Category: Sutta Published: Saturday, 25 November 2017

Mengenai Kesungguhan

 

 

Kesungguhan adalah jalan menuju keabadian (Nirvana), sikap acuh tak acuh adalah jalan kematian. Mereka yang setia tidak mati, mereka yang acuh tak acuh seakan-akan sudah mati. Setelah mengerti hal ini dengan jelas mereka yang maju dalam kesungguhan mengalami suka cita dalam kesungguhan dan mengalami kegembiraan besar dalam pengetahuan kaum yang terpilih.

 

Orang-orang bijak ini, meditatif stabil , selalu memiliki kekuatan-kekuatan besar, akan mencapai Nirvana. Puncak kebahagiaan.

 

Jika seorang yang memiliki kesungguhan membangkitkan dirinya, asalkan ia tidak pelupa, jika perbuatan-perbuatannya murni, jika ia bertindak dengan penuh pertimbangan, jika ia mengendalikan dirinya dan hidup menurut hukum – kemuliaannya akan bertambah.

 

Dengan membangkitkan dirinya, dengan kesungguhan, dengan kontrol pengendalian diri, orang bijak boleh membuat sebuah pulau bagi dirinya yang tidak dapat disapu kekuatan banjir.

 

Orang-orang bodoh mengejar kesia-siaan. Orang bijak menjaga kesungguhan sebagai permatanya yang terindah.

 

Jangan mengejar kesia-siaan, jangan pula mengejar kesenangan cinta dan nafsu! Dia yang bersungguh-sungguh dan meditatif mengalami kegembiraan besar.

 

Ketika orang yang terpelajar melenyapkan kesia-siaan berkat kesungguhan hati, dia yang bijak itu, yang sedang menapaki terus kebijaksanaan, menatap gerombolan bodoh di bawah sana: bebas dari penderitaan ia menatap kawanan yang sedang menderita itu seperti seorang yang berdiri diatas puncak gunung dan menatap mereka yang berdiri dibawah dia.

 

Yang bersungguh-sungguh di antara yang tidak peduli, yang sadar diantara mereka yang sedang tidur, orang bijak maju seperti seorang joki yang meninggalkan kudanya dibelakang.

 

Berkat kesungguhan, Maghavan (Indra) memegang tampuk pemerintahan surgawi. Orang-orang memuji kesungguhan; mereka yang bersikap acuh tak acuh selalu dipersalahkan.

 

Seorang Bhiksu (pertapa suci) yang bersuka cita dalam kesungguhan yang melihat sikap acuh tak acuh dengan rasa takut, bergerak bagaikan api yang membakar semua rantai-rantai pengikatnya, kecil atau besar.

 

Seorang Bhiksu (pertapa suci) yang dalam refleksi yang melihat sikap acuh tak acuh dengan rasa takut, tidak dapat jatuh dari keadaannya yang sudah sempurna itu – dia dekat dengan pintu Nirvana.

 

 

Hits: 22