Category: Sutta Published: Tuesday, 12 December 2017

Visakha Sutta (Ud VIII.8)

 

 

Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berada di dekat Savatthi, di taman timur, di rumah induk ibu Migara. Pada saa t itu cucu laki-laki tercinta dari Visakha, ibu Migara, meninggal dunia. Kemudian Visakha, ibu Migara, dengan pakaian dan rambut basah mendekati Sang Bhagava di tengah hari. Sesudah bersujud, ia duduk di satu sisi dan Sang Bhagava berkata kepadanya: “Darimana engkau Visakha, tiba disini dengan pakaian dan rambut basah?”

 

“Bhante, cucuku yang tercinta meninggal dunia, itulah sebabnya saya tiba disini di tengah hari dengan pakaian dan rambut basah.”

 

“Visakha, maukah engkau mempunyai anak laki dan cucu laki sebanyak orang-orang di Savatthi?”

 

“Saya mau Sang Bhagava, mempunyai anak laki dan cucu laki sebanyak orang-orang di Savatthi."

 

“Tetapai berapa orang Visakha yang meninggal dunia setiap hari di Savatthi?”

 

“Mungkin sepuluh orang, Bhante, meninggal dunia setiap hari di Savatthi. Atau mungkin sembilan orang meninggal dunia.... atau delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua orang meninggal dunia.... atau mungkin satu orang meninggal dunia setiap hari di Savatthi. Bhante, Savatthi tidak pernah tanpa orang yang meninggal dunia.”

 

"Bagaimana menurut kamu, Visakha, apakah kamu akan pernah tanpa pakaian basah dan rambut basah?”

 

“Tidak, Bhante,” saya tidak mau lagi mempunyai begitu banyak anak laku dan cucu laki!”

 

"Visakha, mereka yang mempunyai seratus orang tercinta mempunyai seratus penderitaan. Mereka yang mempunyai sembilan puluh orang tercinta mempunyai sembilan puluh penderitaan. Mereka yang memiliki delapan puluh, tujuh puluh, enam puluh, lima puluh, empat puluh, tiga puluh, dua puluh, sepuluh, lima, empat, tiga, dua orang yang dicintai mempunyai dua penderitaan. Mereka yang mempunyai satu orang yang dicintai mempunyai satu penderitaan. Mereka yang tidak mempunyai orang yangdicintai tidak mempunyai penderitaan. Mereka tidak menderita, tidak kecewa, tidak putus asa. Kata-Ku”.

 

Kesedihan atau penderitaan apapun yang ada,
Berbagai macam penderitaan di dunia ini,
Karena adanya sesuatu kecintaan terhadap hal-al yang ada itu;
Tanpa sesuatu yang dicintai, penderitaan dan kesedihan itu tidak akan ada,
Jadi mereka bahagia dan bebas dari kesedihan,
Yang tidak mempunyai yagn dicintai dimanapun didunia ini,
Karena bercita-cita untuk tidak bersedih dan tidak kecewa,
Jangan melekat pada apapun dimanapun di dunia ini.

 

 

Hits: 27