Category: Sutta Published: Wednesday, 29 November 2017

Ketidakmurnian

 

 

Engkau sekarang seperti selembar daun sear, pada malaikat kematian (Yama) telah datang mendekati engkau. Engkau sedang berdiri di bawah pintu keberangkatan dan engkau tidak memiliki bekal secuil pun untuk perjalananmu.

 

Buatlah sebuah pulau untuk dirimu, bekerjalah dengan giat dan bijaklah! Ketika ketidakmurniaanmu dilemparkan keluar dan engkau dibebaskan dari belenggu salah, engkau akan masuk ke dalam dunia surgawi kaum terpilih (Ariya).

 

Hidupnya sudah menjumpai kesudahannya, engkau sudah mendekati kematian (Yama), tidak ada tempat perisitrahatan untukmu di tengah jalan dan engkau tidak memiliki bekal secuil pun untuk perjalananmu.

 

Buatlah sebuah pulau untuk dirimu, bekerjalah dengan giat dan bijaklah! Ketika ketidakmurniaanmu dienyahkan dari padamu, dan engkau bebas dari kesalahan, engkau akan kembali memasuki roda kelahiran dan kematian lagi.

 

Kiranya orang bijak mengenyahkan ketidakmurnian dari dalam dirinya seperti seoranng penempa memisahkann unsur-unsur lain untuk mendapatkan perak yang sungguh-sungguh perak, satu demi satu, sedikit demi sedikit dan dari waktu ke waktu.

 

Sebagaimana ketidakmurniaan keluar dari besi tersebut, ketika hal itu muncul dan memusnahkannya, begitu juga perbuatan pelanggaran hukum membimbing dia ke jalan kejahatan.

 

Cacat doa-doa bukannya terletak pada pengulangan, cacat rumah-rumah bukannya pada tidak adanya berbaikan, caat raut wajah bukannya pada kemalasan. Akan tetapi, cacat dari seorang pengamat adalah ketiadaan intensitas.

 

Perilaku buruk adalah cacat dari seorang perempuan, sikap kikir akan mengotori gelar penderma. Cacatlah semua cara jahat di dunia ini dan di dunia yang akan datang.

 

Hidup itu mudah dijalani bagi seseorang yang tidak mempunyai rasa malu. Seorang pahlawan kesiangan, seorang yang selalu berbuat kesalahan, seorang sahat yang lancang, sukla menghina dan berhati busuk.

 

Akan tetapi, hidup ini berat bagi orang biasa yang selalu mencari-cari yang murni, yagn menarik diri, tak bernoda dan pandai.

 

Dia yang menghancurkan kehidupan, mengatakan ketidakbenaran, dan mengambil apa yang bukan menjadi haknya di dunia ini, yang menganggu istri tetangganya dan kesetanan dalam kemabukan alkohol, sesungguhnya sudah dari dunia ini ia sedang mencerabut dirinya sendiri.

 

Hai manusia, ketahuilah, bahwa yang tidak memelihara pikirannya berada dalam keadaan buruk. Sadarlah sebab keserakahan dan nafsu syahwat tidak lama lagi akan membawamu kepada penderitaan!

 

Dunia memberi menurut iman dan nafsu. Jika seseorang menserakahi makanan dan minuman yang diperuntukkan bagi sesamanya, dia akan tidak menemukan keadamaian siang maupun malam.

 

Dia yang sudah dimurnikan dari dorongan-dorongan liar seperti itu akan menemukan kedamaian siang maupun malam.

 

Tidak ada nyala seperti nafsu, tidak ada ikan hiu seperti kebencian, tidak ada kesia-siaan seperti perbuatan bodoh, tidak ada banjir bandang seperti keserakahan.

 

Kesalahan sesama mudah terlihat tetapi kesalahan diri sendiri justru sukar diakui. Manusia membuka aib tetanganya seperti melepaskan butiran jagung dari bongkolnya, tetapi kelemahan dirinya dia sembunyikan seperti si curang yang menyembunyikan dadu dari lawannya.

 

Jika seseorang mencari-cari kelemahan-kelemahan sesamanya dan cenderung mudah tersinggung, nafsunya akan menjadi-jadi seehingga ia kian jauh dari penghancuran hawa nafsu. Dunia bersuka cita dalam kesombongan, para Tathagata (para Buddha) telah mengibaskan kesombongan mereka sepenuhnya.

 

Tidak ada jalan lewat udara, manusia bukanlah seorang Samana dalam daging. Tidak ada makhluk yang abadi tetapi yang sempurna diterangi (Buddha) tidak pernah terguncang.

 

 

Hits: 19