Category: Sutta Published: Thursday, 07 December 2017

Loka Sutta (Ud III.10)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava baru saja Swabangun - bersemayam di Uruvela di tepi sungai Neranjara di bawah naungan pohon Bodhi. Adapun pada ketika itu beliau duduk selama tujuh hari dalam satu sesi, mengalami kebahagiaan pembebasan. Pada akhir tujuh hari itu, setelah keluar dari konsentrasi tersebut, beliau meninjau dunia dengan mata Buddha. Sementara beliau tengah melakukannya, beliau melihat makhluk-makhluk hidup terbakar dengan banyak demam dan bernyala dengan banyak api yang timbul dari nafsu, kebencian, dan waham.

 

Kemudian, menyadari pentingnya hal tersebut, beliau pada ketika itu mengutarakan sabda ini :

Dunia ini terbakar.
Dirundung oleh kontak,
ia menyebut penyakit sebuah "diri."
Bagaimanapun ia menafsirkannya,
itu selalu lain adanya.
Lain adanya, dunia itu dicengkeram oleh keberadaan,
dirundung oleh keberadaan
namun terus menggemari keberadaan.
Apa yang digemari, itu berbahaya.
Apa yang berbahaya, itu penderitaan.
Kehidupan suci ini dijalani
untuk meninggalkan keberadaan.

Para pendeta atau pertapa apapun yang berkata bahwa pembebasan dari keberadaan adalah melalui keberadaan, mereka semua tidak terbebas dari keberadaan, kukatakan.

Dan para pendeta atau pertapa apapun yang berkata bahwa jalan keluar dari keberadaan adalah melalui non-keberadaan, mereka semua belum lolos dari keberadaan, kukatakan.

Penderitaan ini mengada
bergantung pada semua kelekatan.
Dengan habisnya semua kelekatan,
penderitaan menjadi tiada.
Lihatlah dunia ini :
Makhluk-makhluk, menderita oleh ketidaktahuan yang tebal,
tak-terbebas dari kegemaran pada apa yang mengada.
Semua tingkat keberadaan, di manapun, dalam cara apapun,
adalah tak kekal, penuh penderitaan, sifatnya berubah.
Melihat ini - sebagaimana adanya -
dengan kebijaksanaan yang benar,
orang meninggalkan pengidaman akan keberadaan,
tanpa menggemari non-keberadaan.
Dari habisnya pengidaman secara menyeluruh
datang kepudaran dan penghentian tanpa sisa: Nibbana.
Bagi sang bhikkhu yang meraih Nibbana,
lewat ketaklekatan, tiada keberadaan lanjutan.
Ia telah menaklukkan Mara, memenangkan pertempuran.
Setelah pergi melampaui semua tingkat keberadaan, ia Demikian.

 

 

Hits: 13