Category: Sutta Published: Monday, 11 December 2017

Jatila Sutta (Ud VI.2)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam di Savatthi di Taman Timur, istana ibu Migara. Adapun pada ketika itu Sang Bhagava, setelah keluar dari penyepiannya di sore hari, tengah duduk di luar pintu gerbang. Kemudian Raja Pasenadi Kosala pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Kemudian tujuh pertapa berambut-gelung, tujuh pertapa Jaina, tujuh pertapa telanjang, tujuh pertapa berpakaian-tunggal, dan tujuh pengelana, kuku-kuku mereka tumbuh panjang, rambut mereka tumbuh panjang, berjalan lewat tidak jauh dari Sang Bhagava. Raja Pasenadi Kosala melihat tujuh pertapa berambut-gelung, tujuh pertapa Jaina, tujuh pertapa telanjang, tujuh pertapa berpakaian-tunggal, dan tujuh pengelana tersebut, kuku-kuku mereka tumbuh panjang, rambut mereka tumbuh panjang, berjalan lewat tidak jauh dari Sang Bhagava. Ketika melihat mereka, ia mengatur jubah atasnya menutup satu bahu, berlutut dengan lutut kanannya di atas tanah, menghormati para pertapa tersebut dengan tangan dirangkapkan di depan dada, dan mengumumkan namanya kepada mereka tiga kali: "Aku adalah sang raja, bhante, Pasenadi Kosala. Aku adalah sang raja, Bhante, Pasenadi Kosala. Aku adalah sang raja, Bhante, Pasenadi Kosala." Kemudian tak lama sesudah para pertapa tersebut telah lewat, ia kembali kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara ia tengah duduk di sana, ia berkata kepada Sang Bhagava, "Dari mereka yang di dunia ini adalah para arahat atau telah memasuki jalan menuju kearahatan, adakah di antara para pertapa tersebut?"

 

"Sri baginda, sebagai seorang awam yang menikmati keinderawian; hidup dikerumuni oleh istri-istri dan anak-anak; menggunakan kain dan cendana Kasi; memakai karangan bunga, wewangian, dan krim; menangani emas dan perak, adalah sulit bagimu untuk mengetahui apakah mereka ini adalah para arahat atau telah memasuki jalan menuju kearahatan."

 

"Melalui hidup bersamalah baru kesalehan seseorang bisa diketahui, dan kemudian hanya sesudah masa yang panjang, bukannya masa yang pendek; oleh orang yang penuh perhatian, bukannya oleh orang yang tidak penuh perhatian; oleh orang yang bijaksana, bukannya oleh orang yang tidak bijaksana."

 

"Melalui berurusan dengannyalah baru kesucian seseorang bisa diketahui, dan kemudian hanya sesudah masa yang panjang, bukannya masa yang pendek; oleh orang yang penuh perhatian, bukannya oleh orang yang tidak penuh perhatian; oleh orang yang bijaksana, bukannya oleh orang yang tidak bijaksana."

 

"Melalui kemalanganlah baru ketabahan seseorang bisa diketahui, dan kemudian hanya sesudah masa yang panjang, bukannya masa yang pendek; oleh orang yang penuh perhatian, bukannya oleh orang yang tidak penuh perhatian; oleh orang yang bijaksana, bukannya oleh orang yang tidak bijaksana."

 

"Melalui diskusilah baru kebijaksanaan seseorang bisa diketahui, dan kemudian hanya sesudah masa yang panjang, bukannya masa yang pendek; oleh orang yang penuh perhatian, bukannya oleh orang yang tidak penuh perhatian; oleh orang yang bijaksana, bukannya oleh orang yang tidak bijaksana."

 

"Betapa menakjubkan, bhante! Betapa mengagumkan! Betapa bagusnya hal itu dinyatakan oleh Sang Bhagava! 'Sri baginda, sebagai seorang awam yang menikmati keinderawian; hidup dikerumuni oleh istri-istri dan anak-anak; menggunakan kain dan cendana Kasi; memakai karangan bunga, wewangian, dan krim; menangani emas dan perak, adalah sulit bagimu untuk mengetahui apakah mereka ini adalah para arahat atau telah memasuki jalan menuju kearahatan."

 

"'Melalui hidup bersamalah baru kesalehan seseorang bisa diketahui. Melalui diskusilah baru kebijaksanaan seseorang bisa diketahui, dan kemudian hanya sesudah masa yang panjang, bukannya masa yang pendek; oleh orang yang penuh perhatian, bukannya oleh orang yang tidak penuh perhatian; oleh orang yang bijaksana, bukannya oleh orang yang tidak bijaksana.'"

 

"Orang-orang ini, Bhante, adalah mata-mataku, para pengintaiku, kembali setelah pergi ke luar kota. Mereka pergi keluar terlebih dulu, dan baru kemudian aku pergi. Sekarang, sewaktu mereka telah menyikat debu dan lumpur, mandi dengan bersih dan memakai wewangian, telah memangkas rambut dan jenggot mereka, dan telah mengenakan jubah putih, mereka akan diganjar dan disediakan lima untai keinderawian."

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Orang hendaknya tidak membuat usaha di setiap tempat.
Orang hendaknya tidak menjadi sewaannya orang lain.
Orang hendaknya tidak hidup bergantung pada orang lain.
Orang hendaknya tidak membuat Dhamma sebuah dagangan.

 

 

Hits: 94