Category: Sutta Published: Tuesday, 12 December 2017

Udapana Sutta (Ud VII.9)

 

 

Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah mengembara di antara orang-orang Malla, bersama dengan sejumlah besar pasamuan para bhikkhu, dan sampai ke sebuah desa brahmana orang-orang Malla bernama Thuna. Para perumah-tangga brahmana dari Thuna mendengar bahwa "Gotama sang pertapa putra Sakya, berkelana dari kaum Sakya, tengah mengembara di antara suku Malla bersama dengan sejumlah besar pasamuan para bhikkhu, dan telah tiba di Thuna." Maka mereka mengisi sumur sampai ke bibirnya dengan rumput dan sekam, [berpikir] "Jangan biarkan para pertapa berkepala gundul ini mengambil air minum."

 

Kemudian Sang Bhagava menepi dari jalan, menghampiri sebuah pohon dan, ketika tiba, duduk di atas tempat duduk yang dipersiapkan. Sementara beliau tengah duduk, beliau berkata kepada Yang Mulia Ananda: "Mari, Ananda, ambilkan aku sejumlah air minum dari sumur tersebut."

 

Ketika ini dikatakan, Yang Mulia Ananda menjawab, "Baru saja, bhante, para perumah-tangga brahmana dari Thuna mengisi sumur tersebut sampai ke bibirnya dengan rumput dan sekam, [berpikir,] 'Jangan biarkan para pertapa berkepala gundul ini mengambil air minum.'"

 

Kedua kalinya, Sang Bhagava berkata kepada Yang Mulia Ananda: "Mari, Ananda, ambilkan aku sejumlah air minum dari sumur tersebut."

 

Kedua kalinya, Yang Mulia Ananda menjawab, "Baru saja, bhante, para perumah tangga brahmana dari Thuna mengisi sumur tersebut sampai ke bibirnya dengan rumput dan sekam, [berpikir] 'Jangan biarkan para pertapa berkepala-gundul ini mengambil air minum.'"

 

Ketiga kalinya, Sang Bhagava berkata kepada Yang Mulia Ananda: "Mari, Ananda, ambilkan aku sejumlah air minum dari sumur tersebut."

 

"Baiklah, Bhante," Yang Mulia Ananda menjawab dan, membawa sebuah mangkuk, pergi ke sumur tersebut. Sementara ia tengah menghampirinya, sumur tersebut menumpahkan semua rumput dan sekam dari mulutnya dan terisi penuh sampai ke bibirnya, meluap, kira-kira begitu dengan air yang jernih, bersih, berkilauan. Kemudian Yang Mulia Ananda membatin, "Betapa menakjubkan, betapa mengagumkan kesaktian dan kemampuan Sang Tathagata! Sewaktu aku tengah menghampirinya, sumur tersebut menumpahkan semua rumput dan sekam dari mulutnya dan terisi penuh sampai ke bibirnya, meluap, kira-kira begitu dengan air yang jernih, bersih, berkilauan."

 

Membawa air minum dalam mangkuknya, ia menghampiri Sang Bhagava dan ketika tiba berkata, "Betapa menakjubkan, betapa mengagumkan kesaktian dan kemampuan Sang Tathagata! Sewaktu aku tengah menghampirinya, sumur tersebut menumpahkan semua rumput dan sekam dari mulutnya dan terisi penuh sampai ke bibirnya, meluap, kira-kira begitu dengan air yang jernih, bersih, berkilauan. Minumlah air ini, O Sang Bhagava! Minumlah air ini, O Sang Sugata!"

 

Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :

Apa perlunya sebuah sumur
bila air ada di mana-mana?
Setelah memotong pengidaman
pada akarnya,
Orang akan berusaha mencari apa?

 

 

Hits: 56