Category: Sutta Published: Wednesday, 29 November 2017

Kemarahan

 

 

Hendaknya seseorang meninggalkan kemarahan, hendaknya dia melupakan kebanggaan diri dan mengatasi semua perbudakan! Tidak ada penderitaan yagn sanggup merubuhkan orang yang tidak lekat dengan nama dan bentuk serta tidak memiliki apa-apa.

 

Dia yang mengendalikan hawa amarahnya seperti menahan sebuah kereta perang yang sedang merangsek maju, dia yang aku sebut seorang kusi sejati. Yang lain-lainnya adalah sekedar menahan tali kekangnya.

 

Kiranya kemarahan reda karena cinta, kejahatan karena kebaikan. Kiranya seseorang mengalahkan keserakahan dengan kebebasan, muslihat dengan kebenaran!

 

Katakanlah kebenaran, jangan turut pada kemarahan dan berilah jika engkau diminta sedikit. Dengan tiga langkah ini, engkau akan berada dekat dengan para dewa.

 

Para bijak yang tidak pernah mendera siapa pun, dan yang selalu mengontrol tubuh mereka, mereka akan pergi ke tempat yang tak berubah lagi (Nirvana), negeri kebahagiaan sempurna.

 

Mereka yang selalu berjaga-jaga, siang dan malam tekun belajar, dan yang berjuang memperoleh Nirvana, segala nfasu mereka akan berakhir.

 

Inilah peribahasa kuno. O Atula, seolah-olah bukan hari ini: "Mereka menyalahkan dia yang duduk diam, mereka menyalahkan dia yang berbicara banyak, mereka yang juga menyalahan dia yang berbicara sedikit. Tak satupun manusia di muka bumi yang tidak pernah mendapatkan tudingan."

 

Baik dulu, sekarang dan di masa datang, tidak pernah ada orang yang selalu hanya disalahkan dan orang yang selalu hanya di puji.

 

Tetapi dia yang hati-hati mengeluarkan pujian dari hari ke hari, sebagaimana tanpa cacat-cela, bijaksana dan kaya dalam ilmu, siapakah yang berani menyalahakan orang yang seperti ini layaknya sebuah koin emas dari sungai Gambu? Bahkan para dewapun memujinya, bahkan seorang Brahmana juga mengeluarkan kata-kata pujian terhadapnya.

 

Waspadalah terhadap kemarahan tubuh dan kendalikan dia! Jangan berumah di atas dosa-dosa tubuh, namun dengan tubuhmu engkau harus mempraktekkan keutamaan!

 

Waspadalah terhadap kemarahan dari lidah dan kendalikan dia! Jangan berumah di atas dosa-dosa lidah, namun dengannya engkau harus harus mempraktekkan keutamaan!.

 

Waspadalah terhadap kemarahan yang ada dalam bernakmu dan kendalikan dia! Jangan berumah di atas dosa-dosa pikiranmu, namun dengannya engkau harus mempraktekkan keutamaan!!

 

Orang bijak yang mengontrol tubuh, lidah dan pikirannnya termasuk golongan orang bijak yang sungguh-sungguh terkontrol.

 

 

Hits: 20