Category: Sutta Published: Wednesday, 22 November 2017

Ani Sutta (SN XX.7)

 

Bersemayam di Savatthi. "Para bhikkhu, dahulu kala orang Dasaraha memiliki sebuah tambur besar bernama 'Pemanggil.' Setiap kali Pemanggil retak, orang Dasaraha menyisipkan sebuah pasak ke dalamnya, sampai suatu ketika badan kayu asli dari Pemanggil telah lenyap dan cuma menyisakan sekumpulan pasak-pasak.

 

"Begitu pula, di masa mendatang terdapat para bhikkhu yang tatkala wejangan-wejangan (sutta) yang merupakan ucapan Sang Tathagata - mendalam, mendalam maknanya, mengatasi dunia, berkaitan dengan kesunyaan - tengah dilafalkan: mereka tidak akan menyimaknya, tidak akan mendengarkannya, tidak akan menujukan hati untuk memahaminya, serta tidak akan memandang ajaran-ajaran ini patut dipelajari dan dikuasai. Namun tatkala wejangan-wejangan yang berupa karya sastera - dibuat para pujangga, elok kedengarannya, elok liriknya, bikinan orang luar, ucapan para siswa - tengah dilafalkan: mereka akan menyimaknya, mendengarkannya, menujukan hati untuk memahaminya, serta memandang ajaran-ajaran ini patut dipelajari dan dikuasai.

 

"Dengan demikian, wejangan-wejangan (sutta) yang merupakan ucapan Sang Tathagata, mendalam, mendalam maknanya, mengatasi dunia, berkaitan dengan kesunyaan akan lenyap.

 

"Oleh karena itu, para bhikkhu, kalian hendaknya berlatih: 'Tatkala wejangan- wejangan (sutta) yang merupakan ucapan Sang Tathagata - mendalam, mendalam maknanya, mengatasi dunia, berkaitan dengan kesunyaan - tengah dilafalkan: kami akan menyimaknya, mendengarkannya, menujukan hati untuk memahaminya, serta memandang ajaran-ajaran ini patut dipelajari dan dikuasai.' Demikianlah kalian hendaknya berlatih."

 

 

Hits: 28