Category: Sutta Published: Wednesday, 13 December 2017

Pasura Sutta (Sn IV.8)

 

 

Banyak orang mengatakan bahwa kemurnian hanyalah milik mereka saja. Mereka tidak mengatakan bahwa ada pula kemurnian di dalam ajaran-ajaran lain. Mereka menyatakan bahwa ajaran yang mereka tekuni adalah yang paling hebat, sehingga secara terpisah mereka mengukuhi beraneka ragam kebenaran.

 

Mereka yang ikut berbantahan, setelah iktu bergabung mulai berselisih dan saling menyebut ‘manusia tolol’, Karena tergantung pada guru tertentu, mereka mencari pujian, dan menyebut diri mereka ‘pakar’.

 

Karena terlibat perselisihan di antara banyak orang, pendebat itu menjadi frustasi pada waktu mencari pujian bagi dirinya. Bila kalah dia menjadi terpukul, lalu mencari cari kesalahan manusia lain, dan bila dikritik dia marah.

 

Ketika mereka yang telah menguji pertanyaan-pertanyaannya mengatakan bahwa pembicaraan salah, dia bersedih, meratap dan menangis dalam perselisihan-perselisihan yang tak berharga, seraya mengatakan : “Mereka telah mengalahkan saya!”

 

Perselisihan-perselisihan ini muncul di antara para pertapa dan akibatnya muncullah rasa gembira yang meluap-luap serta rasa tertekan. Melihat hal itu, hindarilah perselisihan. Tidak ada nilai yang terkandung kecuali pujian yang dimenangkan dengan cara itu.

 

Dia yang dipuji diantara banyak orang karena telah berhasil mempertahankan pandangnya – akan dipenuhi perasaan senang dan pikirannya terbuai kegembiraan yang meluap-luap karena telah menjadi pemenang.

 

Kegembiraan yang meluap-luap itu sendiri adalah landasan untuk keruntuhannya; karena dia tetap akan berbicara dengan kesombongan dan kecongkakan. Melihat hal ini, seharusnya manusia tidak berselisih; karena para bijaksana tidak pernah mengatakan bahwa kemurniaan dapat dicapai dengan perselisihan.

 

Bagaikan si pemberani yang kokoh kuat karena makanan yang baik, dia meraung maju mencari lawan. Di mana pun ada lawan semacam itu, engkau boleh pergi ke sana. Namun ingatlah, disini tidak lagi tersisa apa pun yang dapat menimbulkan perkelahian.

 

Dengan mereka yang telah memenangi suatu teori dan kemudian bersikeras mengenai hal itu dengan menyatakan bahwa hanya teori itu saya yang benar, engkau boleh berbicara pada mereka. Tetapi ingatlah, ‘tidak ada lawan untuk bertempur denganmu’.

 

Apakah yang akan kau perbuat dari mereka yang memang setelah mengatasi lawan tanpa membalas suatu teori dengan teori lain, o , pemberani? Bagi mereka, tiada sesuatupun dipegang sebagai yang tertinggi.

 

Dengan berspekulasi di pikiran mengenai berbagai pandangan filsafat yang berbeda, engkau telah tidak dapat maju sembari mengikatkan diri pada manusia yang telah murni.

 

 

Hits: 93