Category: Sutta Published: Friday, 08 December 2017

Junha Sutta (Ud IV.4)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam di Rajagaha di Hutan Bambu, Suaka Tupai. Adapun pada ketika itu Y.M. Sariputta dan Y.M. Maha Moggallana tengah bersemayam di Gua Merpati. Kemudian, pada satu malam terang-bulan, Y.M. Sariputta - kepalanya baru saja dicukur - sedang duduk di udara terbuka, setelah mencapai tingkat konsentrasi tertentu.

 

Kebetulan saja bahwa dua yakkha yang berkawan tengah terbang dari utara ke selatan untuk suatu urusan atau lainnya. Mereka melihat Y.M. Sariputta - kepalanya baru saja dicukur - duduk di udara terbuka. Melihatnya, yakkha pertama berkata kepada yang kedua, "Aku terilhami untuk memberi pertapa ini sebuah pukulan di kepala."

 

Ketika ini dikatakan, yakkha kedua berkata kepada yang pertama, "Cukup sudah, kawan. Jangan serang pertapa itu. Ia adalah seorang pertapa yang tangguh, dengan kesaktian dan kemampuan yang hebat."

 

Kedua kalinya, yakkha pertama berkata kepada yang kedua, "Aku terilhami untuk memberi pertapa ini sebuah pukulan di kepala."

 

Kedua kalinya, yakkha kedua berkata kepada yang pertama, "Cukup sudah, kawan. Jangan serang pertapa itu. Ia adalah seorang pertapa yang tangguh, dengan kesaktian dan kemampuan yang hebat."

 

Ketiga kalinya, yakkha pertama berkata kepada yang kedua, "Aku terilhami untuk memberi pertapa ini sebuah pukulan di kepala."

 

Ketiga kalinya, yakkha kedua berkata kepada yang pertama, "Cukup sudah, kawan. Jangan serang pertapa itu. Ia adalah seorang pertapa yang tangguh, dengan kesaktian dan kemampuan yang hebat."

 

Kemudian yakkha pertama, mengabaikan yakkha kedua, memberi Y.M. Sariputta sebuah pukulan di kepala. Dan dengan pukulan itu ia dapat menjungkalkan seekor gajah setinggi tujuh atau delapan kubit, atau membelah sebuah tebing batu karang. Namun di situ juga yakkha tersebut - berteriak, "Aku terbakar!" - jatuh ke dalam Neraka Besar.

 

Adapun Y.M. Moggalana - dengan mata luhurnya, murni, dan mengungguli manusia - melihat yakkha tersebut memberi Y.M. Sariputta sebuah pukulan di kepala. Melihat ini, ia pergi kepada Y.M. Sariputta dan, ketika tiba, berkata kepadanya, "Aku harap kau baik-baik saja, sahabat Sariputta. Aku harap kau merasa nyaman. Aku harap kau tidak merasa sakit."

 

"Aku baik-baik saja, sahabat Moggallana. Aku merasa nyaman. Namun aku memang merasa sedikit sakit kepala."

 

"Betapa menakjubkan, sobat Sariputta! Betapa mengagumkan! Betapa hebat kesaktian dan kemampuanmu! Baru saja satu yakkha memberimu sebuah pukulan di kepala. Begitu kerasnya pukulan tersebut sampai ia dapat menjungkalkan seekor gajah setinggi tujuh atau delapan kubit, atau membelah sebuah tebing batu karang. Namun kau hanya berkata begini: 'Aku baik-baik saja, sobat Moggallana. Aku merasa nyaman. Namun aku memang merasa sedikit sakit kepala'!"

 

"Betapa menakjubkan, sobat Moggallana! Betapa mengagumkan! Betapa hebat kesaktian dan kemampuan anda! Di mana kau melihat yakkha saat ini, aku bahkan tidak melihat satu setan abu pun!"

 

Sang Bhagava - dengan telinga luhurnya, murni, dan mengungguli manusia - mendengar kedua orang yang hebat tersebut berbicara memuji satu sama lain. Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Barangsiapa batinnya bagai batu karang,
kokoh, tak tergoyahkan,
tak-bernafsu pada hal-hal yang mencetuskan nafsu,
tak-beramarah oleh hal-hal yang mencetuskan amarah,
Ketika batinnya terolah seperti ini,
dari mana akan datang penderitaan?

 

 

Hits: 131