Category: Sutta Published: Tuesday, 28 November 2017

Penghukuman

 

 

Semua orang gentar di hadapan hukuman, semua orang takut akan kematian. Hendaknya kami mengingatnya bahwa kamu tidak berbeda dari lainnya, nda jangan membunuh atau menyebabkan pembunuhan terjadi.

 

Semua orang gentar di hadapan hukuman, semua orang mencintai kehidupan. Hendaknya kamu ingat bahwa kamu semua sama adanya, dan jangan membunuh atau sampai menyebabkan pembunuhan terjadi.

 

Dia yang demi kebahagiaan sendiri menghukum dan membunuh sesamanya yang juga merindukan kebahagiaan seperti dirinya tidak akan menemukan kebahagiaan ketika ajal menjemputnya.

 

Dia yang demi kebahagiaan sendiri tidak menghukum dan membunuh sesamanya yang juga merindukan kebahagiaan serupa akan menemukan kebahagiaan ketika maut menyambanginya.

 

Janganlah berbicara keras terhadap siapapun. Orang-orang yang disapa dengan nada kasar akan berbuat hal serupa. Pembicaraan yang dipenuhi amarah terasa menyakitkan: tinju balas tinju akan menimpamu.

 

Jika, seperti canang (gong) yang bertalu, engkau tak mengucapkan sepata pun, engkau sebenarnya telah menggengam Nirvana; amarah tidak ada padamu.

 

Sebagaimana seorang penjaga yang sedang menggiring kawanan ternaknya ke dalam kandang bersama pembantu-pembantunya, begitu juga Usia dan Kematian menggiring kehidupan manusia.

 

Seorang yang bodoh tidak menyadari ketika melakukan kejahatan. Sebaliknya, orang jahat terbakar oleh perbuatan-perbuatannya sendiri bagaikan terpanggang nyala api.

 

Dia yang menorehkan penderitan pada orang-orang yang tak berdosa seketika akan menjadi salah satu dari sepuluh kemungkinan dibawah ini:

 

Dia akan mengalami penderitaan yang luar biasa, kehilangan luka di tubuh, kemalangan besar aau hilang pikiran.

 

Kemalangan dari sang raja, tuduhan yang mengerikan, kehilangan para sahabat atau kemusnahan harta benda.

 

Kilat akan membakar rumahnya, dan ketika tubuhnya dihancurkan alam, jiwa orang bodoh itu naik ke neraka.

 

Ketelanjangan, rambut yang dicukur gundul, kotoran, puasa atau terlentang beralaskan pertiwi, badan yang di gosok dengan abu atau duduk diam mematung tidak sanggup memurnikan seorang manusia yang tidak mau mengatasi keinginan-keinginannya.

 

Dia yang, meskipun memakai jubah indah, mengolah keheningan, hening, tenang, terkendali, selibat dan tidak lagi mencari-cari kesalahan dalam diri orang lain adalah sungguh seorang Brahmana, seorang asketik (sramana), seorang padri (biksu).

 

Adakah didunia ini orang yang begitu takut dipermalukan sehingga dia tidak suk mengeluarkan sumpah serapah sebagaimana seekor kuda terhadap cambuk si penunggang?

 

Seperti kuda rupawan saat tersentuh dengan cambuk, hendaknya kamu bersemangat dan penuh minat, dan oleh iman, keutamaan, energi, meditasi, dan kepekaan akan hukum, engkau aklan melewati penderitaan yang besar, sempurna dalam pengetahuaan dan tingkah laku serta selalu tajam ingatanmu.

 

Para pembuat sumur mengikuti air ke mana saja mereka mau, para pemanah menarik gendewanya, para pemahat menggulati sepotong kayu, orang-orang baik menata diri mereka.

 

 

Hits: 17