Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Gabbhini Sutta (Ud II.6)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam dekat Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Adapun pada ketika itu istri yang masih muda dari seorang pengelana tertentu hamil dan hampir melahirkan. Maka ia berkata kepada si pengelana, "Pergi ambilkan sejumlah minyak untuk persalinanku."

 

Ketika ini dikatakan, si pengelana berkata kepadanya, "Namun di mana aku bisa memperoleh minyak?"

 

Kedua kalinya, ia berkata kepada si pengelana, "Pergi ambilkan sejumlah minyak untuk persalinanku."

 

Kedua kalinya, si pengelana berkata kepadanya, "Namun di mana aku bisa memperoleh minyak?"

 

Ketiga kalinya, ia berkata kepada si pengelana, "Pergi ambilkan sejumlah minyak untuk persalinanku."

 

Adapun pada ketika itu di gudang Raja Pasenadi Kosala mereka tengah membagikan para pendeta & pertapa minyak atau ghee sebanyak yang mereka perlukan untuk diminum, tetapi tidak untuk dibawa pergi. Maka pikiran ini timbul pada si pengelana, "Saat ini di gudang Raja Pasenadi Kosala mereka tengah membagikan para pendeta & pertapa minyak atau ghee sebanyak yang mereka perlukan untuk diminum, tetapi tidak untuk dibawa pergi. Andaikan, setelah pergi ke sana, aku meminum minyak sebanyak yang kuperlukan dan, ketika kembali ke rumah, memuntahkannya untuk digunakan pada persalinan?"

 

Maka, setelah pergi ke gudang Raja Pasenadi Kosala, ia meminum minyak sebanyak yang ia perlukan namun, ketika kembali ke rumah, ia tidak mampu untuk memuntahkannya atau mengeluarkannya. Maka ia berguling-guling, menderita rasa nyeri yang tajam, menusuk, dan menyiksa. Kemudian di pagi hari Sang Bhagava, setelah mengenakan jubahnya dan membawa mangkuk serta jubah-luarnya, pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan makanan sedekah. Beliau melihat si pengelana berguling-guling, menderita rasa nyeri yang tajam, menusuk, dan menyiksa.

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Betapa berbahagianya, bagi orang yang tak punya apapun.
Mereka yang pakar adalah orang-orang dengan tanpa apapun.
Lihat bagaimana mereka menderita, mereka yang punya sesuatu,
orang-orang yang terikat pikirannya dengan orang-orang [lain].

 

 

Hits: 23