Category: Sutta Published: Wednesday, 06 December 2017

Suppavasa Sutta (Ud I.8)

 

 

Demikianlah yang pernah saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang tinggal di Kundiya, di hutan Kunditthana. Pada saat itu Suppavasa putri Koliya telah mengandung selama tujuh tahun dan tujuh hari sedang mengalami kesulitan melahirkan. Tetapi walaupun dia mengalami perasaan yang gawat, menyakitkan, menusuk, tajam dan parah, pikirannya dipenuhi tiga hal: “Sang Bhagava benar-benar orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yang mengajarkan Dhamma untuk melepaskan penderitaan semacam ini; Sangha pengikut Sang Bhagava memang benar maju menuju jalan yang benar, mengikuti jalan untuk melepaskan penderitaan semacam ini; Nibbana memang benar-benar kebahagiaan sempurna, disana penderitaan semacam ini tidak diketemukan.

 

Kemudian Suppavasa purti Koliya berkata kepada suaminya: “Tuanku, pergilah kepada Sang Bhagava dan hormatilah beliau atas namaku, hormatilah Sang Bhagava dengan kepalamu di kakiNya, dan tanyakan mengenai kesehatan dan keadaan, kesejahteraan, kekuatan dan kenyamanan beliau dengan mengatakan: “Suppavasa, putri Koliya, Bhante, menghormat kepada Sang Bhagava dengan kepalanya di kaki Bhante dan menanyakan tentang kesehatan dan keadaan,......” Dan juga katakan “Suppavasa, Bhante, telah hamil tujuh tahun dan selama tujuh hari mengalami kesulitan melahirkan. Tetapi walaupun dia mengalami kesulitan, menyakitkan, menusuk, tajam dan parah, pikirannya dipenuhi tiga hal: “Sang Bhagava benar-benar orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yang mengajarkan Dhamma untuk melepaskan penderitaan semacam ini; Sangha pengikut Sang Bhagava memang benar maju menuju jalan yang benar, mengikuti jalan untuk melepaskan penderitaan semacam ini; Nibbana memang benar-benar kebahagiaan sempurna, disana penderitaan semacam ini tidak diketemukan”.

 

“Baiklah”, jawab putra Koliya kepada Suppavasa, dan dia mendatangi Sang Bhagava, bersujud dan duduk di satu sisi. Sementara duduk disana, dia berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, Suppavasa, putri Koliya menghormat Sang Bhagava dengan kepalanya di kaki Bhante ...... Tetapi walaupun dia mengalami kesulitan, menyakitkan, menusuk, tajam dan parah, pikirannya dipenuhi tiga hal: “Sang Bhagava benar-benar orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, yang mengajarkan Dhamma untuk melepaskan penderitaan semacam ini; Sangha pengikut Sang Bhagava memang benar maju menuju jalan yang benar, mengikuti jalan untuk melepaskan penderitaan semacam ini; Nibbana memang benar-benar kebahagiaan sempurna, disana penderitaan semacam ini tidak diketemukan.

 

“Semoga Suppavasa putri Koliya dalam keadaan baik dan sehat dan melahirkan seorang anak lelaki yang sehat.” (ketika Sang Bhagava telah mengucapkan hal itu, Suppavasa putri Koliya menjadi sembuh dan sehat dan melahirkan seorang anak lelaki sehat).

 

Putra Koliya berkata: “Semoga demikian, Bhante”, gembira dan penuh penghargaan terhadap kata-kata Sang Bhagava. Dia bangkit dari tempat duduknya, bersujud di hadapan Sang Bhagava, sambil tetap berada disebelah kanan beliau, pulang ke rumah.

 

Dan putra Koliya melihat bahwa Suppavasa dalam keadaan baik dan sehat dan telah melahirkan seorang anak lelaki yang sehat. Ketika melihat ini dia berpikir “Memang benar-benar hebat, memang benar-benar mengagumkan kemampuan dan kekuatan luar biasa Sang Tathagatha yang sangat besar. Ketika kata-kata itu diucapkan oleh Sang Bhagava; Suppavasa menjadi sembuh dan sehat.” Dan dia sangat senang dan gembira, dan menjadi riang dan bahagia.

 

Kemudian Suppavasa berkata kepada suaminya: “Tuanku, pergilah kepada Sang Bhagava dan hormatilah beliau atas namaku, hormatilah Sang Bhagava dengan kepalamu di kaki beliau dan katakan: “Suppavasa putri Koliya Bhante, menghormat Sang Bhagava dengan kepalanya di kaki Bhante”, Dan juga katakan: “Suppavasa, Bhante, telah hamil selama tujuh tahun dan selama tujuh hari mengalami kesulitan melahirkan. Dia sekarang dalam keadaan baik dan sehat dan telah melahirkan seorang anak lelaki yang sehat. Dia mengundang Sangha untuk menerima dana makanan selama tujuh hari. Mohon, Bhante, mengabulkan Suppavasa untuk menyediakan dana makanan selama tujuh kali kepada Sang Bhagava bersama dengan Sangha.”

 

Pada saat itu seorang pengikut awam lain telah mengundang Sangha yang dipimpin Sang Buddha untuk menerima dana makanan hari berikutnya dan pengikut awam tersebut adalah pendukung Yang Ariya Mnahamoggallana. Kemudian Sang Bhagava memanggil Yang Ariya Mahamoggalana dan berkata “Mahamoggallana, Suppavasa, putri Koliya, mengundang Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk menerima dana makanan selama tujuh hari. Ijinkan Suppavasa memberikan tujuh kali dana makanannya. Pendukungmu dapat memberikan dana makanannya sesudah itu.”

 

“Baiklah, Bhante”, Yang Ariya Mahamoggallana menjawab Sang Bhagava dan dia pergi ke pendukung awam tersebut dan mengulang apa yang Sang Bhagava katakan.

 

“Bhante, jika Yang Ariya Mahamoggallana mau menjadi penanggungku untuk tiga hal – untuk kekayaan, untuk kehidupan dan untuk keyakinan – maka biarlah Suppavasa, putri Koliay memberikan tujuh kali dana makanan dan saya akan memberikan bagianku sesudah itu.”

 

“Untuk dua dari hal-hal itu, sahabat, saya akan memberikan tanggunganku, untuk kekayaan dan kehidupan; tetapi untuk keyakinan, kamu adalah penanggungmu sendiri.”

 

“Bhante, jika Yang Ariya Mahamoggallana mau menjadi penanggungku untuk dua hal yaitu kekayaan dan kehidupan, saya mengijinkan Suppavasa untuk memberikan tujuh kali dana makanan. Saya akan memberikan bagianku sesudah itu.”

 

Kemudian Yang Ariya Mahamoggallana, sesudah mendapatkan persetujuan dari umat awam tersebut, mendekati Sang Bhagava dan berkata: “Pengikut awam saya telah setuju, Bhante. Biarlah Suppavasa putri Koliya memberikan tujuh kali dana makanannya. Ia akan memberikannya sesudah itu.”

 

Maka Suppavasa, putri Koliya, dengan tangannya sendiri, melayani dan memenuhi kebutuhan Sangha yang dimpimpin oleh Sang Buddha dengan makanan mewah yang lunak dan padat, selama tujuh hari. Dan dia menuruh anaknya memberi hormat kepada Sang Bhagava dan kepada seluruh bhikkhu. Kemudian Yang Ariya Sariputta berkata kepada anak itu: “Apakah kamu baik-baik saja, nak? Apakah kamu sehat? Apakah kamu merasakan sakit?.

 

“Yang Ariya Sariputta, bagaimana saya baik-baik saja? Bagaimana saya dapat sehat? Saya sudah melewatkan tujuh tahun didalam kawah darah.”

 

Kemudian Suppavasa (berpikir), “Putraku sedang bercakap-cakap dengan Jenderal Dhamma”, merasa senang menjadi riang an bahagia. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Suppavasa: “Apakah kamu berharap bisa mempunyai putra seperti itu lagi?”

 

“Saya berharap, Bhante, saya bisa mempunyai tujuh putra seperti itu lagi!”

 

Kemudian karena menyadari pentingnya hal itu, Sang Bhagava pada saat itu mengungkapkan khotbah inspirasi ini :

Ketidaksenangan dalam samaran kesenangan,
yang tidak dicintai dalam samaran kecintaan,
penderitaan dalam samaran kebahagiaan,
menguasai orang yang tidak waspada.

 

 

Hits: 13