Category: Sutta Published: Wednesday, 06 December 2017

Bhaddiya Kaligodha Sutta (Ud II.10)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam di Anupiya di Kebun Mangga. Adapun pada ketika itu, YM Bhaddiya Kaligodha, ketika pergi ke hutan, ke kaki sebatang pohon, atau ke sebuah kediaman kosong, berulang-ulang bersorak, "Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!" Sejumlah besar bhikkhu mendengar YM Bhaddiya Kaligodha, ketika pergi ke hutan, ke kaki sebatang pohon, atau ke sebuah kediaman kosong, berulang-ulang bersorak, "Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!" dan ketika mendengarnya, pikiran ini timbul pada mereka, "Tak ragu lagi bahwa YM Bhaddiya Kaligodha tidak puas menjalani kehidupan suci, oleh sebab sewaktu ia adalah seorang perumah-tangga ia mengenal kebahagiaan dari kebangsawanan, sehingga saat ini, ketika mengingatnya kembali, ia berulang-ulang bersorak, 'Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!'" Mereka pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami Beliau, duduk di satu sisi. Sementara mereka duduk di sana, mereka memberitahu Sang Bhagava: "YM Bhaddiya Kaligodha, Bhante, ketika pergi ke hutan, ke kaki sebatang pohon, atau ke sebuah kediaman kosong, berulang-ulang bersorak, 'Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!' Tak ragu lagi bahwa YM Bhaddiya Kaligodha tidak puas menjalani kehidupan suci, oleh sebab sewaktu ia adalah seorang perumah-tangga ia mengenal kebahagiaan dari kebangsawanan, sehingga saat ini, ketika mengingatnya kembali, ia berulang-ulang bersorak, 'Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!'"

 

Kemudian Sang Bhagava memberitahu seorang bhikkhu tertentu, "Mari, bhikkhu. Atas namaku, panggil Bhaddiya, katakan, 'Sang Guru memanggilmu, sobat.'"

 

"Baiklah, Bhante," bhikkhu tersebut menjawab dan, setelah pergi kepada YM Bhaddiya Kaligodha, ketika tiba ia berkata, "Sang Guru memanggilmu, sobat."

 

"Baiklah, sobat," YM Bhaddiya Kaligodha menyahut. Kemudian ia pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami Beliau, duduk di satu sisi. Sementara ia tengah duduk di sana, Sang Bhagava berkata kepadanya, "Apakah benar, Bhaddiya bahwa, ketika pergi ke hutan, ke kaki sebatang pohon, atau ke sebuah kediaman kosong, engkau berulang-ulang bersorak, 'Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!'?"

 

"Ya, bhante."

 

"Apakah maksud yang ada di pikiranmu hingga engkau berulang-ulang bersorak, 'Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!'?"

 

"Sebelumnya, sewaktu aku adalah seorang perumah-tangga, menikmati kebahagiaan dari kebangsawanan, aku menyuruh para pengawal ditempatkan di dalam dan di luar gedung kerajaan, di dalam dan di luar kota, di dalam dan di luar wilayah negeri. Namun walaupun aku dikawal sedemikian, dilindungi sedemikian, aku bersemayam dalam ketakutan - gelisah, penuh curiga, dan cemas. Tetapi sekarang, ketika pergi sendirian ke hutan, ke kaki sebatang pohon, atau ke sebuah kediaman kosong, aku bersemayam tanpa ketakutan, tidak gelisah, percaya diri, dan tidak cemas - tidak risau, tenang, kebutuhan-kebutuhanku terpenuhi, dengan pikiran bagai seekor rusa belantara. Inilah maksud yang ada di pikiranku hingga aku berulang-ulang bersorak, 'Alangkah bahagianya! Alangkah bahagianya!'"

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Pada siapa tak terdapat ketersulutan,
dan bagi siapa keberadaan dan non-keberadaan teratasi,
dialah orang - melampaui ketakutan, penuh bahagia, tanpa kesedihan, yang para dewa tak mampu melihatnya.

 

 

Hits: 16