Category: Kasih Mahayana Published: Monday, 27 November 2017

Ikrar Bodhisattva
Oleh : Ch'an Master Sheng-Yen

 

Pengantar

Dalam Buddhisme Mahayana ada sebuah slogan yang berbunyi: "Memiliki Ikrar untuk dilanggar, itulah jalur Bodhisattva. Tidak punya ikrar apapun buat dilanggar, itu justru bukan jalan Buddhadharma?"

Banyak umat Buddhis tahu bahwa: menerima Sila Bodhisattva akan menghasilkan pahala serta kebajikan yang luar biasa. Namun umumnya mereka hanya percaya saja tanpa sungguh memahami makna yang mendalam dari ikrar tersebut ataupun tentang praktik yang harus dijalani sebagia konsekuensi dari penerimaan sila. Mereka hanya sekedar menerima begitu saja tanpa benar-benar tahu apa yang harus dijalani selanjutnya.

 

Memantapkan Laku, Mengatasi Penderitaan.

Sebelum mengalami pencerahan sendiri, bagaimana para praktisi tradisi Mahayana? yakni: para Bodhisattva dapat dengan teguh menempuh tugas yang nampaknya mustahil yaitu: bagaimana mungkin menolong semua makhluk mencapai pembebasan, kalau mereka sendiri saja belum mencapai pembebasan, mana mungkin benar-benar mampu membantu orang lain mencapainya? Kalau memang belum tahu bagaimana cara berenang, bagaimana mungkin kita dapat menyelamatkan orang lain agar tidak tenggelam? Dan jika pada akhirnya, dengan segala usaha kita berhasil belajar cara berenang dan sudah bisa selamat sampai ke pantai, mengapa kita harus membahayakan keselamatan sendiri dengan terjun kembali ke pergolakan ombak demi menolong orang lain? Dengan mental seperti ini, banyak praktisi tergopoh-gopoh memburu pembebasan dirinya sendiri dari segala penderitaan. Mereka hanya berusaha membebaskan dirinya sendiri dari samudera samsara dan mengasikan diri dari dunia kehidupan makhluk lain. Dan akan luar biasa sulit dan memerlukan waktu yang tak terhingga untuk membangkitkan kembali pikiran-Bodhi bagi mereka.

Padahal sesungguhnya, kita tidak dapat menyelamatkan orang yang tenggelam dengan cara melarikan diri ke permukaan air menuju ke pinggir pantai. Dan apabila kita tidak tahu cara berenang, suka atau tidak, satu-satunya cara untuk belajar berenang adalah berada di dalam air itu sendiri. Demikian pula jalur Bodhisattva: harus dilatih ditengah-tengah dunia penderitaan, di tengah amukan samudera samsara. Guna mencapai hal ini, kita memerlukan kekuatan serta ketrampilan supaya tidak tenggelam. Kita tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan Buddha semata, jangan pula menunggu sampai tercerahkan sepenuhnya. Kita memang memerlukan: kebijaksanaan yang cerdik, ikrar dan keyakinan yang kokoh, pengembangan metta dan karuna terus menerus, serta pemahaman tuntas akan hakekat shunyata.

Dengan memelihara keseimbangan di keempat aspek tersebut maka kita akan selalu terdorong dan selalu dilindugi bahkan pada masa-masa sulit sekalipun. Dan dengan mempratekkan keempat aspek tersebut kekotoran batin, dan gangguan emosional akan terkikis serta akan membawa kita menuju pemahaman yang benar akan shunyata. Guna menantapkan Jalan Praktik dan membangun diri agar tidak terperosok lagi, adalah penting sekali untuk menerima Sila Bodhisattva. Mengkomitmenkan diri pada praktik ini adalah langkah nyata yang harus kita ambil guna mengembangkan serta menjaga diri pada arah yang tegas menuju kebuddhaan.

 

Sepuluh Perbuatan Baik (Dasa Kusala Karma)

Selain Pancasila yang merupakan panduan dasar untuk berperilaku bajik yang membentuk landasan dari laku vinaya, kita dapat memperluas dan memperdalam praktik kita dengan mengkombinasikan Sepuluh perbuatan baik (Dasa Kusala Karma), yakni untuk tidak terlibat dalam: pembunuhan, mengambil yang bukan haknya, berbuat asusila, berbohong, kata-kata yang menyebabkan perpecahan, kata-kata kasar, bergossip, mendambakan milik orang lain, benci, serta pandangan-pandangan salah.

Sepuluh perbuatan baik ini pada dasarnya terdiri dari tiga kelompok praktik untuk memurnikan tiga kebocoran karma, yaitu: tubuh, ucapan dan pikiran.

Kelompok pertama: memurnikan perbuatan melalui badan jasmani, yaitu: bertekad untuk tidak membunuh, tidak mencuri atau mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan idak terlibat dalam perilaku asusila. Kelompok kedua: memurnikan ucapan, dipraktekkan dengan memberi perhatian-penuh dengan memberi perhatian penuh pada apa, bagaimana dan mengapa kita mengucapkan sesuatu kata-kata guna menegakkan ikrar: tidak berbohong, terlibat dalam ucapan yang memecah-belah, kata-kata kasar, dan bergossip. Kelompok yang ketiga adalah guna memurnikan batin: kita selalu memeriksa dan menjaga pikiran agar JANGAN: mendambakan milik orang lain, antipati atau dengki, ataupun berpandangan salah, seperti misalnya berpendapat bahwa: keberadaan makhluk hidup itu pada hakekatnya saling terpisah, sendiri-sendiri, kekal, di mana 'Aku'-nya eksis dalam takdir yang memang harus saling bertarung.

Apa yang kita lakukan lewat praktik ini sebenarnya adalah: secara bertahap mengikis 'tiga racun utama', yakni: ketamakan, kebencian, kebodohan (greed, hatred, ignorance) akar dari segala kekesalan dan gangguan emosional. Memang tidak mudah, namun dengan keyakinan pada Tiga Mestika, serta praktik Pancasila yang dikombinasikan dengan Sepuluh Perbuatan Baik maka kita pasti dapat mensucikan batin secara progresif ? suatu proses yang di dalam dan pada dirinya sendirinya pun sudah sangat luarbiasa bermanfaat bagi semua makhluk.

 

Tiga Pemupukan Sila Suci dan Jalan Bodhisattva

Tujuan utama transmisi Sila Bodhisattva adalah untuk menggubah hati dan pikiran kita akan: semangat altruistik melayani sesama dan berdedikasi penuh untuk mencapai pencerahan. Semangat ini di sebut pikiran-Bodhi (bodhicitta). Bodhi adalah kata dari bahasa Sanskrit, dan kata 'Buddha' sendiri berasal dari turunan kata tersebut yang dapat diterjemahkan sebagai: kesadaran, pencerahan, atau kebijaksanaan(wisdom). Landasan utama bodhicitta itu termanifestasi dalam Empat Ikrar Agung Bodhisattva yakni:
Makhluk hidup yang jumlahnya tak terhingga,
Aku bertekad membebaskan mereka semua,
Kekesalan batin tiada henti,
Aku bertekad memotongnya seketika.
Jalan Dharma luas tak terbatas,
Aku bertekad menguasainya.
Aku bertekad mencapai Kebuddhaan pamungkas.

Guna membantu merealisasi keempat ikrar itu, kita bertekad lebih lanjut untuk menjalani beberapa prinsip dan panduan tertentu yang mendukung kita mendisiplinkan diri dalam perilaku etis serta manusiawi  dalam berinteraksi dengan orang lain, dan untuk memurnikan hati serta pikiran dari tiga-racun dosa, lobah, avidya.

Disinilah kita melakukan transmisi Tiga Pemupukan Sila Suci yang berisi prinsip-prinsip esensial dari semua sistem Sila Bodhisattva yang sudah dibakukan dalam sejarah perjalanan Buddhisme Mahayana yang panjang dan kaya.

Tiga Pemupukan Sila Suci secara fungsional memiliki tiga bagian:

  1. Bertekad untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan dengan cara menjalankan sila.

  2. Memupuk kebajikan lewat perbuatan yang bermanfaat, dan

  3. Bekerja guna memberi manfaat kepada seluruh makhluk.

Tekad untuk menegakkan sila ini adalah perwujudan dari semangat yang melandasi seluruh praktek Buddhis, menghentikan kejahatan, berbuat kebajikan dan menolong semua makhluk hidup.

 

Pelanggaran Sila

Begitu kita menerima Tiga Pemupukan Sila Suci dan Empat Ikrar Agung Bodhisattva, kita akan terus berlatih mencapai pencerahan sempurna, tidak peduli berapapun banyaknya masa kehidupan yang akan dilewati. Begitu benih prajna dan karuna, yang juga dikenal sebagai ?esensi dari sila? telah ditanam di benak sang praktisi lewat ikrar Bodhisattva yang dibuatnya, maka ikrar tersebut akan menetap di ?gudang kesadaran? orang itu, dan hanya bisa lepas lewat pernyataan resmi dari yang bersangkutan bahwa ia memang berniat meninggalkannya.

Praktisi jalan Bodhisattva tidak akan kehilangan ikrarnya hanya karena melanggar salah satu sila. Namun bukan berarti bahwa ia dapat dikecualikan dari konsekuensi karma, atau bahwa sila itu secara 'ajaib' mampu melindunginya dari akibat tindakan-tindakannya itu. Justru sebaliknya, sebagian dari laku Bodhisattva itu adalah termasuk: 'agak lebih peka terhadap hukum sebab dan akibat' dan dengan demikian bersikap tanggung-jawab ata setiap tindakan yang akan dilakukan. Namun intinya perlu diketahui bahwa ikrar Bodhisattva tersebut akan tak lagi berlaku: HANYA lewat cara pernyataan resmi kita: bahwa kita memang bermaksud meninggalkannya.

Pelanggaran-pelanggaran serta penyelewengan disiplin yang berwujud tindakan atau buah-buah pikir buruk atau egois, apalagi bila sering dilakukan, tentu saja akan membuat 'esensi sila' dalam kesadaran (consciousness) si praktisi tersebut: kelam. Jika ia menjadi terbiasa melanggarnya, maka 'esensi sila' inipun akan kian gelap terselimuti mendung tebal, seakan menghilang. Namun seberapapun kabur-nya 'esensi sila' itu, sila itu tetap ada, karena ikrar Bodhsiattva takkan bisa kadaluwarsa atau hilang oleh pelanggaran. Kelak manakala sebab-dan-kondisi memungkinkan, niat welas asih sang Bodhisattva untuk berjuang demi menyelamatkan semua makhluk akan kembali muncul, dan kendatipun sila-nya sudah mati-suri, tetap dapat dihidupkan kembali lewat pertobatan serta pembaharuan ikrar secara formal.

Sekali lagi: ini bukan berarti bahwa karena ikrar tersebut takkan bisa hilang oleh pelanggaran maka kita boleh merasa bebas melanggarnya kapanpun juga. Namun sebaliknya, menyadari bahwa kita cenderung mudah lalai, karena itu kita harus lebih keras lagi dalam berpraktek, hingga sampai akhir hayat kita harus memanfaatkan setiap peluang untuk belajar dan berlatih sila (precepts).

Maksud utama menerima ikrar Bodhisattva bukan agar membuat si praktisi jadi terganggu rasa bersalah ataupun tegang ? namun justru guna menanamkan benih kebijaksanaan (wisdom) dan welas-asih (compassion) ke dalam benaknya. Seorang praktisi yang bersedia mempratekkan sebagian dari sila bersama dengan mengambil ikrar Bodhisattva, masihlah tetap dianggap sebagai Bodhisattva. Dengan mengambil ikrar Bodhisattva, maka seseorang telah masuk ke persamuan agung dan menjadi putra-putri keluarga Buddha.

Ringkas kata, demikianlah tugas praktisi jalan bodhisattva, sebagaimana selalu mengutamakan seluruh ikrar-ikrarnya, yakni: menjalankan seluruh sila suci, praktek dan mengembangkan kebajikan demi menolong seluruh makhluk. Maka sekali lagi saya mendorong kalian seluruh praktisi, apapun kemampuan atau kecondongan bakatnya, agar sepenuh hati menceburkan diri ke dalam Jalur Pembebasan ini dengan mengambil Ikrar Bodhisattva.

 

[Sumber: A General Introduction To The Bodhisattva Preceps - "Prepared For Participants of The Bodhisattva Initiation", oleh Master Sheng-yen, Dharma Drum Mountain Buddhist Foundation. Diterjemahkan dan disarikan oleh Ir. Agus Santoso.]

 

 

Hits: 134