Category: Sutta Published: Wednesday, 29 November 2017

Yang Adil

 

 

Seseorang dianggap tidak adil apabila ia menyikapi sebuah persoalan dengan bahasa kekerasan. Ia dianggap adil apabila ia membedakan antara yang benar dan aslah, apabila ia terpelajar dan memberi sesamanya bimbingan tidak dengan kekerasan melainkan dengan hukum yang satu itu. Dengan bertindak sebagai penjaga kemurnian hukum sekaligus terpelajar, ddia disebut orang yang adil.

 

Seseorang dianggap terpelajar bukan karena berapa banyak kata yagn bisa ia ucapkan. Sebaliknya , dia yang sabar, bebas dari rasa benci dan takut adalah pantas disebut yang terpelajar.

 

Seseorang, bukanlah pengikut hukum hanya karena ia banyak bicara. Meskipun ia hanya belajar sedikit namun ia taat menjalankan hukum dalam hidupnya, dia yang tidak pernah mengacuhkan hukum adalah pengikut hukum.

 

Uban di kepala tidak sama dengan kesenioran. Boleh jadi dia adalah seorang yang matang tetapi dia itu yagn disebut "Tua dalam kesia-siaan."

 

Ketika kebenaran, keutamaan, belas kasihan, kendali diri dan sikap berkecukupan ada dalam diri seseorang yang bijak dan bebas dari ketidakmurnian, disitu ada senioritas sejati.

 

Orang yang hatinya dipenuhi rasa dengki, licik dan munafik tidak akan mendapat penghormatan dengan hanya mengandalkan kemanisan bibirnya atau kemolekan rupanya.

 

Hanya ketika segala keburukan hati sudah terhapuskan sampai ke akar-akarnya, dia yang bebas dari rasa benci akan disebut yang terhormat.

 

Meskipun mencukur kepalanya, seorang yang belum menjadi murid Buddha dan mengeluarkan kata-kat apalsu tidak layak menyebut diri seorang Samana (asketik). Dapatkah seseorang menjalani kehidupan seorang Samana sementara ia masih tertawan dalam penjara keinginan dan keserahakan?

 

Dia yang selalu membungkam kejahatan tidak peduli besar kecilnya, dialah yang disebut seorang Samana justru karena ia telah membungkam kejahatan.

 

Bukanlah seorang pemgebara suci (Biksu) dengan hanya meminta sedekah. Hanya dia yang mengadopsi seluruh hukum dan tidak sekedar meminta-minta yang layak disebut seorang Bhiksu.

 

Dia yang berqada di atas kebaikan maupun keburukan, yang menghayati hidup selibat, yang dengan perhatian melampaui dunia yang layak disebut seorang Bhiksu.

 

Seseorang bukanlah seorang Muni hanya dengan memelihara keheningan sementara ia tetap bodoh dan acuh tak acuh. Akan tetapi orang bijak adalah orang dengan penuh keseimbangan memilih yang baik dan menghindari yang buruklah yang layak mendapat sebutan Muni. Dan dengan begitu, adalah seorang Muni yang menimbang-nimbang antara yang baik dan buruk.

 

Seseorang yang melukai makhluk hidup tidak pantas disebut seorang yang terpilih (Ariya). Ariya adalah dia yang menaruh belas kasihan terhadaps segenap makhluk hidup.

 

Bukan semata-mata karena disiplin dan janji, bukan hanya dengan banyak belajar, bukan semata-mata karena aku memasuki puncak ekstase, juga bukan hanya dengan tidur dalam kesendirian, aku mendapatkan kebahagiaan yang tak dapat dipahami siapa pun ini berat diri melepas ikatan-ikatan duniawi. I Bhiksu, dia yang telah mengenyahkan segala keinginan niscaya mendapatkan rasa percaya diri

 

 

Hits: 18