Category: Sutta Published: Wednesday, 06 December 2017

Sakkara Sutta (Ud II.4)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam dekat Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Adapun pada ketika itu Sang Bhagava dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuji, dijunjung, seorang penerima jubah, makanan sedekah, pemondokan, dan keperluan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Pasamuan para bhikkhu pun dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuji, dijunjung, para penerima jubah, makanan sedekah, pemondokan, dan keperluan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Namun para pengelana dari aliran-aliran lain tidak dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuji, dijunjung; tidak pula mereka merupakan penerima jubah, makanan sedekah, pemondokan, atau keperluan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Maka para pengelana dari aliran-aliran lain, tak tahan terhadap penghormatan yang diberikan kepada Sang Bhagava beserta pasamuan para bhikkhu, ketika melihat para bhikkhu di desa atau hutan, akan menghina, mencerca, mengganggu, dan mengusik mereka dengan bahasa yang tidak sopan, kasar.

 

Kemudian sejumlah besar bhikkhu pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara mereka tengah duduk di sana, mereka berkata kepada Sang Bhagava: "Saat ini Sang Bhagava dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuji, dijunjung, seorang penerima jubah, makanan sedekah, pemondokan, dan keperluan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Pasamuan para bhikkhu pun dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuji, dijunjung, para penerima jubah, makanan sedekah, pemondokan, dan keperluan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Namun para pengelana dari aliran-aliran lain tidak dihormati, dihargai, dimuliakan, dipuji, dijunjung; tidak pula mereka merupakan penerima jubah, makanan sedekah, pemondokan, atau keperluan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit. Maka para pengelana dari aliran-aliran lain, tak tahan terhadap penghormatan yang diberikan kepada Sang Bhagava beserta pasamuan para bhikkhu, ketika melihat para bhikkhu di desa atau hutan, akan menghina, mencerca, mengganggu, dan mengusik mereka dengan bahasa yang tidak sopan, kasar."

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Ketika tersentuh dengan kebahagiaan atau penderitaan di desa atau hutan,
orang hendaknya tak mencela diri sendiri maupun orang lain.
Kontak-kontak menyentuh bergantung pada kelekatan.
Bila tak terdapat kelekatan, kontak-kontak akan menyentuh dengan apa?

 

 

Hits: 18