Category: Sutta Published: Monday, 11 December 2017

Tittha Sutta (2) (Ud VI.5)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam dekat Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Adapun pada ketika itu terdapat banyak pendeta, pertapa, dan pengelana dari beraneka aliran yang hidup di sekitar Savatthi dengan pandangan yang berbeda-beda, pendapat yang berbeda-beda, kepercayaan yang berbeda-beda, bergantung untuk dukungan atas pandangan mereka yang berbeda-beda. Beberapa dari para pendeta dan pertapa memegang pandangan ini, doktrin ini: "Diri dan alam semesta adalah kekal. Hanya ini yang benar; apapun lainnya keliru."

 

Beberapa dari para pendeta dan pertapa memegang pandangan ini, doktrin ini: "Diri dan alam semesta adalah tak-kekal". "Diri dan alam semesta adalah kekal dan tak-kekal". "Diri dan alam semesta adalah tidak kekal tidak pula tak-kekal."

 

"Diri dan alam semesta adalah diciptakan sendiri". "Diri dan alam semesta adalah diciptakan yang lain". "Diri dan alam semesta adalah diciptakan sendiri dan diciptakan yang lain". "Diri dan alam semesta adalah tidak diciptakan sendiri tidak pula diciptakan yang lain, namun muncul secara spontan."

 

"Kebahagiaan dan penderitaan, diri dan alam semesta adalah diciptakan sendiri". "diciptakan yang lain". "diciptakan sendiri dan diciptakan yang lain". "Kebahagiaan dan penderitaan, diri dan alam semesta adalah tidak diciptakan sendiri tidak pula diciptakan yang lain, namun muncul secara spontan. Hanya ini yang benar; apapun lainnya keliru."

 

Dan mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih, melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, "Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini."

 

Kemudian di pagi hari, sejumlah besar Bhikkhu, setelah mengenakan jubah mereka dan membawa mangkuk serta jubah-luar mereka, pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan makanan sedekah. Setelah pergi mengumpulkan makanan sedekah di Savatthi, sehabis bersantap, kembali dari pengumpulan makanan sedekah mereka, mereka pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara mereka tengah duduk di sana, mereka berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, terdapat banyak pendeta, pertapa, dan pengelana dari beraneka aliran yang hidup di sekitar Savatthi dengan pandangan yang berbeda-beda, pendapat yang berbeda-beda, kepercayaan yang berbeda-beda, bergantung untuk dukungan atas pandangan mereka yang berbeda-beda dan mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih; melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"

 

"Para Bhikkhu, para pengelana dari aliran-aliran lain adalah buta dan tak bermata. Mereka tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya. Mereka tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma. Tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya, tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma, mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih; melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Beberapa dari mereka yang disebut
para pendeta dan pertapa ini melekat.
Mereka tenggelam di tengah-tengah arus,
terjatuh ke dalam jurang kegelapan.

 

 

Hits: 119