Category: Sutta Published: Wednesday, 06 December 2017

Muccalinda Sutta (Ud II.1)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava baru saja Swabangun, bersemayam di Uruvela di tepi sungai Neranjara di bawah naungan pohon Muccalinda. Adapun pada ketika itu beliau duduk selama tujuh hari dalam satu sesi, mengalami kebahagiaan pembebasan. Pada saat itu sebuah awan badai yang besar di luar musimnya timbul, dengan tujuh hari cuaca hujan, angin dingin, dan kegelapan yang mencekam. Kemudian Muccalinda sang raja naga, meninggalkan alamnya dan melingkari tubuh Sang Bhagava tujuh kali dengan belitannya, berdiri dengan kerudungnya yang besar terbentang di atas Sang Bhagava, berpikir: "Jangan biarkan Sang Bhagava terganggu oleh dingin. Jangan biarkan Sang Bhagava terganggu oleh panas. Jangan biarkan Sang Bhagava terganggu oleh sentuhan lalat, nyamuk, angin, matahari, dan makhluk yang menjalar." Kemudian pada akhir tujuh hari itu Sang Bhagava keluar dari konsentrasi tersebut. Muccalinda sang raja naga, menyadari bahwa langit telah cerah dan awan badai telah berlalu, serta melepaskan belitannya dari tubuh Sang Bhagava, mengubah penampakannya dan, mengambil wujud seorang pemuda, berdiri di hadapan Sang Bhagava dengan tangan dirangkapkan di depan dadanya.

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Bahagialah penyendirian bagi ia yang berpuas hati,
yang telah mendengar Dhamma, yang melihat.
Bahagialah ketakbengisan terhadap dunia,
pengendalian diri terhadap makhluk hidup.
Bahagialah nirnafsu terhadap dunia,
penanggulangan keinderawian.
Namun penundukan kecongkakan "aku ada"
Itulah sesungguhnya kebahagiaan tertinggi.

 

 

Hits: 7