Category: Sutta Published: Monday, 20 November 2017

Culatanhasankhaya Sutta (MN 14)

 

Demikianlah yang telah saya dengar. Pada suatu ketika Sang Buddha tinggal di Savatthi di Taman Timur, di Istana Ibunda Migara.

 

Kemudian Sakka, pemimpin para dewa, dating kepada Sang Buddha, setelah memberi hormat kepada Beliau, ia berdiri di satu sisi dan bertanya: “Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkasnya, seorang bhikkhu terbebaskan melalui penghancuran nafsu-keinginan, seseorang yang telah mencapai tujuan akhir, keselamatan mutlak dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seseorang yang dimulia di antara para dewa dan manusia?”

 

“Disini, Pemimpin para Dewa, seorang bhikkhu yang telah mendengar bahwa tak ada satupun yang berharga untuk dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tak ada satu apapun yang berharga untuk dilekati, ia mengetahui secara langsung segala sesuatunya; setelah mengetahui secara langsung segala sesuatunya; setelah mengetahui secara langsung segala sessuatunya, ia sepenuhnya mengerti segala sesuatunya; setelah sepenuhnya mengerti segala sesuatunya, perasaan apapun yang ia rasakan, apakah perasaan senang, sakit atau netral, ia berdiam dalam perenungan terhadap ketidakkekalan perasaan-perasaan tersebut, merenungkan lenyapnya-nafsu (viraga), merenungkan berhentinya-nafsu (nirodha), dan merenungkan pelepasan (patinissagga). Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat kepada apapun didunia ini. Ketika ia telah melekat, maka ia tidak gelisah. Ketika ia tidak gelisah, ia secara mandiri telah mencapai Nibbana. Ia mengerti bahwa: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilaksanakan telah dilaksanakan, tak ada lagi kelahiran di alam manapun’. Secara ringkas, demikianlah jalannya, Pemimpin para Dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan melalui penghancuran nafsu keinginan (tanha), seseorang yang telah mencapai tujuan akhir, keselamatan mutlak dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seseorang yang termulia di antara para dewa dan manusia”.

 

Kemudian Sakka, pemimpin para dewa merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Buddha itu, memberi hormat kepada Sang Buddha, dan dengan Sang Buddha tetap berada disisi kanannya, ia lalu menghilang.

 

Pada waktu itu, YM Maha Moggallana sedang duduk tak jauh dari Sang Buddha. Lalu ia berpikir: “Apakah dewa tadi menyelami arit dari kata-kata Sang Buddha saat ia sedang bergembira, atau tidak? Saya harus mengetahui apakah ia menyelami atau tidak.

 

Lalu seecepat seorang kuat dan digdaya yang merentangkan lengannya yang lentur dan melenturkan lengannya yang terentang, YM Maha Moggallana menghilan dari Istana Ibunda Migara di Taman Timur dan muncul diantara para dewa alam 33-dewa.

 

Pada saat itu Sakka, pemimpin para dewa, yang dikaruniai seratus kali lebih besar dan diperlengkapi dengan 5 jenis musik surgawi, dan ia sedang menikmati semua itu di Taman Kesenangan Teratai Tunggal. Ketika ia melihat YM. Maha Moggallana dating dikejauhan, ia menghentikan musiknya, mendatangi YM Maha Moggallana, dan menyapanya: “Mari kesini, tuan Moggallana yang baik! Selamat Datang, tuan Moggallana yang baik! Sudah lama Anda tidak dating kesini. Duduklah, tuan Moggallana yang baik, kursi untuk Anda telah disiapkan”. YM Moggallana duduk di kursi yang telah disiapkan, dan Sakka mengambil kursi yang lebih rendah dan duduk di satu sisi. YM Moggallana kemudian bertanya padanya:
“Kosiya, bagaimanakah Sang Buddha mengatakan kepadamu secara ringkas pembebasan melalui penghancuran nafsu-keinginan? Akan baiklah jika kami juga dapat mendengar perkataan tersebut”.

 

“Tuan Moggallana yang baik, kami sedang amat sibuk, kami punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tidak hanya berkenaan degnan urusan kami sendiri, tetapi juga dengan urusan para dewa alam 33-dewa. Disamping itu, tuan Moggallana yang baik, apapun yang telah didengar dengan baik, dipelajari dengan baik, dipahami dengan baik, diingat dengan baik, tidak hilang begitu saja. Tuan Moggallana yang baik, suatu ketika telah terjadi peperangan di antara para dewa dan raksasa (asura). Pada peperangan itu, para dewa menang dan asura kalah. Ketika saya telah memenangkan peperangan itu dan kembali dari medan perang sebagai pemenang, saya mendapat Istana Vejayana. Tuan Moggallana yang baik, Istana Vejayanta memiliki 100 menara, setiap menara memiliki 700 kamar, setiap kamar memiliki 7 bidadari, dan setiap bidadari memiliki 7 pelayan. Maukah Anda melihat keindahan Istana Vejayanta, tuan Moggallana yang baik?” YM Maha Moggallana menyetujui dengan berdiam diri.

 

Kemudian Sakka, pemimpin raja dewa, dan dewa Raja Vessavana pergi ke Istana Vejayanta untuk memuliakan YM. Maha Moggallana. Ketika para pelayan dewa Sakka melihat YM Maha Moggallana datang di kejauhan, mereka merasa risih dan malu sehingga mereka masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Sama seperti menantu-perempuan yang risih dan malu melihat ayah-mertua, demikian pula, ketika para pelayan dewa Sakka melihat YM. Maha Moggallana datang, mereka risih dan malu sehingga mereka masuk kedalam kamar mereka masing-masing.

 

Kemudian Sakka, pemimpin raja dewa berpikir demikian: “Dewa ini hidupnya terlalu ceroboh. Bagaimana jika saya mengaduk perasaan-kemendesakan pada dirinya?” Kemudian YM Maha Moggallana memperlihatkan suatu kehebatan dari kekuatan supernormal dimana dengan ujung jari kakinya ia membuat Istana Vejayanta bergoyang, bergoncang dan bergetar. Sakka dan dewa Raja Vessavana serta para dewa 33 diliputi oleh keheranan dan kekaguman, lalu mereka berkata: “Tuan-tuan, sungguh mengagumkan, sungguh menakjubkan. Betapa hebatnya kekuatan dan kedigdayaan yang dimiliki oleh pertapa itu, bahwa dengan ujung kakinya ia membuat alam surga bergoyang, bergoncang dan bergetar!”

 

Ketika YM Maha Moggallana mengetahui bahwa Sakka, pemimpin para dewa, tergerak hatinya oleh perasaan-kemendesakan, yang terlihat dari rambutnya yang berdiri, ia bertanya padanya: “Kosiya, bagaimana Sang Buddha mengatakan kepadamu secara ringkas pembebasan melalui penghancuran nafsu-keinginan? Akan baiklah jika kami juga dapat mendengar perkataan itu”.

 

“Tuan Moggallana yang baik, saya datang kepada Sang Buddha, dan setelah memberi hormat kepada Beliau, saya berdiri disatu sisi dan bertanya: Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkasnya, seorang bhikkhu terbebaskan melalui penghancuran nafsu-keinginan, seseorang yang telah mencapai tujuan akhir, keselamatan mutlak dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seseorang yang dimulia di antara para dewa dan manusia?” Ketika hal ini saya tanyakan, tuan Moggallana yang baik, Sang Buddha mengatakan demikian kepadaku: “Disini, Pemimpin para Dewa, seorang bhikkhu yang telah mendengar bahwa tak ada satupun yang berharga untuk dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tak ada satu apapun yang berharga untuk dilekati, ia mengetahui secara langsung segala sesuatunya; setelah mengetahui secara langsung segala sesuatunya; setelah mengetahui secara langsung segala sessuatunya, ia sepenuhnya mengerti segala sesuatunya; setelah sepenuhnya mengerti segala sesuatunya, perasaan apapun yang ia rasakan, apakah perasaan senang, sakit atau netral, ia berdiam dalam perenungan terhadap ketidakkekalan perasaan-perasaan tersebut, merenungkan lenyapnya-nafsu (viraga), merenungkan berhentinya-nafsu (nirodha), dan merenungkan pelepasan (patinissagga). Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat kepada apapun didunia ini. Ketika ia telah melekat, maka ia tidak gelisah. Ketika ia tidak gelisah, ia secara mandiri telah mencapai Nibbana. Ia mengerti bahwa: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilaksanakan telah dilaksanakan, tak ada lagi kelahiran di alam manapun’. Secara ringkas, demikianlah jalannya, Pemimpin para Dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan melalui penghancuran nafsu keinginan (tanha), seseorang yang telah mencapai tujuan akhir, keselamatan mutlak dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seseorang yang termulia di antara para dewa dan manusia”. Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Buddha kepadaku secara ringkas pembebasan melalui penghancuran nafsu-keinginan, tuan Moggallana yang baik.”

 

Kemudian YM. Maha Moggallana merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sakka, pemimpin para dewa. Kemudian secepat seorang yang kuat dan digdaya merentangkan lengannya yang lentur atau melenturkan lengannya yang terentang, ia menghilang dari para dewa alam 33-dewa dan muncul di Taman Timur di Istana Ibunda Migara

 

Kemudian, segera sesudah YM. Maha Moggallana pergi, para pengikut Sakka, pemimpin para dewa, bertanya kepadanya: “Tuan, apakah tadi itu gurumu, Sang Buddha?” - “Bukan, tuan-tuan, itu tadi bukanlah guruku Sang Buddha. Ia adalah salah satu kawanku dalam kehidupan suci, YM. Maha Moggallana”. - “Tuan, adalah suatu keberuntungan bagi tuan bahwa kawan dalam kehidupan suci tuan memiliki kekuatan dan kedigdayaan seperti itu. Oh, kalau demikian, betapa lebih hebatnya dan kedigdayaan seperti itu. Oh, kalau demikian, betapa lebih hebatnya Sang Buddha yang guru tuan itu!”

 

Kemudian YM. Maha Moggallana datang kepada Sang Buddha dan setelah memberi hormat kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada beliau: “Yang Mulia, apakah Sang Buddha ingat mengatakan secara ringkas - kepada seorang dewa yang terkenal dengan pengikut yang besar - pembebasan melalui penghancuran nafsu-keinginan?”

 

“Saya ingat melakukan hal itu, Moggallana. Disini Sakka, pemimpin para dewa datang kepada Ku, dan setelah memberiu hormat kepadaKu, ia berdiri di satu sisi dan bertanya: ‘Yang Mulia, bagaimanakah secara ringkasnya, seorang bhikkhu terbebaskan melalui penghancuran nafsu-keinginan, seseorang yang telah mencapai tujuan akhir, keselamatan mutlak dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seseorang yang dimulia di antara para dewa dan manusia? Ketika ini ditanyakan, saya mengatakan kepadanya; “Disini, Pemimpin para Dewa, seorang bhikkhu yang telah mendengar bahwa tak ada satupun yang berharga untuk dilekati. Ketika seorang bhikkhu telah mendengar bahwa tak ada satu apapun yang berharga untuk dilekati, ia mengetahui secara langsung segala sesuatunya; setelah mengetahui secara langsung segala sesuatunya; setelah mengetahui secara langsung segala sessuatunya, ia sepenuhnya mengerti segala sesuatunya; setelah sepenuhnya mengerti segala sesuatunya, perasaan apapun yang ia rasakan, apakah perasaan senang, sakit atau netral, ia berdiam dalam perenungan terhadap ketidakkekalan perasaan-perasaan tersebut, merenungkan lenyapnya-nafsu (viraga), merenungkan berhentinya-nafsu (nirodha), dan merenungkan pelepasan (patinissagga). Dengan merenungkan demikian, ia tidak melekat kepada apapun didunia ini. Ketika ia telah melekat, maka ia tidak gelisah. Ketika ia tidak gelisah, ia secara mandiri telah mencapai Nibbana. Ia mengerti bahwa: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilaksanakan telah dilaksanakan, tak ada lagi kelahiran di alam manapun’. Secara ringkas, demikianlah jalannya, Pemimpin para Dewa, bahwa seorang bhikkhu terbebaskan melalui penghancuran nafsu keinginan (tanha), seseorang yang telah mencapai tujuan akhir, keselamatan mutlak dari perbudakan, kehidupan suci tertinggi, tujuan tertinggi, seseorang yang termulia di antara para dewa dan manusia’ Demikiankah yang ingat Saya katakan kepada Sakka, pemimpin para dewa, secara ringkas pembebasan melalui penghancuran nafsu-keinginan”.

 

Inilah yang dikatakan oleh Sang Buddha. Yang Mulia Maha Moggallana merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Buddha tersebut.

 

[Sumber: Teaching of The Buddha, The Middle Length Discourses of the Buddha, Majjhima Nikaya, translated form the Pali by Bhikkhu Nanamoli. (Kitab Suci TiPitaka, Majjhima Nikaya).
Alih bahasa: Lindawati T.
Sutta ini dimuat atas izin dari Lindawati T]

 

 

Hits: 27