Category: Sutta Published: Monday, 11 December 2017

Tittha Sutta (1) (Ud VI.4)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam dekat Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Adapun pada ketika itu terdapat banyak pendeta, pertapa, dan pengelana dari beraneka aliran yang hidup di sekitar Savatthi dengan pandangan yang berbeda-beda, pendapat yang berbeda-beda, kepercayaan yang berbeda-beda, bergantung untuk dukungan atas pandangan mereka yang berbeda-beda. Beberapa dari para pendeta dan pertapa memegang pandangan ini, doktrin ini: "Alam semesta adalah kekal. Hanya ini yang benar; apapun lainnya keliru."

 

Beberapa dari para pendeta dan pertapa memegang pandangan ini, doktrin ini: "Alam semesta adalah tak-kekal". "Alam semesta adalah terbatas". "Alam semesta adalah tanpa batas". "Jiwa dan tubuh adalah sama". "Jiwa adalah satu hal dan tubuh hal lainnya". "Setelah kematian Sang Tathagata ada". "Setelah kematian Sang Tathagata tiada". "Setelah kematian Sang Tathagata ada dan tiada". "Setelah kematian Sang Tathagata tidak ada tidak pula tiada. Hanya ini yang benar; apapun lainnya keliru."

 

Dan mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih; melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, "Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini."

 

Kemudian di pagi hari, sejumlah besar Bhikkhu, setelah mengenakan jubah mereka dan membawa mangkuk serta jubah-luar mereka, pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan makanan sedekah. Setelah pergi mengumpulkan makanan sedekah di Savatthi, sehabis bersantap, kembali dari pengumpulan makanan sedekah mereka, mereka pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara mereka tengah duduk di sana, mereka berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, terdapat banyak pendeta, pertapa, dan pengelana dari beraneka aliran yang hidup di sekitar Savatthi dengan pandangan yang berbeda-beda, pendapat yang berbeda-beda, kepercayaan yang berbeda-beda, bergantung untuk dukungan atas pandangan mereka yang berbeda-beda dan mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih, melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"

 

"Para Bhikkhu, para pengelana dari aliran-aliran lain adalah buta dan tak bermata. Mereka tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya. Mereka tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma. Tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya, tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma, mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih, melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"

 

"Dahulu, di Savatthi ini juga, terdapat seorang raja tertentu yang berkata pada seorang lelaki, 'Kumpulkan bersama-sama semua orang di Savatthi yang telah buta sejak lahir.'"

 

"'Baiklah, paduka,' lelaki tersebut menyahut dan, setelah mengumpulkan semua orang di Savatthi yang telah buta sejak lahir, ia pergi kepada sang raja dan ketika tiba berkata, 'Paduka, semua orang di Savatthi yang telah buta sejak lahir telah dikumpulkan bersama-sama.'"

 

"'Bagus sekali, kalau begitu, perlihatkan orang-orang buta itu seekor gajah.'"

 

"'Baiklah, paduka,' lelaki tersebut menyahut dan ia memperlihatkan orang-orang buta itu seekor gajah. Pada beberapa orang buta ia memperlihatkan kepala gajah, berkata, 'Inilah, orang buta, seperti apa seekor gajah itu.' Pada beberapa dari mereka ia memperlihatkan telinga gajah, berkata, 'Inilah, orang buta, seperti apa seekor gajah itu.' Pada beberapa dari mereka ia memperlihatkan gadingnya, belalainya, badannya, kakinya, bagian belakangnya, ekornya, rambut di ujung ekornya, berkata, 'Inilah, orang buta, seperti apa seekor gajah itu.'"

 

"Kemudian, setelah memperlihatkan orang-orang buta itu gajah tersebut, lelaki itu pergi kepada sang raja dan ketika tiba berkata, 'Paduka, orang-orang buta itu telah melihat gajah tersebut. Sudilah paduka lakukan apa yang paduka pikir sekarang waktunya untuk dilakukan.'"

 

"Kemudian sang raja pergi kepada orang-orang buta itu dan ketika tiba menanyakan mereka, 'Orang-orang buta, sudahkah kalian melihat gajah tersebut?'"

 

"'Ya, paduka. Kami telah melihat gajah tersebut.'"

 

"Sekarang beritahu aku, orang-orang buta, seperti apa gajah itu.'"

 

"Orang-orang buta yang telah dipertunjukkan kepala gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah tempayan air.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan telinga gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah keranjang penampi.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan gading gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah pentung besi.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan belalai gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah tiang bajak.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan badan gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah lumbung.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan kaki gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah tonggak.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan bagian belakang gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah lumpang.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan ekor gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah alu.'"

 

"Mereka yang telah dipertunjukkan rambut di ujung ekor gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah sapu.'"

 

"Berkata, 'Gajah adalah seperti ini, gajah bukan seperti itu. Gajah bukan seperti itu, gajah adalah seperti ini,' mereka memukul satu sama lain dengan tinju mereka. Dan hal itu memuaskan sang raja."

 

"Dalam cara yang sama, para Bhikkhu, para pengelana dari aliran-aliran lain adalah buta dan tak bermata. Mereka tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya. Mereka tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma. Tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya, tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma, mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih; melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Beberapa dari mereka yang disebutc para pendeta dan pertapa ini melekat.
Mereka bertengkar dan berkelahi,
orang-orang yang melihat satu sisi.

 

 

Hits: 105