Category: Sutta Published: Wednesday, 13 December 2017

Salla Sutta (1) (Sn III.8)

 

 

Kehidupan didunia ini tidak dapat diramalkan dan tidak menentu. Kehidupan disini ini sulit, pendek, dan dipenuhi penderitaan.

 

Suatu maklhuk, sekali dilahirkan, akan mengalami kematian, dan tidak ada jalan keluar darinya. Ketika usia tua dan penyebab lain tiba, maka kematian pun datang. Demikianlah adanya makhluk hidup.

 

Ketika buah-buahan masak, mereka mungkin akan jatuh di pagi hari. Seperti itu pula halnya suatu makhluk, sekali dilahirkan, bisa mati kapan pun juga.

 

Seperti halnya pot-pot tanah liat yang digarap pembuat tembikar cenderung berakhir hancur lebur, begitu juga kehidupan makhluk hidup.

 

Baik yang muda maupun yang tua, tak peduli apakah mereka tolol atau bijaksana, akan terjebak dalam kematian. Semua makhluk bergerak menuju kematian.

 

Mereka dikuasai oleh kematian. Mereka akan pergi ke dunia lain. Tak ada seorang ayah pun yang dapat menyelamatkan sanak saudaranya.

 

Lihatlah : Sementara sanak keluarga memandang, menangis dan meraung-raung, manusia diusung satu demi satu, bagaikan ternak yang dibawa menuju ke tempat pembantaian.

 

Jadi, kematian dan usia tua adalah penyakit dunia. Oleh karenanya, orang bijaksana tidak bersedih hati melihat sifat dunia ini.

 

Engkau tidak mengetahui jalan dari mana dia berasal, atau kemana dia pergi. Maka tidak ada gunanya menangisi dia.

 

Manusia yang bersedih tidak memperoleh apa pun. Dia tidak lebih hanyalah seorang tolol yang berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri. Jika orang bijaksana melakukan hal ini, berarti dia sama tololnya.

 

Kedamaian pikiran tidak dapat diperoleh dari menangis dan meratap. Justru sebaliknya, tindakan itu akan membawa menuju penderitaan yang lebih besar dan rasa sakit yang lebih mendalam.

 

Orang yang berkabung akan menjadi pucat dan kurus. Dia melakukan tindakan kekerasan terhadap dirinya sendiri, dan tetap saja tidak dapat membuat yang mati hidup lagi, tidak ada gunanya dia berkabung.

 

Orang yang tidak dapat meninggalkan kesedihannya hanyalah berkelana lebih jauh ke dalam penderitaan. Perasaan berkabung tu membuatnya menjadi budak kesedihan.

 

Lihatlah makhluk yang menghadapi kematian, yang mengalami hasil dari tindakan-tindakan mereka sebelumnya. Orang-orang amat ketakutan ketika melihat bahwa mereka terperangkap oleh kematian.

 

Apa yang diharapkan agar terjadi selalu berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi. Dari sini muncul kekecewaan yang besar. Begitulah dunia bekerja. Orang bisa hidup selama ratusan tahun, atau bahkan lebih, tetapi akhirnya toh dia terpisah dari sanak-keluarganya, dan dia pun meninggalkan kehidupan di dunia ini.

 

Jadi kita dapat mendengar dan belajar dari orang yang agung ketika dia meninggalkan kesedihannya. Ketika dia melihat bahwa seseorang telah mati dan meninggalkan kehidupan mereka, dia berkata ‘dia tidak akan terlihat olehku lagi.’

 

Ketika sebuah rumah terbakar, apinya dipadamkan dengan air. Seperti itu pula orang bijaksana, yang terampil, berpengetahuan, dan mandiri, segera memadamkan ksedihan begitu kesedihan itu muncul dalam dirinya, bagaikan angin yang menghalau segumpal kapas.

 

Orang yang berusaha mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri harus menarik keluar anak panah yang telah ditancapkannya pada dirinya sendiri. Kepala anak panah ini adalah kesedihan, nafsu keinginan dan keputus-asaan.

 

Orang yang telah mencabut keluar anak panah itu, yang tidak lagi memiliki kemelekatan, yang telah memperoleh kedamaian pikiran, berjalan melampaui semua kesedihan. Orang ini, karena telah terbebas dari kesedihan, menjadi tenang.

 

 

Hits: 79