dapat mendekati pokok persoalan dengan tujuan penuh demi mencari kebahagiaan bersama untuk selama-lamanya

 

Sumber Asli: Universal Gate #192 , September 1995. Halaman 186 -189.
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Bodhi Buddhist Centre Indonesia.

 

 

Hits: 38