Category: Kasih Mahayana Published: Friday, 06 October 2017

Keunggulan Berpikir
Yang Mulia Maha Bhiksu Hsing Yun

 

"Mendengar dilanjutkan dengan bersikap kritis (menganalisa dan memutuskan yang terbaik), ditambah dengan melatih diri. Kesemuanya ini dapat mengembangkan kebijaksanaan (Prajna). Jauhkanlah keserakahan, putuskan lingkaran kedengkian, pupuskan kebodohan; dengannya kita dapat menanamkan kesucian dalam hati."

"Saya berpikir, maka saya ada". Berpikir merupakan motivasi daripada budaya manusia. Karena manusia dapat berpikir, maka ia dapat mengembangkan kebijaksanaannya. Dalam agama Buddha diajarkan bajwa dengan mendengar, berpikir, dan berlatih, dapat mencapai tingkat samadhi. Kong Hu Cu, sang ahli filsafat, juga mengatakan bahwa untuk belajar, kita harus untuk senantiasa berlatih. "Belajar tanpa berpikir adalah buntu."

Berpikir sampai pada suatu tingkat tertentu akan mencapai kesadaran (smriti), penerangan yang telah dicapai oleh Guru Agung kitapun dicapai dengan berpikir. Dengan demikian, Beliau dapat menyadari teori tentang alam semesta dan kehidupan manusia. Banyak orang yang mengatakan bahwa Sang Buddha adalah seorang agamawan, seorang Maha Guru, Maha Penyayang; namun sesungguhnya Beliau adalah seorang ahli pikir.

Dalam Zen, orang berlatih bagaimana mencapai kesadaran, dan juga selalu giat dan antusias bertanya, berpikir, dan melakukan diskusi. Dalam Zen, bermeditasi tidak hanya duduk diam saja, melainkan melakukan suatu diskusi dengan pikiran yang jernih.

Sebuah karangan baru dapat dikatakan sempurna apabila terdiri dari kumpulan hasil buah pikiran yang baik. Suatu gambar yang indahpun memerlukan proses berpikir. Sebuah ukiran batu yang artistik bukan menggunakan tenaga untuk mengukir, melainkan lebih dipengaruhi oleh pikiran yang mengandung seni. Sebuah bangunan yang tinggi tidak hanya memerlukan banyak tenaga manusia untuk membangunnya, melainkan juga merupakan buah pikiran seorang arsitek.

Pikiran merupakan penyebab dari realita dan realita merupakan akibat dari pikiran. Ada sebab, maka ada akibat. Para ahli teknologi, ahli filsafat, seniman dapat dikatakan sebagai para ahli berpikir. Namun yang disayangkan dari pendidikan saat ini adalah kurang mementingkan pengembangan berpikir dan hanya mementingkan sistem belajar saja. Para murid tidak diajak untuk mengembangkan nalar mereka dengan belajar menganalisa dan berpikir secara dinamis. Sebenarnya yang terpenting dari pendidikan dan pengajaran itu adalah proses yang dilalui si anak, bukan hasil tertentu yang harus dicapai. Seorang sastrawan, Fu Se berkata, "Dengan berani berandai. Dengan hati membuktikan bahwa berandai merupakan buah pikiran dan bukti merupakan realita."

Saat ini, sektor pertanian, pembangunan, perdagangan, dan teknologi di Taiwan berkembang dengan pesat. Kesemuanya itu tidak terlepas dari hasil pikiran manusia. Harta benda yang berlimpah, kemajuan teknologi, semuanya itu belumlah cukup. Kita masih mengharapkan bahwa di kemudian hari kita dapat mengembangkan sebanyak mungkin para pemikir yang memiliki kebijaksanaan agar kelak merekalah yang dapat membangun keharmonisan dan persatuan masuarakat yang sedang berada di sisi yang berbeda. Untuk itu, kewajiban kita adalah mendidik dan melatih generasi penerus bangsa sejak dini. Sejak kanak-kanak, kita ajak mereka untuk berpikir secara kreatif dan menanamkan kepada mereka apa yang dapat mereka sumbangkan bagi nusa dan bangsa di kemudian hari. Ibarat seorang ibu rumah tangga yang berpikir bagaimana caranya menggunting sehelai kain agar pas untuk sepotong pakaian. Atau seorang juru masak yang memikirkan bagaimana agar hidangan yang dimasaknya sesuai dengan selera orang yang menyantapnya.

Demikianlah, untuk memenuhi suatu keinginan, kita tidak hanya mengerahkan seluruh tenaga, namun diperlukan pemikiran yang jitu agar hasil yang dicapai seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan. Alam semesta ini tidaklah demikian terciptanya. Setelah beribu bahkan berjuta tahun, bumi terus berubah menurut buah pikir manusia. Manusia dapat mengembangkan daya pikirnya dan menciptakan sesuatu yang dapat menyebabkan perubahan di muka bumi ini.

Dalam agama Buddha Mahayana, terdapat suatu tempat yang merupakan tempat tinggal para Buddha, yang disebut Tanah Suci Sukhavati. Tempat yang suci ini ternyata dapat dibentuk lewat media pikiran manusia. Ya, manusia dapat menciptakan Tanah Suci Sukhavati lewat pikirannya. Bagaimana caranya?

Senantiasa menenangkan hati dan pikiran, menciptakan kerukunan dalam kehidupan, memupuk kesabaran, dan memperdalam Buddha Dharma.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

 

Hits: 40