Category: Sutta Published: Wednesday, 29 November 2017

Kebahagiaan

 

 

Sungguh kita hidup berbahagia, tidak menbenci mereka yang membenci kita! Di antara orang-orang yang membenci kita, kita berdiam bebas dari kebencian! Sungguh kita hidup berbahagia, bebas dari rasa sakit di antara yang sakit-sakitan! Diantara orang-orang yang dilanda penyakit, biarlah kita berdiam bebas dari penyakit!

 

Sungguh kita hidup berbahagia, bebas dari keserakahan di antara yang serakah! Di antara orang-orang yang serakah, biarlah kita berdiam bebas dari keserakahan!

 

Sungguh kita hidup berbahagia, meskipun kita tidak memiliki apa-apa! Kita tampak bagaikan dewa-dewa yang bersinar-sinar yang berkecukupan dalam kebahagiaan!

 

Kemenangan melahirkan kebencian karena ditaklukkan tidak merasa gembira. Dia yang telah bebas naik dari kemenangan maupun kekalahan, dia yang berkecukupan menjadi yang berbahagia.

 

Tidak ada api seperti nafsu; tidak ada kekalahan seperti kebencian, tidak ada penderitaan seperti tubuh ini; tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi dari ketenangan batin.

 

Rasa lapar adalah yang terburuk dari segala penyakit, elemen-elemen tubuh yang terburuk; jika seseorang mengetahui hal ini dengan sungguh-sungguh, itu merupakan Nirvana, kebahagiaan tertinggi.

 

Kesehatan adalah yang terbaik dari seluruh anugera, kejahatan adalah elemen-elemen tubuh yang terburuk; jika seseorang mengentahui hal ini dengan sungguh-sungguh, itu merupakan Nirvana, kebahagiaan tertinggi.

 

Dia yang sudah mencicipi manisnya rasa sepi dan keheningan adalah dia yang bebas dari segenap ketakutan dan dosa manakala dia merasakan betapa menyegarkan minum dari mata air hukum yang benar.

 

Penglihatan yang terpilih (Ariya) baik adanya. Hidup dengan mereka selalu merupakan kebahagiaan. Ketika seseorang tidak melihat orang-orang bodoh, dia akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

 

Sengsaralah dia yang berjalan bertemankan orang-orang bodoh. Layaknya berdampingan dengan seorang musuh, berjalan bersama orang-orang bodoh selalu menghasilkan penderitaan. Berjalan bersama orang bijak menghadirkan kenikmatan seolah bertemu kerabat sendiri.

 

Oleh karena itu, orang seharusnya mengikuti mereka yang bijak pintar dan terpelajar. Orang seharusnya mengikuti yang palingterlatih, yang setia dengan kewajibannya, yang terpilih. Orang seharusnya mengikuti yang bijak dan baik seperti itu sebagaimana sang rembulan selalu mengikuti jalannya bintang-bintang.

 

 

Hits: 23