Category: Sutta Published: Saturday, 09 December 2017

Kutthi Sutta (Ud V.3)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam di Rajagaha di Hutan Bambu, Suaka Tupai. Adapun pada ketika itu di Rajagaha terdapat seorang penderita kusta bernama Suppabuddha, orang miskin, yang malang menyedihkan. Dan pada ketika itu Sang Bhagava tengah duduk dikelilingi oleh sekelompok besar orang, mengajarkan Dhamma. Suppabuddha si penderita kusta melihat sekelompok besar orang tersebut dari jauh dan berpikir, "Tak ragu lagi, seseorang pastilah tengah membagikan makanan pokok atau pelengkap di sana. Mengapa aku tidak pergi ke sekelompok besar orang tersebut, dan mungkin aku akan memperoleh beberapa makanan pokok atau pelengkap." Maka ia pergi ke sekelompok besar orang tersebut. Kemudian ia melihat Sang Bhagava duduk dikelilingi oleh sekelompok besar orang, mengajarkan Dhamma. Ketika melihat ini, ia menyadari, "Tidak ada orang membagikan makanan pokok atau pelengkap di sini. Itu adalah pertapa Gotama, duduk dikelilingi oleh sekelompok besar orang, mengajarkan Dhamma. Mengapa aku tidak mendengarkan Dhamma?" Maka ia duduk di satu sisi di sebelah sana, berpikir "Aku pun akan mendengarkan Dhamma."

 

Kemudian Sang Bhagava, setelah meliput benak dari seluruh kelompok tersebut dengan benaknya, menanyai dirinya, "Nah, siapakah di sini yang mampu mengerti Dhamma?" Sang Bhagava melihat Suppabuddha si penderita kusta duduk di dalam kelompok, dan ketika melihatnya beliau membatin, "Inilah orang di sini yang mampu mengerti Dhamma." Maka, terarah pada Suppabuddha si penderita kusta, beliau memberi perbincangan langkah demi langkah, yakni, perbincangan mengenai kedermawanan, mengenai kesalehan, mengenai surga; beliau menyatakan kekurangan, keburukan & bahayanya keinderawian, serta faedah-faedah dari pelepasan. Kemudian ketika beliau melihat bahwa pikiran Suppabuddha si penderita kusta telah siap, lunak, bebas dari kendala-kendala, riang & cemerlang, beliau kemudian memberi wejangan Dhamma khas para Buddha, yakni : penderitaan, asalnya, penghentian & jalan. Dan sebagaimana sebuah kain bersih, bebas dari noda-noda, akan menyerap pewarna dengan baik, dengan cara yang sama, selagi Suppabuddha si penderita kusta tengah duduk di tempat itu juga, mata Dhamma yang tanpa debu, tanpa noda muncul di dalam dirinya, "Apapun yang bersifat muncul, semua itu bersifat berhenti."

 

Setelah melihat Dhamma, meraih Dhamma, mengetahui Dhamma, setelah mencebur seluruhnya ke dalam Dhamma, setelah menyeberangi & melampaui keraguan, setelah tidak lagi memiliki kebingungan, setelah memperoleh ketakgentaran & ketakbergantungan kepada orang-orang lain mengenai ajaran Sang Guru, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Sang Bhagava. Ketika tiba, setelah menyalami Sang Bhagava, ia duduk di satu sisi. Sementara ia tengah duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava : "Bagus sekali, Bhante! Bagus sekali, bhante! Persis seolah-olah Sang Bhagava menegakkan apa yang telah terguling, atau menyingkap apa yang tersembunyi, memperlihatkan jalan kepada orang yang tersesat, atau mengangkat lampu dalam kegelapan sehingga mereka yang bermata dapat melihat bentuk-bentuk, begitu pula Sang Bhagava telah melalui beraneka pendekatan, menyinari Dhamma. Aku pergi berlindung kepada Sang Bhagava, kepada Dhamma, dan kepada Pasamuan para Bhikkhu. Sudilah Sang Bhagava mengingatku sebagai seorang pengikut awam yang telah pergi berlindung kepadanya, mulai hari ini, untuk seumur hidup."

 

Kemudian Suppabuddha si penderita kusta, setelah diinstruksikan, dinasihati, dibangkitkan & digembirakan oleh perbincangan Dhamma Sang Bhagava, menyenangi & menyetujui kata-kata Sang Bhagava, bangkit dari duduknya, menyalami Sang Bhagava, mengitarinya, menjaganya tetap di sisi kanan dan berangkat. Tak lama sesudah keberangkatannya ia diserang & dibunuh oleh seekor lembu beserta anak-lembu muda.

 

Kemudian sejumlah besar Bhikkhu menghampiri Sang Bhagava, dan ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara mereka tengah duduk di sana, mereka berkata kepada Sang Bhagava, "Bhante, si penderita kusta bernama Suppabuddha, yang telah diinstruksikan, dinasihati, dibangkitkan & digembirakan dengan sebuah perbincangan Dhamma, telah meninggal dunia. Bagaimana nasibnya? Bagaimana keadaan masa depannya?"

 

"Para Bhikkhu, Suppabuddha si penderita kusta itu bijaksana. Ia berlatih Dhamma sesuai dengan Dhamma dan tidak merepotkanku dengan masalah yang berkaitan dengan Dhamma. Dengan hancurnya tiga belenggu pertama, ia adalah seorang pemasuk-arus, tidak akan terkena keadaan sengsara, secara pasti menuju swabangun."

 

Ketika ini dikatakan, satu dari para Bhikkhu berkata kepada Sang Bhagava, "Bhante, apakah sebabnya, apakah alasannya, mengapa Suppabuddha si penderita kusta adalah orang miskin, yang malang menyedihkan?"

 

"Dahulu, para Bhikkhu, di Rajagaha ini juga, Suppabuddha si penderita kusta adalah anak dari seorang pemiutang yang kaya. Ketika tengah diantar ke sebuah taman ria, ia melihat Sang Pacceka Buddha Tagarasikhi pergi mengumpulkan makanan sedekah di kota. Ketika melihatnya, ia berpikir, 'Siapakah yang penderita kusta ini cari-cari?' Setelah meludah dan secara tidak hormat menghadapkan sisi kirinya pada Sang Pacceka Buddha Tagarasikhi, ia pergi. Sebagai akibat dari perbuatan tersebut ia dididih dalam neraka selama banyak tahun, beratus-ratus tahun, beribu-ribu tahun, beratus-ratus ribu tahun. Dan kemudian sebagai akibat dari perbuatan tersebut ia menjadi orang miskin, yang malang menyedihkan di Rajagaha ini juga. Namun sewaktu berjumpa dengan Dhamma & Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagata, ia memperoleh keyakinan, kesalehan, pengetahuan, pelepasan & kebijaksanaan. Setelah memperoleh keyakinan, kesalehan, pengetahuan, pelepasan & kebijaksanaan sewaktu berjumpa dengan Dhamma & Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagata, sekarang, sewaktu kehancuran tubuh, setelah kematian, ia telah muncul kembali dalam nasib yang bahagia, dalam alam surgawi, berkawan dengan para dewa dari surga Tiga-puluh-tiga. Di sana ia melampaui dewa-dewa lainnya dalam keindahan & keagungan."

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Seorang dengan penglihatan bagus,
menjumpai tempat yang tak-rata, berbahaya,
akan berusaha keras menghindarinya.
Seorang bijak, dalam dunia kehidupan,
hendaknya menghindari perbuatan-perbuatan jahat.

 

 

Hits: 118