Category: Sutta Published: Monday, 11 December 2017

Uposatha Sutta (2) (Ud V.5)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam di Savatthi di Taman Timur, istana ibu Migara. Adapun pada ketika itu, Sang Bhagava pada hari Uposatha, tengah duduk dikelilingi oleh pasamuan para bhikkhu. Kemudian Y.M. Ananda ketika malam telah sangat larut, pada akhir jaga pertama, bangkit dari duduknya, mengatur jubahnya menutupi satu bahu, berdiri menghadap Sang Bhagava dengan tangan dirangkapkan di depan dadanya, dan berkata kepada beliau: "Malam telah sangat larut, Bhante. Jaga pertama telah usai. Pasamuan para Bhikkhu telah duduk lama di sini. Sudilah Sang Bhagava melafalkan Patimokkha kepada pasamuan para Bhikkhu." Ketika ini dikatakan, Sang Bhagava tetap membungkam.

 

Kemudian kedua kalinya, ketika malam telah sangat larut, pada akhir jaga kedua, Y.M. Ananda bangkit dari duduknya, mengatur jubahnya menutupi satu bahu, berdiri menghadap Sang Bhagava dengan tangan dirangkapkan di depan dadanya, dan berkata kepada beliau: "Malam telah sangat larut, Bhante. Jaga kedua telah usai. Pasamuan para Bhikkhu telah duduk lama di sini. Sudilah Sang Bhagava melafalkan Patimokkha kepada pasamuan para Bhikkhu." Ketika ini dikatakan, Sang Bhagava tetap membungkam.

 

Kemudian ketiga kalinya, ketika malam telah sangat larut, pada akhir jaga ketiga, ketika fajar akan menyingsing dan wajah malam mulai berseri-seri, Y.M. Ananda bangkit dari duduknya, mengatur jubahnya menutupi satu bahu, berdiri menghadap Sang Bhagava dengan tangan dirangkapkan di depan dadanya, dan berkata kepada beliau: "Malam telah sangat larut, Bhante. Jaga ketiga telah usai. Fajar akan akan menyingsing dan wajah malam mulai berseri-seri. Pasamuan para Bhikkhu telah duduk lama di sini. Sudilah Sang Bhagava melafalkan Patimokkha kepada pasamuan para Bhikkhu."

 

"Ananda, perkumpulan ini tidaklah murni."

 

Kemudian Y.M. Maha Moggallana membatin: "Sehubungan dengan orang manakah Sang Bhagava baru saja berkata, 'Ananda, perkumpulan ini tidaklah murni'?" Maka ia mengarahkan pikirannya, meliput dengan benaknya seluruh benak dari pasamuan para Bhikkhu. Ia melihat orang tersebut tak bermoral, jahat, bertingkah laku tidak bersih dan mencurigakan, sembunyi-sembunyi dalam tindakannya, bukan seorang pertapa walaupun berpura-pura demikian, tidak menjalani kehidupan suci walaupun berpura-pura demikian, busuk di dalam, bergelimang nafsu, kotor sifatnya, duduk di tengah-tengah pasamuan para Bhikkhu. Ketika melihatnya, Y.M. Maha Moggallana bangkit, menghampiri orang tersebut, dan ketika tiba berkata, "Bangkitlah, sobat. Engkau telah terlihat oleh Sang Bhagava. Engkau tidak rukun dengan pasamuan para Bhikkhu." Kemudian orang tersebut tetap membungkam. Kedua kalinya ... Ketiga kalinya, Y.M. Maha Moggallana berkata, "Bangkitlah, sobat. Engkau telah terlihat oleh Sang Bhagava. Engkau tidak rukun dengan pasamuan para Bhikkhu." Dan untuk ketiga kalinya orang tersebut tetap membungkam.

 

Kemudian Y.M. Maha Moggallana, menarik tangan orang tersebut, mengusirnya lewat pintu luar serambi dan mengunci grendelnya, menghampiri Sang Bhagava dan ketika tiba berkata, "Aku telah mengusir orang tersebut, Bhante. Perkumpulan ini sekarang murni. Sudilah Sang Bhagava melafalkan Patimokkha kepada pasamuan para Bhikkhu."

 

"Tidakkah itu menakjubkan, Moggallana. Tidakkah itu mengherankan, bagaimana orang tersebut menunggu sampai ia ditarik tangannya." Kemudian Sang Bhagava berbicara kepada para Bhikkhu : "Mulai sekarang aku tidak akan lagi melakukan upacara Uposatha dan melafalkan Patimokkha. Kalian sendiri, para Bhikkhu, yang akan melakukan upacara Uposatha dan melafalkan Patimokkha. Adalah mustahil, tidak mungkin terjadi, bahwa seorang Tathagata akan melakukan upacara Uposatha atau melafalkan Patimokkha dengan perkumpulan yang tidak murni."

 

"Para Bhikkhu, terdapat delapan fakta yang menakjubkan dan mengherankan ini mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra. Delapan yang mana?

 

"[1] Samudra memiliki beting yang berangsur-angsur [melandai], lereng yang berangsur-angsur [melandai], kemiringan yang berangsur-angsur [melandai], dengan kecuraman yang tiba-tiba hanya setelah jarak yang panjang. Fakta bahwa samudra memiliki beting yang berangsur-angsur [melandai], lereng yang berangsur-angsur [melandai], kemiringan yang berangsur-angsur [melandai], dengan kecuraman yang tiba-tiba hanya setelah jarak yang panjang: Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan pertama mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"[2] Dan selanjutnya, samudra itu stabil dan tidak melebihi batas garis pasang .... Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan kedua mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"[3] Dan selanjutnya, samudra itu tidak mentoleransi jasad mati. Jasad mati apapun di samudra tersapu ke pantai dan terdampar di tanah kering .... Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan ketiga mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"[4] Dan selanjutnya, sungai-sungai besar apapun yang ada -- seperti Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu, Mahi -- ketika mencapai samudra, kehilangan semua nama mereka sebelumnya dan digolongkan sekadar sebagai "samudra" .... Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan keempat mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"[5] Dan selanjutnya, walaupun sungai-sungai di dunia mengalir ke dalam samudra, dan hujan turun dari langit, tidak terjadi peluapan atau berkurangnya samudra oleh sebab tersebut yang dapat terlihat .... Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan kelima mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"[6] Dan selanjutnya, samudra memiliki satu rasa tunggal : yaitu rasa garam .... Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan keenam mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"[7] Dan selanjutnya, samudra memiliki banyak harta karun beraneka jenis: mutiara, safir, lapis lazuli, kerang, kuarsa, merjan, perak, emas, rubi, dan batu mata kucing .... Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan ketujuh mengenai samudra yang, ketika melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"[8] Dan selanjutnya, samudra adalah tempat bersemayam dari para makhluk sakti seperti paus, pemakan-paus, dan pemakan-pemakan-paus; para asura, naga dan gandhabba. Terdapat di samudra makhluk-makhluk seratus yojana panjangnya, dua ratus ... tiga ratus ... empat ratus ... lima ratus yojana panjangnya. Fakta bahwa samudra adalah tempat bersemayam para makhluk sakti seperti paus, pemakan-paus, pemakan-pemakan-paus; para asura, naga, dan gandhabba; dan terdapat di samudra makhluk-makhluk seratus yojana panjangnya, dua ratus ... tiga ratus ... empat ratus ... lima ratus yojana panjangnya: Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan kedelapan mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"Ini adalah delapan fakta yang menakjubkan dan mengherankan mengenai samudra yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Asura sangat bergembira dengan samudra."

 

"Dalam cara yang sama, para bhikkhu, terdapat delapan fakta yang menakjubkan dan mengherankan mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya. Delapan yang mana?"

 

"[1] Sebagaimana samudra memiliki beting yang berangsur-angsur [melandai], lereng yang berangsur-angsur [melandai], kemiringan yang berangsur-angsur [melandai], dengan kecuraman yang tiba-tiba hanya setelah jarak yang panjang, dalam cara yang sama Dhamma dan Vinaya ini memiliki latihan yang berangsur-angsur, pelaksanaan yang berangsur-angsur, kemajuan yang berangsur-angsur, dengan penembusan menuju gnosis hanya setelah jarak yang panjang. Fakta bahwa Dhamma dan Vinaya ini memiliki latihan yang berangsur-angsur, pelaksanaan yang berangsur-angsur, kemajuan yang berangsur-angsur, dengan penembusan menuju gnosis hanya setelah jarak yang panjang: Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan pertama mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"[2] Dan selanjutnya, sebagaimana samudra itu stabil dan tidak melebihi batas garis pasang, dalam cara yang sama para siswaku tidak, bahkan demi hidup mereka melangkahi aturan latihan yang telah kurumuskan bagi mereka. Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan kedua mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"[3] Dan selanjutnya, sebagaimana samudra tidak mentoleransi jasad mati, jasad mati apapun di samudra tersapu ke pantai dan terdampar di tanah kering dalam cara yang sama, bila seorang yang tak bermoral, jahat, bertingkah laku tidak bersih dan mencurigakan, sembunyi-sembunyi dalam tindakannya bukan seorang pertapa walaupun berpura-pura demikian, tidak menjalani kehidupan suci walaupun berpura-pura demikian, busuk di dalam, bergelimang nafsu, kotor sifatnya pasamuan tidak rukun dengannya. Mengadakan pertemuan segera, mereka membuangnya dari pasamuan. Walaupun ia mungkin saja duduk di tengah-tengah pasamuan, ia jauh dari pasamuan, dan pasamuan jauh darinya. Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan ketiga mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"[4] Dan selanjutnya, sebagaimana sungai-sungai besar apapun yang ada, seperti Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu, Mahi, ketika mencapai samudra, kehilangan semua nama mereka sebelumnya dan digolongkan sekadar sebagai "samudra"; dalam cara yang sama, ketika anggota-anggota dari keempat kasta, ksatria, brahmana, pedagang, dan pekerja, berkelana dari kehidupan berumah ke tak-berumah dalam Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Tathagata, mereka melepas nama dan marga mereka sebelumnya dan digolongkan sekadar sebagai "para pertapa, putra-putra Sakya". Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan keempat mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"[5] Dan selanjutnya, sebagaimana sungai-sungai di dunia mengalir ke dalam samudera, dan hujan turun dari langit, tidak terjadi peluapan atau berkurangnya samudra oleh sebab tersebut yang dapat terlihat; dalam cara yang sama, walaupun banyak bhikkhu ber-parinibbana ke dalam unsur Nibbana tanpa sisa, tidak terjadi peluapan atau berkurangnya unsur Nibbana oleh sebab tersebut yang dapat terlihat. Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan kelima mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"[6] Dan selanjutnya, sebagaimana samudra memiliki satu rasa tunggal, yakni rasa asin, dalam cara yang sama, Dhamma dan Vinaya ini memiliki satu rasa tunggal: yaitu rasa pembebasan. Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan keenam mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"[7] Dan selanjutnya, sebagaimana samudra memiliki banyak harta karun beraneka jenis mutiara, safir, lapis lazuli, kerang, kuarsa, merjan, perak, emas, rubi, dan batu mata kucing dalam cara yang sama, Dhamma dan Vinaya ini memiliki banyak harta karun beraneka jenis : empat landasan keelingan, empat upaya benar, empat dasar kesaktian, lima daya, lima kekuatan, tujuh faktor kebangunan, jalan mulia beruas-delapan. Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan ketujuh mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"[8] Dan selanjutnya, sebagaimana samudra adalah tempat bersemayam dari para makhluk sakti seperti paus, pemakan-paus, dan pemakan-pemakan-paus; para asura, naga dan gandhabba, serta terdapat di samudra makhluk-makhluk seratus yojana panjangnya, dua ratus, tiga ratus, empat ratus, lima ratus yojana panjangnya; dalam cara yang sama, Dhamma dan Vinaya ini adalah tempat bersemayam dari para makhluk sakti seperti para sotapanna [pemasuk arus] dan mereka yang berlatih untuk meraih sotapatti-phala [buah pemasuk arus]; para sakadagami [kembali sekali lagi] dan mereka yang berlatih untuk meraih sakadagami-phala [buah dari yang kembali sekali lagi]; para anagami [yang tidak kembali lagi] dan mereka yang berlatih untuk meraih anagami-phala [buah dari yang tidak kembali lagi]; para Arahat dan mereka yang berlatih untuk kearahatan. Fakta bahwa Dhamma dan Vinaya ini adalah tempat bersemayam dari makhluk-makhluk sakti seperti para sotapanna dan mereka yang berlatih untuk meraih sotapatti-phala; sakadagami dan mereka yang berlatih untuk meraih sakadagami-phala; anagami dan mereka yang berlatih untuk meraih anagami-phala; para Arahat dan mereka yang berlatih untuk kearahatan: Ini adalah fakta yang menakjubkan dan mengherankan kedelapan mengenai Dhamma dan Vinaya ini yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

"Ini adalah delapan fakta yang menakjubkan dan mengherankan mengenai Dhamma dan Vinaya yang, ketika mereka melihatnya lagi dan lagi, membuat para Bhikkhu sangat bergembira dengan Dhamma dan Vinaya."

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Hujan membasahi apa yang tertutup,
dan tidak membasahi apa yang terbuka.
Jadi bukalah apa yang tertutup,
sehingga hujan tidak akan membasahinya.

 

 

Hits: 122