Category: Tanya Jawab Dhamma Published: Tuesday, 10 October 2017

Pandangan Agama Buddha Tentang Homoseksuality
YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera

 

      • Apakah agama Buddha menerima kaum Homoseksual ?

        Dalam Agama Buddha seseorang diajarkan untuk bisa mengendalikan diri dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Seseorang yang berprilaku seksual menyimpang (Homoseksual, red) bisa saja mengikuti Buddha Dhamma. Karena ia juga memiliki hak untuk itu. Kita harus mengerti bahwa penyimpangan pada dirinya adalah bagian dari keputusan pribadinya, sedangkan pemilihan Buddha Dhamma juga merupakan keputusan pribadinya yang lain. Memang idealnya, setelah ia mengenal Dhamma, lambat laun,ia akan memperbaiki prilakunya sehingga hilanglah kebiasaan yang dikatakan oleh lingkungannya sebagai prilaku yang menyimpang itu.

 

      • Apakah Homoseksuality dilarang dalam Agama Buddha, dalam hal ini Umat Buddha berkeluarga ?

        Ya, karena ini termasuk melanggar Sila ke 3, yaitu melakukan perbuatan asusila yang maksudnya adalah melakukan pemuasan nafsu indriawi yang menyimpang. Apalagi jika yang di tekankan disini adalah 'umat berkeluarga', karena bagi umat yang berkeluarga, hanya boleh melakukan hubungan seksual dengan pasangannya yang resmi telah dinikahinya, maka seorang pria hanya boleh berhubungan seksual dengan istrinya.

 

      • Apakah yang menyebabkan seseorang dilahirkan menjadi Homoseksual ?

        Homoseks sebenarnya tidak harus karena kelahiran, ada juga yang terkondisi oleh lingkungannya. Jenis ini, keputusan menjadi homoseks adalah keputusan pribadinya, dan dia sendirilah yang menentukan karmanya saat ini yang akan berbuah di masa mendatang.

        Sedangkan, kalau homoseksual dianggap sebagai buah akusala kamma pada kehidupan yang lampau, maka hal itu bisa terjadi karena kemelekatan seksualnya pada kehidupan yang lampau. Mungkin pada kehidupan yang lampau si homoseksual tersebut adalah seorang wanita yang melekat kepada pria pujaannya, dan saat kehidupan yang sekarang, karma mereka menjadikan terlahir dalam jenis kelamin yang sama. Padahal dorongan saling mencintainya masih kuat. Akibatnya, mereka menjadi homoseks. Jadi Akusala Kamma yang paling berpengaruh adalah kemelekatan tsb.

 

      • Apakah kaum Homoseksual diperbolehkan menjadi seorang anggota Sangha ?

        Sebenarnya tidak masalah, karena prilaku homoseks adalah merupakan kehidupan masa lalu si calon bhikkhu. Sedangkan, apabila dia hendak memasuki kehidupan kebhikkhuan, dia harus telah menghilangkan dahulu kebiasaan dia ini. Kalau dia masih mempertahankan kebiasaannya seperti sewaktu sebagai umat, ia bisa dikeluarkan dari kebhikkhuan.

 

      • Kusala Kamma (perbuatan baik) apakah yang dianjurkan kepada mereka agar dapat menghilangkan kebiasaan tersebut ?

        Sebenarnya kamma masa lampau pengaruhnya sedikit sekali pada kehidupan saat ini, pengaruh terbesar dari kamma lampau adalah hanya pada saat kelahiran (dimana dan dalam keadaan apa kita dilahirkan), untuk selanjutnya dalam kehidupan saat ini yang berpengaruh adalah niat kita sendiri. Jadi jika si homoseksual tersebut benar-benar berniat/ bertekad akan menghilangkan kebiasaan tersebut maka kebiasaan itu dapat saja dihilangkan, karena kamma tidaklah sama dengan 'nasib' yang dipercaya oleh banyak orang bahwa nasib tidak bisa diubah.

        Salah satu cara untuk memperbaiki keadaan adalah banyak mempelajari dan berdiskusi Dhamma, serta melaksanakan latihan sila dan bermeditasi. Dengan memiliki pengertian dan latihan Dhamma yang memadai maka secara bertahap pengertian akan sikap yang benar dan sesuai Dhamma akan muncul dan berangsur-angsur kebiasaan tersebut akan berkurang lalu hilang.

 

Hits: 29