Category: Sutta Published: Monday, 04 December 2017

Bahiya Sutta (Ud I.10)

 

 

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang tinggal di dekat Savatthi, di hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu Bahiya yang berpakaian kulit kayu sedang tinggal di pantai SUpparaka. Dia dihormati, dipuja, dihargai dan dimuliakan. Dia disembah dan juga dia telah mendapatkan kebutuhan pakaian, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan.

 

Ketika dia sedang bertapa, pemikiran ini muncul di benak bahiya yang berpakaian kulit kayu. "Apakah saya salah satu dari mereka di dunia ini yagn sudahm enjadi Arahat, atau yagn sudah memasuki jalan menuju tingkat Arahat?"

 

Saat itu seorang dewata yang dulunya kerabat Bahiya yang berpakaian kulit kayu memahami pemik8iran di benak bahiya ityu. Karena kasihan dan berkeinginan untuk membantu, dewata itu mendekati bahiya dan berkata: "Anda, Bahiya, bukan seorang Arahat atau sudah memasuki jalan menuju tingkat Arahat. Anda tidak mengikuti praktek yang membawa Anda menjadi Arahat atau memasuki jalan menuju tingkat Arahat".

 

"Kalau demikian di dunia ini termasuk para dewa siapakah yang Arahat atau sudah memasuki jalan menuju tingkat Arahat?"

 

"Ada, Bahiya, di negeri jauh, di suatu kota yang disebut Savathi. Disanalah Sang Bhagava itu, Bahiya, benar-benar seorang Arahat dan beliau mengajarkan Dhamma untuk mencapai kesucian Arahat".

 

Kemudian Bahiya yang berpakaian kulit kayu, yang tergugah secara mendalam oleh kata-kata dewata itu, saat itu juga berangkat dar Supparaka. Dengan perjalanan satu malam saja, dia pergi ke Savathi tempat Sang Bhagava sedang berada, di hutan jeta, di Vihara Anathapindika. Pada saat itu, sejumlah bhikkhu sedang berjalan kesana kemari di udara terbuka. Bahiya yang berpakaian kulit kayu mendekati para bhikkhu itu dan berkata: "Tuan-tuan yang terhormat, dimanakah Sang Bhagava sekarang tinggal; Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna? Kami ingin menjumpai Sang Bhagava, yang merupakan seorang Arahat, yang telah mencapai Penerangan Sempurna.

 

"Sang Bhagava, Bahiya, sudah pergi untuk menerima dana makanan dari rumah ke rumah".

 

Kemudian Bahiya dengan bergegas meninggalkan hutan Jeta. Memasuki Savatthi, dia melihat Sang Bhagava sedang berjalan menerima dana makanan di Savatthi, menyenangkan, indah dipandang, dengan indra yang tenang dan pikiran yang tentram, telah mencapai sikap yang sempurna dan tenang, terkendali, seorang yang sempurna, waspada dengan indra yang terlatih. ketika melihat Sang Bhagava, dia mendekat, bersujud dengan kepala di kaki Sang Bhagava dan berkata: "Ajarilah saya Dhamma, Sang Bhagava; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama."

 

Ketika diajak berbicara demikian, Sang Bhagava berkata kepada Badiya yang berpakaian kulit kayu: "Ini bukan waktu yang tepat, Bahiya, kami akan pergi menerima dana makanan".

 

Kedua kalinya Bahiya berkata kepada Sang Bhagava: "Sulit untuk tahu dengan pasti, Sang Bhagava, berapa lama Sang Bhagava akan hidup atau berapa lama saya akan hidup. Ajarilah saya Dhamma, Sang Bhagava; Ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaan saya sendiri untuk waktu yang lama". Untuk kedua kalinya Sang Bhagava berkata kepada Bahiya: "Ini bukan waktu yang tepat Bahiya, kami akan pergi menerima dana makanan". Ketiga kalinya Bahiya berkata kepada Sang Bhagava: "Sulit untuk tahu dengan pasti.....; ajarilah saya Dhamma, Sugata, demi kebaikan dan kebahagiaan saya untuk waktu yang lama.

 

“Dalam hal ini, Bahiya, kamu harus melatih dirimu sendiri; di dalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat; di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar; di dalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui. Dengan cara ini kamu harus melatih dirimu sendiri, Bahiya”.

 

Jika Bahiya didalam apa yang dilihat hanya ada apa yang dilihat, di dalam apa yang didengar hanya ada apa yang didengar; di dalam apa yang dirasakan hanya ada apa yang dirasakan; di dalam apa yang diketahui hanya ada apa yang diketahui, mak Bahiya, kamu tidak akan “bersama itu”; bila Bahiya kamu tidak lagi “bersama itu”, kamu tidak akan berada di dalam itu; bila, Bahiya, kamu tidak ada di dalam itu, maka Bahiya, kamu tidak akan berada disini maupun disana tidak juga diantara keduanya. Inilah akhir penderitaan”.

 

Melalui ajaran Dhamma yang singkat dari Sang Bhagava ini, pikiran bahiya yang berpakaian kulit kayu segera terbebas dari kekotoran tanpa kemelekatan. Kemudian, sesudah mengajar Bahiya dengan petunjuk ringkas itu, Sang Bhagava pergi.

 

Tidak alam setelah kepergian Sang Bhagava, seekor lembu dengan anaknya menyerang Bahiya yang berpakaian kulit kayu dan membunuh beliau. Ketika Sang Bhagava sudah selesai menerima dana makanan di Savatthi, pulang bersama sejumlah bhikkhu, pada waktu meninggalkan kota tersebut, Beliau melihat bahwa Bahiya yang berpakaian kulit kayu sudah meninggal dunia.

 

Melihat hal itu Beliay berkata kepada para Bhikkhu: “O, para bhikkhu, ambillah tubuh Bahiya, dan buatlah stupa untuk itu. Temanmu dalam kehidupan suci telah meninggal dunia”.

 

“Baiklah Sang Bhagava”, jawab para bhikkhu itu.

 

Diambillah tubuh Bahiya, yang diletakkan di atas tandu, dibawa pergi dan dibakar, dan dibuatlah stupa untuk-Nya. Kemudian mereka pergi menghadap Sang Bhagava, bersujud dan duduk di satu sisi. Duduk disana, para bhikkhu berkata kepada Sang Bhagava: “Tubuh Bahiya telah dibakar, Sang Bhagava, dan sebuah stupa telah dibuat untuk itu. Bagaimana keadaannya dan kehidupannya yang akan datang?”

 

“O, para bhikkhu, Bahiya berpakaian kulit kayu adalah seorang yang bijaksana. Dia berlatih menurut Dhamma dan tidak merepotkan saya dengan berselisih paham soal Dhamma. O, Bhikkhu, Bahiya telah mencapai Nibbana Akhir”.

 

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan khotbah inspirasi ini :

Dimana tidak ada air maupun tanah.
Tidak ada api maupun udara yang bertumpu.
Di sana tidak ada bintang yang bersinar,
Tidak ada matahari yang bercahaya.
Tidak ada bulan yang bercahaya,
Tetapi sebaliknya tidak ada juga kegelapan yang menyelimuti.
Jika seorang bijaksana, seorang brahmana sudah memahami ini,
Untuk dirinya melalui pengalamannya sendiri,
Maka dia terbebas dari yang berbentuk maupun
Yang tidak berbentuk,
Bebas dari rara senang dan dari rasa sakit.

 

Khotbah inspirasi ini diucapkan oleh Sang Bhagava. Demikianlah yang saya dengar.

 

 

Hits: 15