Category: Sutta Published: Wednesday, 29 November 2017

Sang Buddha - Yang Diterangi

 

 

Dia yang penaklukannya tidak bisa ditaklukkan lagi, yang tak seorangpun mampu memasuki penaklukkannya, dengan cara apa engkau hendak membawanya, Yang Diterangi, Yang Maha Tahu, sang tanpa jelek?

 

Dia yang jerat dan racun keinginan tidak dapat menggodanya lagi, dengan cara apa engkau hendak membimbingnya, Yang Diterangi, Yang Maha Tahu, sang tanpa jelek?

 

Bahkan para dewa pun iri dengan orang-orang yang berkesadaran dan awas, yang terberi untuk meditasi, yang bijak dan menemukan suka cita dalam pengunduran diri dari hal-hal indrawi.

 

Yang sukar dipahami adalah konsepsi manusia, yang sukar adalah kehidupan bagi manusia, yang sukar adalah mendengarkan Hukum Sejati, yang sukar adalah kelahiran Yang Diterangi (pencapaian Kebuddhaan).

 

Tidak melakukan dosa sekecil apapun serta memurnikan pikiran adalah ajaran para Yang Diterangi.

 

Yang Diterangi menyebut kesabaran adalah penitensi yang tertinggi, jalan penderitaan yang panjang adalah wajib sebelum mencapai puncak Nirvana. Karena dia itu bukan seorang pertapa suci (pravragita) yang menyerang sesamanya, dia itu bukan seorang aksetik (sramana) yang menghina sesamanya.

 

Jangan menyalahkan dan menyerang sesama, hiduplah di bawah sang hukum, makan sekucupnya, tidur dan duduk sendirian serta berdiam ditataran pikiran-pikiran tertinggi - ini merupakan ajaran Yang Diterangi.

 

Tidak ada nafsu yang memuaskan bahkan jika engkau sampai bermandikan gemerincing emas. Dia yang mengetahui bahwa setiap nafsu itu hanya sesaat dan menyebabkan penderitaan, dia itu yang disebut bijak. Bahkan dalam kenikmatan-kenikmatan surgawi pun, dia tidak akan menemukan kepuasan sebab murid yang sepenuhnya terbangunkan bersuka cita hanya dalam penghancuran setiap keinginan.

 

Manusia yang didorong oleh ketakutan pergi mencari tempat-tempat pengungsian, ke banyak gunung dan rimba raya, ke banyak hutan dan pohon-pohon suci.

 

Sayangnya, itu semua bukanlah tempat pengungsian yang aman apalagi sempurna. Manusia tidak dibebaskan dari penderitaan setelah pergi ke tempat-tempat pengungsian semacam itu.

 

Dia yang mencari pengungsian di dalam Buddha, Hukum dan Kuilnya; dia yang dengan pengertian yang jernih melihat empat kebenaran suci: penderitaan, asal-mula penderitaan, penghancuran penderitaan dan delapan jalan suci yang membawa pada pelenyapan penderitaan; itulah pengungsian yang amat dan terbaik. Sepulang darinya, manusia dibebaskan dari segala jenis penderitaan.

 

Seorang supernatural (Buddha) tidak mudah ditemukan: dia tidak dilahirkan di segala tempat. Dimana ia dilahirkan, disitu hadir kemakmuran.

 

Kebahagiaan mengikuti kebangkitan Yang Diterangi, kebahagiaan mengikuti pengajaran Hukum Sejati, kedamaian bertahta dalam kuilnya, berbahagialah orang yang takzim dalam kedamaian.

 

Dia yang memberi penghormatan kepada mereka yang berhak menerimanya, apakah yang Terberkati (Buddha) atau para anak muridnya yaitu orang-orang yang telah mengenyahkan roh kejahatan dan menyeberangi banjir samsara (sengsara), dia yang memberi penghormatan kepada orang-orang yang telah menemukan pembebasan dan tidak lagi mengenal ketakutan, kebaikan perbuatannya tidak pernah dapat diukur oleh siapa pun!.

 

 

Hits: 23