Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Kunjaravimana - Istana Gajah (Vv I.5)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha di tempat pemberian makan tupai di Hutan Bambu. Suatu hari diadakan suatu festival di Rajagaha. Semua orang mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya dan ikut merayakan pesta itu.

 

Untuk melestarikan kemauan baik rakyatnya, raja Bimbisara yang agung keluar dari istana dan berkeliling kota dalam upacara dengan kebesaran dan kemegahan yang luar biasa. Pada saat itu, seorang perempuan dari keluarga baik-baik, penduduk Rajagaha, melihat kebesaran raja. Karena merasa amat kagum, dia bertanya kepada mereka yang dikenal terpelajar. "Lewat perbuatan macam apakah maka diperoleh tontonan kekayaan yang agung dan megah ini?" Mereka berkata kepadanya, “Tindakan jasa adalah bagaikan permata yang mengabulkan keinginan, bagaikan pohon pengabul-keinginan." Ketika mendengar hal itu, dia berkata di dalam hati, “Saya melihat bahwa kualitas keluhuran memang lebih besar daripada itu (ketimbang pemberian berbagai dana)." Oleh karena itu, dia menjadi sangat bersungguh-sungguh dalam melakukan tindakan-tindakan jasa.

 

Ibu dan ayahnya mengirimkan kepadanya seperangkat pakaian baru, satu tempat duduk baru, seikat teratai, serta ghee, madu, gula, nasi dan susu untuk dinikmati. Ketika melihat barang-barang itu, dia berkata, "Saya ingin berdana, dan sekarang apa yang merupakan dana yang pantas diberikan telah menjadi milikku." Maka keesokan harinya, dengan hati yang bahagia dia menyiapkan dana makanan, rumahnya, serta dirinya sendiri.

 

Pada saat itu, Y.M. Sariputta sedang berjalan untuk mengumpulkan dana makanan di Rajagaha. Beliau berjalan dengan sikap orang yang meletakkan dompet berisi seribu keping. Pelayan perempuan itu melihat sang Thera dan berkata, "Tuan yang mulia, berikanlah kepadaku mangkuk tuan." Kemudian dia menambahkan, "Sebagai kebajikan terhadap seorang umat awam perempuan, silahkan ikuti saya.” Thera itu memberikan mangkuknya. Pelayan itu menunjukkan jalan ke rumah. Di sana perempuan itu menyambut dan melayani Thera tersebut. Sementara melayani, perempuan itu mencetuskan suatu aspirasi, "Melalui kekuatan tindakan jasaku ini, semoga ada keagungan surgawi, yang bersinar dengan gajah-gajah surgawi, rumah-rumah berpinakel dan dipan-dipan, dan semoga setiap saat senantiasa ada bunga teratai." Setelah sang Thera selesai makan, perempuan itu pun mencuci mangkuknya dan kemudian mengisinya dengan ghee, madu, gula dan sebagainya. Kain yang telah dibentangkan di tempat duduk itu dilipatnya dan diletakkan di tangan sang Thera. Ketika sang Thera pergi, dia memerintahkan dua orang laki-laki, "Bawalah kursi ini dan mangkuk ini ke vihara. Berikanlah kepada sang Thera, dan kembalilah ke sini." Mereka melakukannya. Setelah meninggal, perempuan itu terlahir lagi di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa di Istana Emas yang tingginya seratus yojana dengan seribu peri sebagai pengikutnya. Dan karena aspirasinya itu, munculah baginya seekor gajah agung yang tingginya lima yojana, dengan berhias bunga-bunga teratai dan dilengkapi hiasan-hiasan keemasan.

 

Pada hari festival, ketika para dewa pergi –masing-masing dengan kemampuan kekuatan surgawi yang dimilikinya– ke Hutan Nandana untuk bersenang-senang di tempat hiburan itu … dari sini dan seterusnya cerita ini sama seperti dalam kitab komentar mengenai Istana Tempat Duduk Pertama. Jadi cerita ini harus dipahami seperti cerita itu. Hanya saja, di sini Thera (Moggallana) menyampaikan syair-syair berikut :

  1. "Gajahmu, tunggangan yang megah, diselimuti berbagai batu permata, menyenangkan, kuat, amat cepat, terbang mulus di udara.

  2. Ia adalah gajah-teratai, gajah yang memiliki mata bagaikan kelopak-teratai, berkilau dengan teratai biru dan merah, kaki-kakinya tertutup serbuk teratai, berkalung dengan rangkaian teratai keemasan.

  3. Di jalan yang bertebar teratai, dihias dengan kelopak-teratai yang kokoh, menarik, tidak menyakitkan, berjalanlah gajah agung itu dengan langkah yang teratur.

  4. Ketika gajah itu melangkah maju, terdengarlah lonceng-lonceng keemasan, yang manis nadanya, suaranya bagaikan musik instrumen berunsur-lima.

  5. Ketika engkau duduk di atas punggung gajah besar itu, dengan pakaian berwarna putih, berhias, kecantikanmu melampaui kelompok besar peri (dewa).

  6. "Apakah ini merupakan buah dari danamu, atau sekali lagi, dari kebiasaan moralmu, atau dari menangkupkan kedua tanganmu” Ketika ditanya, jelaskanlah kepadaku."

  7. Devata itu, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu.

  8. "Ketika melihat seorang meditator yang memiliki sifat-sifat khusus, yang bergembira di dalam meditasi, dan waspada, saya memberikan kepadanya sebuah kursi yang tertutup bunga-bunga (dan) diselimuti babut-ikan.

  9. Karena memiliki keyakinan, dengan tanganku sendiri saya menebarkan bunga-bunga teratai-paruhan bersama dengan kelopak-kelopak (yang lepas) di sekitar kursi itu.

  10. Demikianlah buah dari perbuatan bajik itu bagiku. Saya telah menerima pelayanan dan penghormatan (dari para dewa), dan (oleh para dewa) saya dihormati.

  11. Sesungguhnya, dia -yang karena memiliki keyakinan memberikan kursi kepada mereka yang telah terbebas, yang tenang, pelaku-Brahma- akan bersuka-cita, bahkan seperti saya ini.

  12. Oleh karenanya, oleh orang yang menginginkan kesejahteraannya sendiri, yang merindukan keagungan, tempat duduk harus diberikan kepada mereka yang menanggung tubuh terakhir mereka."

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 56