Category: Kasih Mahayana Published: Tuesday, 17 October 2017

Mengintegrasikan Dharma Dalam Kehidupan Sehari-hari
Oleh Yang Mulia Lama Yeshe

 

Suatu teknik yang kuat untuk mengendalikan lingkungan dalam dan luar melibatkan pemakaian mantra. Satu mantra yang sering kita lafal adalah mantra Buddha Sakyamuni, om muni muni mahamuniye svaha. Mantra ini efektif karena mereka menolong membuat pikiran menjadi tenang dan damai, secara otomatis terlarut atau terintegrasi pat satu titik. Mantra membuat pikiran menerima vibrasi-vibrasi yang sangat halus dan dengan demikian mempertinggi daya tangkap persepsi anda. Pembacaan mantra menghapuskan negativitas kasa dan sifat sejati dari semua hal baru dapat direflesikan atau dicerminkan dalam pikiran yang menghasilkan kejernihan. Dengan melatih mantra transendental, sebenarnya kita dapat memurnikan semua energi-energi kotor dari tubuh, ucapan dan pikiran.

Apakah pelafalan suatu mantra adalah meditasi transedental atau bukan, tergantung pada pebijaksanaan kita. Kekuatannya tidak semata-mata datang dari mantra itu sendiri. Ini tidak seperti ada beberapa suku kata kuno suci yang dapat kita baca tanpa kontemplasi renungan dan akan membawa manfaat spiritual yang besar dalam kita secara otomatis. Ini adalah kesalahpahaman. Contohnya, bila kita dalam pengaruh kecanduan nafsu keinginan, pembacaan terulang kali tanpa renungan dari mantra yang paling terberkati sekalipun di seluruh alam semesta akan menjadi terbatas manfaatnya. Itu akan memjadi kegiatan samsara lainnya.

Misalnya kita duduk disuatu tempat melafal mantra sambil berpikir, “cokelat, cokelat, cokelat yang lezat’. Bila dalam membaca mantra ini anda benar-benar terobsesi pada bentuk pikiran tersebut atau barang-barang supermarket lainnya, bagaimana mungkin praktek seperti ini bisa menjadi meditasi transedental? Bagaimana mungkin ia membawa pada hasil berupa kedamaian abadi? Supaya sebuah mantra menjadi efektif kita perlu menenangkan pikiran pada tahap tertentu dan mencapai sedikitnya sejumlah konsentrasi.

Sebagai tambahan, kita seharusnya mempunyai niat motivasi yang tulus ikhlas. Tidak cukup hanya untuk kesenangan sementara bagi diri sendiri. Tujuan sejati dari semua mantra, juga semua praktek latihan Dharma lainnya, adalah memberikan manfaat untuk orang lain. Daripada teruse menerus berpikir, “Saya ingin, saya ingin”, coballah kembangkan niat murni untuk bisa berguna bagi orang lain. Kita tidak perlu terlalu pandai atau terlalu emosi fanatik pada hal ini. Hanya dengan mendedikasikan energi dari mantra untuk tujuan kebahagiaan makhluk lain dan hasil bermanfaat akan mengikuti dengan sendirinya.

Mantra juga mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan penyakit. Contohnya, beberapa orang menjadi gila sementara karena terlalu terikat atau terobsesi pada energi jelek dari pikiran yang menyimpang. Vibrasi pencucian atau pembersihan dari sebuah mantra dapat membawa pikiran kembali dalam keadaan tenang dan berfungsi secara lancar dan penyakit mental pun disembuhkan. Karena penyakit-penyakit fisik sangat erat kaitannya dengan keadaan pikiran yang menyimpang dan kacai, mantra efektif sebagai bagian dari perawatan orang tersebut. Tidak ada yang mistik atau magis mengenai hal ini. Penelitian ilmiah telah dengan jelas membuktikan kekuatan penyembuhan mantra.

Makna Khusus dari mantra Buddha, om muni muni mahamuniye svaha, adalah "kendali, kendali, pengendalian tertinggi". Sekarang kalian mungkin berpikir bahwa Buddhisme menekankan pengendalian diri terlalu banyak dan merasa bahwa Lama (Guru) selalu berkata, “Pikiran ternoda kami begitu penuh dengan hal-hal negatif sehingga kami harus mengekangnya dengan ketat.” Tapi bukan itu maksud saya. Lebih baik begini, di pagi hari setelah bangun, kita menciptakan suatu keadaan pikiran tertentu bahwa kita akan secara otomatis lebih sadar perhatian pada tindakan selama hari itu (diprogram). Ketika telah terprogram, arloji atau seorang pengawas dalam pikiran kita bekerja dengan sendirinya. Ini adalah benar karena dengan mengarahkan atau memprogram banyak energi pada satu arah, kita memastikan bahwa semua energi energi selanjutnya akan mengalir pada Jalan yang sama.

Di Tibet, kami menyebut mengarahkan pikiran “Seperti mengendalikan seekor kuda bagus sehingga dapat ditunggangi atau dikendarai”. Seekor kuda adalah seekor hewan yang kuat dan bila kami tidak mempunyai sarana atau alat untuk mengendalikannya dengan tepat, kuda itu berlari dengan liar tak terkendali, mungkin melukai diri sendiri dna orang lain. Bila kami dapat mengendalikan semua energi itu maka kekuatan kuda yang besar dapat dipakai untuk mengerjakan banyak pekerjaan sulit. Hal yang sama juga terjadi pada kalian semua. Lihatlah secara ilmiah dari sudut pandang ilmu fisika, tubuh, ucapan, dan pikiran anda adalah tidak ada apa-apa kecuali berbagai bentuk energi. Maka, bila anda di pagi hari mengarahkan energi ini dengan menguatkan niat, semua energi tubuh, ucapan, dan pikiran yang mengikuti akan selalau beada pada rambui-rambu atau jalan yang baik dan benar. Jadi “penahanan hawa nafsu” yang kita bicarakan adalah mirip dengan seoragn pilot atau kapiten atau nahkoda atau sopir bis tidak membatasi tapi cenderung mengarahkan pesatawa atau kapal atau bis berpenumpang. Masalahnya dengan memakai kata-kata adalah tidak dapat benar-benar mengambarkan pengalaman pribadi dengna tepat dan menyeluruh. Tapi bila anda sendiri mempraktekkan suatu ajaran tertentu dan mengalami realisasi, maka kata-kata seperti “kontrol” tidak akan lagi menjadi duri dalam daging.

 

[Lama Yeshe, Vajrayana Institute, Australia.]

 

 

Hits: 50