Category: Sutta Published: Monday, 27 November 2017

Orang Bodoh

 

 

Panjanglah malam bagi dia yang terjaga, panjanglah satu mil bagi dia yang didera rasa capai; panjang nian hidup bagi si bodoh yang tidak mengetahui hukum sejati.

 

Jika seorang pengelana tidak betemu dengan seseorang yang lebih baik dari dirinya atau sama dengan dirinya, hendaknya ia teguh berjalan sendirian; tidak ada pertemanan dengan si bodoh.

 

“Anak-anak ini adalah milikku dan kekayaanku ini adalah kepunyaanku,” dengan pikiran-pikiran seperti ini orang bodoh tersiksa. Dia sendiri memiliki dirinya; apalagi menyangkut anak dan harta benda?

 

Orang bodoh yang mengetahui kebodohannya, setidaknya terhitung bijak. Tapi si bodoh yang mengira dirinya bijak, dia itu sungguh layak dipanggil si pandir.

 

Jikalau orang bersahabat dengan orang bijak meskipun seumur hidupnya dia akan melihat kebenaran tidak lebih dari banyaknya kuah sup yang dapat ditampung dalam sebuah sendok kecil.

 

Jika seorang pandai bersahabat hanya satu menit dengan orang bijak, dia segera akan melihat kebenaran seperti lidah yang mencicipi sup lezat.

 

Orang-orang miskin pengertian menciptakan musuh-musuh utama mereka karena melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang hanya menghasilkan buah-buah yang berasa pahit.

 

Perbuatan jahat harus dibayar dan ganjaran yang ia terima adalah tangis dan air mata.

 

Tidak, perbuatan baik tidak harus dibayar dan ganjaran yang ia terima adalah kegembiraan dan suka cita.

 

Sepanjang perbuatan jahat tidak berbuah, orang mengira perbuatannya itu seperti madu; tetapi manakala perbuatan itu matang, ia akan mengalami penderitaan besar.

 

Meskipun orang bodoh makan makanan dari bulan ke bulan (seperti seoprang asketik) dengan ujung bila rumput Kusa, ia toh tidak layak akan partikel keenam belas dari mereka yang telah menjalankan hukum dengan baik.

 

Sebuah perbuatan jahat, seperti susu yang baru dipera, tidak busuk seketika; seraya berasap tebal seperti api yang tertimbun abu, ia mengikuti orang bodoh.

 

Dan ketika perbuatan jahat itu, setelah berubah menjadi penderitaan maka ia menghancurkan nasih si bodoh, bukan ia memenggal kepalanya.

 

Biarkan orang bodoh berharap akan reputasi palsu, keistimewaan di antara para Biksu, kepemimpinan di dalam biara, pemujaan diri di antara sesama pertapa!

 

“Semoga umat maupun dai yang telah meningalkan dunia mengira bahwa aku yang melakukan hal ini; semoga mereka tunduk dalam segala sesuatu kepadaku yang dilakukan atau tidak dilakukan,” begitulah pikiran si bodoh, begitulah keingnan dan kebanggaannya bertambah-tambah.

 

“Hanya satu jalan menuju kekayaan, jalan lainnya mengbimbing ke arah Nirvana,” – jika sang Bhiksu, murid sang Buddha mempelajari hal ini ia tidak akan merindukan kehormatan, dia akan bertambah setelah perpisahan dari dunai ini.

 

 

Hits: 20