Category: Sutta Published: Monday, 20 November 2017

Salelekha Sutta (MN 8)

 

Mahacunda Thera menghadap Sang Buddha, yang sedang bersemayam di Jetavanarama, dan bertanya tentang pengikisan serta penanggalan pandangan sesat (micchaditthi) yang berpadu dengan Attavada (ajaran tentang roh/diri/aku), dan Lokavada (ajaran tentang dunia). Sang Buddha menjawab bahwa apabila melihat pandangan sesat itu dengan kebijaksanaan yang benar bahwasannya itu bukan milik kita, kita bukan seperti itu, itu bukan diri kita; maka kita niscaya akan dapat mengikis serta melenyapkan pandangan sesat tersebut.

 

Seorang Bhikkhu yang memasuki empat Pencerapan Berbentuk (Rupajhana) berpikir bahwa dirinya berada dalam Dhamma sebagai alat pelenyap kekotoran batin dalam ajaran mulia. Itu hanyalah suatu Dhamma yang membahagiakan kehidupan sekarang.

 

Seorang Bhikkhu yang memasuki Pencerapan Nirbentuk (Arupajhana) berpikir bahwa dirinya berada dalam Dhamma sebagai alat pelenyap kekotoran batin. Sesungguhnya itu bukanlah suatu alat pelenyap kekotoran batin dalam ajaran mulia. Itu hanyalah suatu Dhamma yang menenangkan.

 

Selanjutnya Sang Buddha menganjurkan para Bhikkhu untuk merenungkan bahwa orang-orang lain mungkin menganiaya, membunuh makhluk hidup, mencuri , bersenggama, berdusta, menghasut, memaki, beromong kosong, mengincar barang lain, beritikad jahat, berpandangan salah, berpikiran salah, berbicara salah, bertindak salah, bermata pencaharian salah, berupaya salah, berpenyadaran salah, berpemusatan salah, berpengetahuan salah, berpembebasan salah, dihinggapi kemalasan, dicekam kegelisahan, mempunyai keragu-raguan, suka marah, menyimpan dendam, menghina, bersikap takabur, beriri hati, bersifat kikir, berlagak, berperangai culas, berkeras kepala, suka melecehkan ,sukar dinasehati, bersahabat dengan orang jahat, bersifat lengah, tidak berkeyakinan benar, tak tahu malu dan tak takut berbuat jahat, tidak berpendidikan, bermalasan, tidak sadar, bersifat dungu, melekat pada pandangan sesat. Namun, kita berkebalikan dengan mereka.

 

Disabdakan bahwa berpikiran dalam kebajikan saja bahkan sudah merupakan suatu hal yang sangat mendukung. Apalagi jika ini diterapkan melalui ucapan dan tindakan. Seperti halnya menghindari jalan yang bergeronjal untuk menempuh jalan yang rata, demikian pula seseorang hendaknya menghindari orang yang membunuh makhluk hidup...dengan berpantang dari pembunuhan... Semua kejahatan memiliki kejatuhan sebagai akibatnya, sedangkan semua kebajikan mempunyai kemuliaan sebagai pahalanya.

 

Tidaklah mungkin bagi seseorang yang terperosok ke dalam lubang untuk dapat mengangkat (menyelamatkan orang lain yang sama-sama sedang terperosok. Hanya mereka yang tidak terperosok; mampu mengangkat mereka naik ke atas. Demikian pula, tidaklah mungkin bagi seseorang yang tidak melatih, mengajar, membimbing dan membebaskan orang lain.

 

"Duhai Cunda, Dhamma sebagai alat pengikis serta pelenyap kekotoran batin telah Saya babarkan. Demikian pula kebajikan pikiran, jalan penghindaran, jalan kemuliaan, cara pemadaman (pembebasan) telah Saya babarkan. Tertunaikanlah tugas Saya sebagai pengajar yang senantiasa mendukung serta mengasihi para siswa. Anda sekalian hendaknya mengujinya. Janganlah lengah! Sehingga anda tidak menyesal di kemudian hari. Inilah ajaran Saya bagi Anda sekalian,"demikian Sang Buddha mengakhiri sabda-Nya.

 

 

Hits: 30