Category: Sutta Published: Thursday, 23 November 2017

Ratana Sutta (Khp 6)

 

Makhluk apapun juga yang berkumpul di sini
Baik yang dari dunia, maupun ruang angkasa,
Berbahagialah! Perhatikanlah apa yang disabdakan.

Read more: Ratana Sutta (Khp 6)

Category: Sutta Published: Thursday, 23 November 2017

Manggala Sutta (Khp 5)

 

Demikianlah yang saya dengar:

 

Pada suatu ketika Sang Bhagava menetap di dekat Savatthi, di hutan Jeta di Vihara Anathapindika, ketika malam menjelang pagi, seorang dewa dengan cahaya yang cemerlang menerangi seluruh hutan Jeta menghampiri Sang Bhagava. Setelah menghormati Beliau, lalu berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di satu sisi, dewata itu berkata kepada Sang Bhagava dalam syair:

Read more: Manggala Sutta (Khp 5)

Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Vyagghapajja Sutta (AN VIII.54)

 

Demikianlah yang saya dengar:

 

Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di sebuah kota perdagangan suku Koliya yang disebut Kakkarapatta. Dighajanu, salah seorang suku Koliya,menghadapt Sang Buddha. Setelah memberi hotmat, ia duduk di samping Beliau. Setelah duduk, ia berkata kepada Sang bhagava sebagai berikut:

 

"Kami,Bhante, adalah upasaka yang masih menyenangi kesenangan duniawi. Kami menjalani hidup dibebani oleh anak dan istri. Kami mempergunakan wewangian dari Kasi. Kami menghiasi diri kami dengan kembang, minyak wangi dan krim. Kami mempergunakan emas dan perak. Kepada mereka yang seperti kami ini, Bhante, berkenanlah Sang Buddha memberikan Dhamma, ajarkanlah segala sesuatu yang membawa kekayaan dan kebahagiaan dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang.

Read more: Vyagghapajja Sutta (AN VIII.54)

Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Ani Sutta (SN XX.7)

 

Bersemayam di Savatthi. "Para bhikkhu, dahulu kala orang Dasaraha memiliki sebuah tambur besar bernama 'Pemanggil.' Setiap kali Pemanggil retak, orang Dasaraha menyisipkan sebuah pasak ke dalamnya, sampai suatu ketika badan kayu asli dari Pemanggil telah lenyap dan cuma menyisakan sekumpulan pasak-pasak.

Read more: Ani Sutta (SN XX.7)

Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Ayacana Sutta (SN VI.1)

 

Demikianlah telah saya dengar. Pada suatu ketika, sewaktu Sang Bhagava baru saja mencapai Pencerahan Sempurna, beliau tinggal di Uruvela di tepi sungai Neranjara, di kaki pohon Banyan Gembala Kambing. Kemudian, tatkala beliau sedang sendirian dan dalam penyepian, jalan pikiran ini muncul dalam benak beliau: "Dhamma yang telah kucapai ini dalam, sulit untuk dilihat, sulit untuk disadari, damai, halus, melampaui jangkauan penalaran, lembut,untuk dialami oleh orang bijak. Namun generasi ini bergembira dalam kemelekatan, bergairah oleh kemelekatan, menyenangi kemelekatan. Bagi sebuah generasi yang bergembira dalam kemelekatan, bergairah oleh kemelekatan, menyenangi kemelekatan, kebersebaban ini/itu dan kemunculan bersyarat (paticcasamuppada) sulit untuk dilihat. Keadaan ini pun sulit untuk dilihat: diamnya semua kondisi, lepasnya segala keberadaan, lenyapnya kehausan, tiadanya nafsu, penghentian, Nibbana. Dan bila aku mengajarkan Dhamma dan bila orang-orang lain tidak mampu mengerti, itu akan melelahkanku, menyulitkanku."

Read more: Ayacana Sutta (SN VI.1)

Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Gabbhini Sutta (Ud II.6)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam dekat Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Adapun pada ketika itu istri yang masih muda dari seorang pengelana tertentu hamil dan hampir melahirkan. Maka ia berkata kepada si pengelana, "Pergi ambilkan sejumlah minyak untuk persalinanku."

 

Ketika ini dikatakan, si pengelana berkata kepadanya, "Namun di mana aku bisa memperoleh minyak?"

Read more: Gabbhini Sutta (Ud II.6)

Category: Sutta Published: Tuesday, 21 November 2017

Tirokuddha Sutta (Khp 7)

 

Pelimpahan jasa tentunya sudah tidak asing lagi bagi umat Buddha yang selalu melakukannya setelah melakukan perbuatan baik. Bahkan di zaman kehidupan Sang Buddha, pelimpahan jasa ini sudah sering dilakukan karena selain dapat membantu orang lain, juga dapat membawa manfaat bagi diri kita sendiri.

Read more: Tirokuddha Sutta (Khp 7)

Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Akkosaka Sutta (SN VII.2)

 

Pada suatu ketika, Sang Buddha singgah di hutan bambu dekat Rajagaha Kata, seorang brahmana yang bermana Akkosaka datang mengunjungi Beliau dan memaki-maki Beliau dengan kejamnya. Akkosaka tidak senang terhadap Beliau sebab temannya Bharadvaja yang dahulunya adalah seorang brahmana menjadi pengikut Buddha yang baru.

 

Mendengar kata-kata kasar dari brahmana itu, Sang Buddha bertanya kepadanya, "Brahmana, apakah saudara-saudara serta teman-temanmu pernah mengunjungimu?"

Read more: Akkosaka Sutta (SN VII.2)

Category: Sutta Published: Monday, 20 November 2017

Culatanhasankhaya Sutta (MN 14)

 

Demikianlah yang telah saya dengar. Pada suatu ketika Sang Buddha tinggal di Savatthi di Taman Timur, di Istana Ibunda Migara.

 

Kemudian Sakka, pemimpin para dewa, dating kepada Sang Buddha, setelah memberi hormat kepada Beliau, ia berdiri di satu sisi dan bertanya: “Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkasnya, seorang bhikkhu terbebaskan melalui penghancuran nafsu-keinginan, seseorang yang telah mencapai tujuan akhir, keselamatan mutlak dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seseorang yang dimulia di antara para dewa dan manusia?”

Read more: Culatanhasankhaya Sutta (MN 14)

Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Vijaya Sutta (SN V.4)

 

Baik berjalan atau berdiri
Baik duduk atau berbaring
Jika kita membungkukkan atau meluruskan badan
Ini hanya gerak dari badan.

Read more: Vijaya Sutta (SN V.4)

Category: Sutta Published: Monday, 20 November 2017

Salelekha Sutta (MN 8)

 

Mahacunda Thera menghadap Sang Buddha, yang sedang bersemayam di Jetavanarama, dan bertanya tentang pengikisan serta penanggalan pandangan sesat (micchaditthi) yang berpadu dengan Attavada (ajaran tentang roh/diri/aku), dan Lokavada (ajaran tentang dunia). Sang Buddha menjawab bahwa apabila melihat pandangan sesat itu dengan kebijaksanaan yang benar bahwasannya itu bukan milik kita, kita bukan seperti itu, itu bukan diri kita; maka kita niscaya akan dapat mengikis serta melenyapkan pandangan sesat tersebut.

Read more: Salelekha Sutta (MN 8)