Category: Sutta Published: Wednesday, 13 December 2017

Uraga Sutta (Sn I.1)

 

 

Sang Bhikkhu yang menundukkan amarahnya yang timbul
seperti, dengan reramuan, bisa-ular ketika itu telah menyebar,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang telah memotong nafsu
tanpa meninggalkan jejak,
seakan-akan ia berterjun ke dalam telaga, setangkai teratai,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang telah memotong pengidaman
tanpa meninggalkan jejak,
seolah ia telah mengeringkan arus yang mengalir-deras,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang telah menghancurkan kecongkakan
tanpa meninggalkan jejak,
seperti banjir besar, jembatan ringkih terbuat dari buluh,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu melihat di dalam keberadaan
tiada intisari,
seakan-akan, sewaktu meninjau pohon ara tiada bunga,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu dengan tiada amarah di dalam,
yang telah demikian pergi melampaui
kemenjadian & non-,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang penalaran diskursifnya buyar,
terurus-baik di sebelah dalam
tanpa meninggalkan jejak,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang tidak menerobos lewat atau berputar balik,
mengatasi semua perbedaan ini,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang tidak menerobos lewat atau berputar balik,
mengetahui berkenaan dengan dunia
bahwa "Semua ini tak nyata,"
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang tidak menerobos lewat atau berputar balik,
tanpa keserakahan, seraya "Semua ini tak nyata,"
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang tidak menerobos lewat atau berputar balik,
tanpa kebencian, seraya "Semua ini tak nyata,"
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang tidak menerobos lewat atau berputar balik,
tanpa delusi, seraya "Semua ini tak nyata,"
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang pada dirinya tak terdapat tendensi laten
-- akar-akar dari ketakcakapan hancur secara menyeluruh,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang pada dirinya tiada sesuatupun lahir dari derita
yang akan mengarahkannya kembali ke pantai ini,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang pada dirinya tiada sesuatupun lahir dari hasrat
yang akan mengikatnya terus pada kemenjadian,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

Sang Bhikkhu yang telah meninggalkan lima penghalang,
yang, tak-terganggu, tak-terlukai,
telah menyeberangi keragu-raguan,
menanggalkan pantai dekat & jauh,
seperti seekor ular, kulitnya yang tua jompo.

 

[Dikutip dari Segenggam Daun Bodhi.]

 

 

Hits: 24