Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Panc-Uposatha Jataka (J 490)

 

 

Cerita ini disampaikan oleh Sang Bhagava ketika berdiam di Jetavana, mengenai 500 umat awam yang sedang melaksanakan sumpah Sabbath. Pada saat itu dikatakan bahwa Sang Bhagava duduk diatas Singgasana Agung, di dalam Aula Kebenaran, di tengah-tengah empat jenis pendengar yakni bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, dan upasika. Beliau memandang ke sekeliling kumpulan dengan hati yang lembut, dan menetapkan bahwa hari ini khotbah akan berkisar tentang umat awam.

Read more: Panc-Uposatha Jataka (J 490)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Canda Kinnara Jataka (J 485)

 

 

Aku meninggal..dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava, ketika Beliau berdiam di Nigrodharama dekat Kapilapura mengenai ibu Rahula ketika masih berada di istana.

 

Kisah kelahiran masa lampau ini diceritakan mulai pada masa-masa menjadi Bodhisatta. Tetapi cerita Jataka yang lain, sejauh raungan singa Uruvela Kassapa di Latthivana, Veluvana, telah diceritakan sebelumnya pada Apanaka Jataka, yang dimulai dari Vessantara Jataka hingga kembali ke Kapilavatthu setelah menjadi Buddha. Sang Bhagava duduk di istana Raja Suddhodana, sewaktu makan siang mengkhotbahkan Mahadhammapala Jataka, dan setelah makan siang Beliau berkata, "Saya akan memuji sifat mulia ibu Rahula di kaputrennya, dengan menceritakan Canda-Kinnara Jataka. Kemudian Beliau menitipkan mangkuk-Nya kepada Sang Raja, dan bersama dengan kedua Aggasavaka pergi ke kaputren ibu Rahula (Rahulamata).

Read more: Canda Kinnara Jataka (J 485)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Kalinga Bodhi Jataka (J 479)

 

 

"Raja Kalinga," dan seterusnya --- Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ketika Beliau berdiam di Jetavana mengenai pemujaan terhadap pohon Bodhi yang dilakukan oleh Y.A. Ananda Thera.

 

Ketika Sang Bhagava sedang dalam perjalanan dengan tujuan untuk membantu menyelamatkan mereka yang batinnya telah matang, penduduk Savatthi pergi ke Jetavana, tangan mereka penuh dengan bunga dan rangkaian wangi-wangian, melihat tidak ada tempat lain yang pantas untuk menunjukkan penghormatan mereka, meletakkannya di pintu Gandhakuti (kamar wangi), lalu pergi. Ini menyebabkan banyak yang merasa berbahagia. Tetapi Anathapindika mendengar mengenai hal itu; dan setelah Sang Tathagata kembali menjumpai Y.A. Ananda Thera dan berkata kepadanya, "Bhante, Padepokan ini tidak ada apa-apa, jika Sang Tathagata sedang pergi ke luar kota, tidak ada tempat bagi orang-orang untuk memberi penghormatan dengan rangkaian wangi-wangian dan bunga-bunga. Sudilah kiranya Bhante memberitahukan mengenai hal ini kepada Sang Bhagava dan bertanya kepada Beliau apakah mungkin mencari tempat untuk keperluan ini." Y.A. Ananda Thera dengan kesungguhan melakukan yang diminta, ia bertanya kepada Sang Buddha, "Ada berapakah altar untuk objek pemujaan?" "Tiga, Ananda." "Yang mana sajakah?" "Altar untuk pemujaan sisa-sisa kremasi tubuh, sisa-sisa benda yang dipakai dan sisa-sisa peringatan." "Bisakah sebuah altar pemujaan dibuat semasa Sang Bhagava masih hidup?" "Tidak, Ananda, altar relik tubuh tidak bisa; altar untuk sisa-sisa peninggalan tubuh dibuat jika Sang Buddha telah Parinibbana. Altar peringatan tidak pantas sebab hanya berhubungan dengan imajinasi saja.

Read more: Kalinga Bodhi Jataka (J 479)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Maha Dhamma Pala Jataka (J 447)

 

 

Kisah ini diceritakan Sang Buddha kepada ayahnya ketika Ia menginap di hutan kecil Banyan milik ayahnya dalam kunjungan-Nya, sebagai Buddha, untuk yang pertama kalinya ke Kapilapura. Kisah ini berkenaan dengan penolakan seorang ayah untuk percaya bahwa anaknya sudah meninggal, karena bukan kebiasaan dalam keluarganya untuk meninggal dalam usia muda.

Ketika Brahmadatta menjadi raja di Benares, di kerajaan Kasi, ada sebuah desa bernama Dhammapala. Nama tersebut diberikan karena keluarga Dhammapala tinggal di sana. Dengan menjalani sepuluh jalan kebenaran, brahmana ini dikenal di desanya sebagai Dhammapala yang artinya pelindung Dhamma. Bahkan di kediamannya, para tamu memberi dana, menjalankan kebajikan dan melaksanakan hari-hari suci.

Read more: Maha Dhamma Pala Jataka (J 447)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Cetiya Jataka (J 422)

 

 

"Kebenaran yang dilukai dapat berbalik melukai dengan sakit sekali, dan lain-lain. Sang Bhagava menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, mengenai Devadatta yang ditelan oleh bumi. Pada hari itu mereka sedang berdiskusi di Dhammasala mengenai Devadatta yang berbicara tidak jujur, lalu tenggelam dalam tanah dan terlahir di alam neraka Avici. Sang Bhagava datang dan mendengar bahan pembicaraan mereka, lalu berkata, 'Ini bukan pertama kali ia tenggelam dalam bumi', dan Beliau bercerita kisah lampau."

 

Pada suatu ketika, ketika bumi baru terbentuk, ada seorang raja bernama Mahasammata, yang umurnya mencapai satu masa tak terhitung (Asankheyya) lamanya. Anak lelakinya bernama Roja, anak lelaki Roja adalah Vararoja, dan kemudian penerusnya adalah Kalyana, Varakalyana, Uposatha, Mandhata, Varamandhata, Cara, Upacara, yang dipanggil dengan sebutan Apacara. Ia memerintah di kerajaan Ceti, di kota Sotthivati; ia memiliki berkah empat kekuatan gaib yaitu; dapat berjalan di atas dan melewati udara, mempunyai empat dewa pengawal pada keempat penjuru untuk melindunginya dengan pedang terhunus, menyebarkan wangi cendana dari tubuhnya, menyebarkan wangi bunga teratai melalui mulutnya. Pendeta keluarganya bernama Brahmana Kapila. Adik laki-laki brahma ini adalah Korakalambaka, yang bersama-sama dengan raja belajar pada guru yang sama dan merupakan teman bermain raja.

Read more: Cetiya Jataka (J 422)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Neru Jataka (J 379)

 

 

Sang Buddha menceritakan kisah ini di Jetavana, menanggapi cerita seorang Bhikkhu.

 

Suatu ketika, Bhikkhu itu pergi ke sebuah desa. Penduduk memberinya makan, mendirikan sebuah pondok untuknya, serta menaruh hormat padanya. Pelayanan penduduk desa membuat bhikkhu itu betah. Tetapi kemudian penduduk desa tidak lagi mengindahkannya. Hal ini disebabkan oleh adanya ancaman dari guru-guru pengajar ajaran adanya inti yang kekal. Guru-guru itu mengancam akan meninggalkan desa jika penduduk percaya pada adanya kematian, dan mengabaikan sekte pertapa telanjang. Penduduk desa akhirnya kembali berpaling kepada ajaran sesat itu.

Read more: Neru Jataka (J 379)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Culladhammapala Jataka (J V.358)

 

 

"Mahapatapa permaisuri malang," dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ketika beliau sedang berdiam di Veluvana, berkenaan dengan usaha-usaha Devadatta untuk membunuh Bodhisatta."

 

Dalam kelahiran-kelahiran lainnya Devadatta gagal untuk menimbulkan rasa takut pada Bodhisatta, walaupun hanya sebesar atom, tetapi dalam Culladhammapala Jataka, ketika Bodhisatta hanya berumur tujuh bulan, ia memerintahkan orang untuk memotong kedua tangannya, kedua kaki dan kepalanya juga dipotong dan sekeliling tubuhnya diiris-iris bagai rangkaian bunga. Cerita dalam Daddara Jataka ia membunuh Bodhisatta dengan jalan memuntir lehernya, dan memanggang dagingnya dalam oven dan memakannya. Dalam Khantivadi Jataka ia memerintahkan orang untuk mencambuknya dengan dua ribu kali pecutan cambuk, dan memerintahkan agar kedua tangannya, kedua kakinya dan kedua telinga serta hidungnya dipotong, kemudian merenggut rambutnya, dan diseret-seret, dan ketika seluruh punggungnya telah terentang, ia menendang perutnya lalu pergi, pada hari itu juga Bodhisatta meninggal. Tetapi dalam Cullanandaka Jataka dan Vevatiyakapi Jataka ia hanya menghukum mati Bodhisatta.

Read more: Culladhammapala Jataka (J V.358)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Sasa Jataka (J 316)

 

 

Kisah ini dituangkan dalam bentuk relief pada candi Borobudur, serambi pertama dinding bagian luar, deretan atas gambar ke-23, 24, 25 dari gerbang Timur ke jurusan Selatan.

 

Pada suatu peristiwa, Sang Bodhisattva dilahirkan sebagai seekor kelinci. Ia berkawan dengan seekor kera, seekor serigala, dan seekor berang-berang. Mereka hidup berbabahgia dalam sebuah hutan; selalu bersama, pergi kian kemari untuk mencari makan. Di antara keempat sekwan itu, kelincilah yang paling pandai.

Read more: Sasa Jataka (J 316)

Category: Sutta Published: Friday, 05 January 2018

Mittamitta Jataka (J 197)

 

 

"Bila orang bijaksana,..." dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana mengenai pelayan istana Raja Kosala yang jujur.

 

Orang-orang mengatakan bahwa pelayan tersebut sangat berguna bagi raja dan raja menganugerahkan penghargaan yang luar biasa kepadanya. Para pelayan istana yang lain tidak bisa menerima keberadaan pelayan yang jujur itu. Mereka menyalahkannya dihadapa raja dengan tuduhan telah melakukan hal-hal yang menyakiti raja. Raja bertanya kepadanya, dan ia tidak menemukan kesalahan dalam diri pelayan yang jujur itu. Raja berpikir, "Saya tidak menemukan kesalahan dalam diri orang ini, tetapi bagaimana saya bisa mengetahui apakah ia adalah sahabat atau musuh saya?" Kemudian ia berpikir, "Tidak ada seorangpun yang dapat memutuskan jawaban dari pertanyaan ini kalau bukan Sang Tathagata, saya akan pergi dan bertanya kepada Beliau."

Read more: Mittamitta Jataka (J 197)

Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Godha Jataka (J 141)

 

 

"Kamu yang menyombongkan kegagahanmu."

Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagava ketika berada di Jetavana,
berkenaan dengan seorang bhikkhu yang sombong di dalam persaudaraan Sangha.

 

Cerita ini disampaikan oleh Sang Buddha ketika beliau berdiam di hutan bambu, mengenai seorang saudara pengkhianat. Diawali dengan kejadian yang sama seperti yang diutarakan oleh Sang Buddha dalam Mahila-Mukha-Jataka.

Read more: Godha Jataka (J 141)

Category: Sutta Published: Thursday, 04 January 2018

Kaka Jataka (J 140)

 

 

"Dalam ketakutan yang tiada henti..." - Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai seorang penasehat yang bijaksana. Peristiwa-peristiwa ini sambungan dari Bhaddasala-jataka.

 

Pada suatu masa ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatva terlahir kembali sebagai seekor burung gagak. Pada suatu hari, pendeta raja pergi ke luar kota dan menuju sungai. Ia mandi disana. Dan setelah mengharumkan dan mewangikan dirinya, ia mengenakan pakaiannya dan kembali ke kota. Pada terowongan jalan yang terletak di pintu gerbang kota terdapat dua ekor burung gagak dan diantaranya mereka berkata kepada rekannya. "Saya bermaksud mengotori kepala brahmana ini"."Oh, jangan lakukan hal demikian, sesungguhnya brahmana ini adalah orang yang agung, dan perbuatan yang jahat itu akan menimbulkan kebencian yang sangat besar. Seandainya anda marah kepadanya, ia dapat menghancurkan seluruh bangsa kita", kata burung gagak yang lainnya . "Saya harus melakukannya", kata burung gagak yang pertama.

Read more: Kaka Jataka (J 140)