Category: Kasih Mahayana Published: Tuesday, 28 November 2017

Jiwa Bodhisattva Keterlibatan Untuk Dunia
Oleh : Jo Priastana M.Hum

 

Adakah dinamakan manusia tanpa jiwa atau tanpa tubuh? Adakah keberadaan manusia tanpa disertai manusia-manusia lainnya? Sukar membayangkan manusia bila tanpa jiwa (nama) atau bahkan hanya jiwanya saja tanpa disertai tubuhnya, sebagaimana sama sukarnya membayangkan manusia sebagai makhluk individual-egois, hanya hidup untuk mementingkan dirinya sendiri dan bukan sebagai makhluk sosial yang hidup bersama dengan rekan-rekan manusia lainnya.

Makhluk jenis apakah itu, bila hanya jiwa tanpa tubuh (rupa), atau bila hanya tubuh tanpa jiwa (rupa). Begitu pula, adakah kesucian, kesempurnaan manusia itu, kesadaran makhluk ber-Buddha itu hanya untuk kepentingan diri semata tanpa adanya keterlibatan dengan dunia atau dengan penderitaan sesama? Tak ada yang lepas sendiri tanpa tergantung satu sama lainnya dan karenanya diperlukan keterlibatan bersama.

Dikatakan dalam Buddhadharma bahwa BODHISATTVA adalah calon Buddha. Ini menunjukkan bahwa setiap calon Buddha pasti memiliki jiwa Bodhisattva, karena hanya makhluk yang ber-bodhi-lah yang dapat mengembangkan kebuddhaan dan akhirnya menjadi Buddha.

Hal ini juga menunjukkan bahwa karena setiap makhluk memiliki jiwa Bodhisattva pastilah bercita-cita mencapai Penerangan Sempurna. Bodhisattva bercita-cita mencapai penerangan sempurna. Dan sebagai makhluk manusia yang berjiwa dan bertubuh, maka setiap Bodhisattva akan mengembangkan jiwa Bodhisattvanya dengan juga melibatkan ketubuhannya.

Artinya, adalah tidak mungkin mencapai cita-cita kebuddhaan bila tanpa disertai pengembangan jiwa melalui tubuh. Pikiran yang suci dan murni terwujud melalui ucapan dan tingkah laku yang baik dan bagus. Kasih sayang dan cinta kasih terlihat dalam menolong dan membantu sesama.

Begitulah sesungguhnya jiwa Bodhisattva itu bekerja, dengan penuh keterlibatan. Dibandingkan cita-cita Arahat yang peduli kepada kesucian sendiri, Bodhisattva dipandang lebih menonjolkan jiwa altruisme, sikap yang peduli pada penderitaan makhluk lain.

Untuk pengembangan jiwa luhur inilah, maka para Bodhisattva memiliki ikrar. Ikrar atau pranidhana untuk menolong semua makhluk mencapai pembebasan yang memerlukan keterlibatan sosial itu berbunyi: bertekad untuk

  1. Menolong semua makhluk tanpa terkecuali.

  2. Menghancurkan semua keinginan yagn buruk.

  3. Mempelajari kebenaran dan mengajarkannya kepada yang lain.

  4. Mencapai penerangan Sempurna, membimbing semua makhluk agar dapat merealisasi kebuddhaan.

 

Bodhisattva Untuk Dunia<

Bila di dalam penderitaan eksistensial mereka yang mengalaminya dan merasa terpaku, cenderung akan mengatasinya dengan bersifat individual membersihkan kilesa (kekotoran batin) seperti dalam cita-cita kesucian mencapai Arahat, maka di dalam cita-cita seorang Bodhisattva yang memiliki jiwa altruis yang penuh kasih sayang dan prajna akan berusaha untuk melenyapkan penderitaan sosial sebagai pengembangan paramita dan perwujudan ikrarnya.

Para Bodhisattva ini yang dengan pencerahan prajanya (kecerdasan spiritualnya) menyelami jarring kehidupan, kesalingtergantungan segenap makhluk di alam semesta ini sehingga sang Bodhisattva ini mampu melihat penderitaan bersama, lebih mementingkan kebersamaan, bahwa penderitaan itu ada bersama dan karenanya bersifat social, menjadi tanggung jawab bersama untuk mengatasinya.

Cita-cita Bodhisattva akan cenderung memiliki kekuatan untuk mengatasi penderitaan sosial. Adalah amat diperlukan terjadinya transformasi sosial dalam kehidupan manusia di dunia untuk terjadinya pelenyapan penderitaan sosial dan menjelmakan tanah suci sukhavati atau kebahagiaan dalam kehidupan di dunia.

Dan upaya itu tidak lain adalah ditujukan bagi penderitaan bersama, melalui jiwa Bodhisattva dengan segenap upaya kausalyanya atau ketrampilan melakukan kebajikan-kebajikan, dalam mengembangkan paramita seperti: mengembangkan kemurahan hati dan pengorbanan (dana), disiplin moral (sila), kesabaran dan menahan nafsu (ksanti), semangat dan usaha, keuletan, ketabahan (virya), samadhi atau kontemplasi (dhyana), dan kebijaksanaan (prajna).

Jiwa Bodhisattva inilah yang bisa memetik hikmah Waisak yang sesungguhnya yakni kehadiran mereka yang menjadi Buddha, yang datang untuk pembebasan manusia dari berbagai macam bentuk dan jenis penderitaannya.

Terutama dalam mengatasi penderitaan sosial, maka dibutuhkan Bodhisattva-Bodhisattva yang hidup pada masa ini yang mengabdikan hidupnya untuk aktif melakukan keterlibatan sosial demi perubahan masyarakat, sebagaimana yang telah dilakoni para pejuang Buddhis, tokoh pembaharuan sosial, atau tokoh Buddhism Enganged (Buddhadharma yang memiliki keterlibatan) yang merupakan Bodhisattva-Bodhisattva masa kini seperti : Sulak Sivaraksi (Thailand), Thich Nhat Hanh (Vietnam), Maha Ghosananda (Kamboja), Dalai Lama (Tibet), Aung San Sun Kyi (Myanmar), AT Aryatne (Srilanka), Daisaku Ikeda (Jepang), Chen Yen (Taiwan), Shantikaro (Amerika), Buddhadasa (Siam), Ven. Sangharakshita (Inggris), Dr. B.R. Ambedkar (India).

Maupun tokoh-tokoh perempuan, feminis Buddhis seperti: Amchi Kandro Yangkar (Tibet), Ven. Karma Lekshe Tsomo, Ven. Thubten Chordron (Wstern Nuns), Dr. Chatsumarn Kabilsingh, Voramai Kabilshingh, Voramai Kabilshingh (Thailand), Ven. Ayya Khema (AS, keturunan Yahudi), Madhumaya (India), dan Ayya Santini (Indonesia).

 

Jiwa Yang Terlibat

Disinilah letak terang cahaya kesempurnaan menjadi Buddha dalam malam Waisak yang disamping menumbuhkan akan keterpesonaan seorang manusia luhur yang sempurna kesuciannya namun juga menawarkan tantangan untuk terjun aktif dalam pembebasan penderitaan masyarakat sebagai penyempurnaan paramita dengan mempergunakan upaya kausalya Bodhisattva ? ketrampilan berkebajikan dari orang yang mengembangkan kesadaran Buddhanya.

Upaya-upaya dalam berkebajikan yang bisa dilakukan entah itu melalui karya sosial karitatif, pemberdayaan masyarakat, maupun gerakan-gerakan perubahan sosial yang bersifat struktural, dan yang sesuai dengan kekhasan, potensi dari individu, komunitas yang bersangkutan.

Bagi masyarakat Buddhis dan juga masyarakat luas pada umumnya adalah sangat tepat bila dalam kesempatan Waisak ini kita mengenali sepercik pencerahan sosial dari para Bodhisattva jaman kini berupa pesan yang tertuang dalam deklarasi pertemuan 22 orang Guru Buddhis Barat dengan Dalai Lama di bulan Maret 1993 (Ken Jones: 1999), dengan alinea pertama proklamasinya berbunyi:

  1. Tanggung-jawab kita pertama sebagai Buddhis adalah bekerja menciptakan sebuah bentuk kehidupan yang lebih baik di muka bumi.

  2. Mempromosikan Buddhadharma sebagai sebuah agama yang memiliki keterlibatan terhadap toleransi maupun hormat kepada agama lain.

  3. Setiap aksi memperjuangkan keterlibatan tersebut hendaknya dipimpin oleh prinsip kebaikan dan kasih sayang, serta perdamaian dan harmoni.

Pernyataan deklarasi tersebut diatas mengasumsikan bahwa Buddhadharma bagi masyarakat modern tidak dapat tidak harus terlibat terhadap masalah-masalah yang berkembang. "Buddhadharma adalah keterlibatan. Jika tidak terlibat, itu bukanlah Buddhadharma." Itulah yang ditegaskan oleh Thich Nhat Hanh, seorang Bhiksu dan pemikir modern Buddhis dari Vietnam.

Dalam artikelnya "Turning Whell" di Journal of The Buddhist Peace Fellowship, Summer, 1983 (dalam Jones Ken: 1999), aktivis kemanusiaan ini menegaskan : "Buddhadharma berarti kebangkitan, kesadaran yang berkembang yang terjadi dalam diri, perasaan, pikiran seseorang dan terjadi di dalam dunia. Kalau kamu bangun dan sadar kamu tidak dapat melakukan sesuatu selain tindakan yang penuh kasih sayang untuk membebaskan segenap penderitaan yang kamu saksikan di sekitar kamu. Jadi Buddhadharma harus terlibat di dunia. Jadi tidak memiliki keterlibatan, itu berarti bukanlah Buddhadharma."

Kekuatan sebagai pembebas (liberative force) itulah yang merupakan hakikat dari Buddhadharma. Dan hakekat atau jiwa dari Buddhadharma itu tidak lain adalah jiwa Bodhisattva yang terdapat di dalam diri setiap makhluk. Buddhadharma adalah agama pembebasan, dan Hyang Buddha mengajarkan Dharmanya untuk dipergunakan sebagai pembebas dari segenap dukkha atau penderitaan yang dialami manusia melalui berkembangnya jiwa Bodhisattva.

Mereka yang jiwa Bodhisattvanya telah matang dan berkembang adalah mereka para Buddha yang telah bangkit dan sadar. Mereka yang mengalami pencerahan spiritual adalah juga mereka yang telah mengalami pencerahan sosial, karena tiada Buddha yang datang ke dunia bila tidak untuk umat manusia yang menderita, dan upaya perjuangan untuk membebaskan mereka yang menderita adalah bangkitnya jiwa Bodhisattva.

Kalau Anda tidak membangkitkan jiwa Bodhisattva, tidak melakukan sesuatu terhadap penderitaan dunia, cobalah tanya pada dirimu apakah Anda memang sungguh-sungguh seorang siswa dari orang yang telah sadar, Hyang Buddha yang sempurna yang menggemakan bangkitnya kesadaran untuk menolong makhluk yang menderita.

 

 

Hits: 97