Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Dutiyanavavimana - Istana Perahu Kedua (Vv I.7)

 

 

Ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi, ada seorang Thera yang kekotoran batinnya telah hancur. Di awal musim penghujan, dia ingin memulai musim itu di suatu desa. Maka setelah makan (tengah hari), beliau berangkat melalui jalan raya dari Savatthi ke desa itu. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, dalam keadaan kelelahan dan kehausan, beliau sampai di sebuah desa. Karena tidak melihat tempat berteduh dan air di lingkungan itu, dan karena dikuasai kelelahan, beliau memakai jubah luarnya, memasuki desa, dan berdiri di pintu sebuah rumah induk. Di sana seorang perempuan melihatnya dan bertanya, “ Dari manakah engkau datang, Tuan?” Melihat sang Thera kelelahan dan kehausan, dia mempersilakan beliau masuk ke dalam rumah dan mempersilakannya duduk. Dia mempersembahkan air dan minyak untuk mencuci dan meminyaki kaki, dan mengipasi beliau. Setelah beliau tidak lagi kepanasan, perempuan itu menyiapkan minuman dingin yang manis dan harum. Sang Thera meminumnya. Setelah tidak lagi merasa haus, Sang Thera mngucapkan terima kasih dan pergi melanjutkan perjalanan. Di kemudian hari, perempuan itu meninggal dan terlahir kembali di alam Tiga-Puluh-Tiga dewa. Segalanya harus dipahami seperti cerita Istana sebelumnya. Bahkan syair-syairnya tidak ada yang baru.

  1. O, putri, engkau berdiri di atas perahu dengan atap keemasan; engkau mencebur ke dalam kolam-teratai, engkau memetik teratai dengan tanganmu.

  2. Tempat kediamanmu merupakan rumah-rumah berpinakel, berpartisi dan direncanakan dengan proporsi yang baik. Rumah-rumah itu memukau dan bersinar ke empat penjuru.

  3. Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?

  4. "Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?"

  5. Devatā tersebut, karena gembira ditanya oleh Moggallāna, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu.

  6. "Ketika di dalam kehidupan lampau saya terlahir sebagai manusia di antara manusia di dunia manusia, saya melihat para Bhikkhu yang kehausan dan kelelahan. Dengan bersemangat, saya memberi mereka air untuk diminum"

  7. Sesungguhnya, orang yang bersemangat memberikan air untuk diminum oleh dia yang kehausan dan kelelahan, baginya akan ada sungai dengan air yang sejuk, yang dihiasi berbagai bunga, dan banyak teratai putih.

  8. Di sisinya air mengalir, sungai-sungai dengan air yang sejuk dan tepian berpasir, mengalir sepanjang masa. Ada pohon-pohon mangga dan pohon-pohon sāla, tilaka dan apel, mawar, kasia dan bunga terompet yang sedang bermekaran.

  9. Untuknyalah, dengan keelokan yang diperindah lingkungan seperti itu, terdapat Istana yang paling bagus, yang bersinar terang. Inilah buah dari tindakan itu sendiri. Mereka yang melakukan tindakan jasa menerima seperti ini.

  10. Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, Karena inilah saya sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku.

  11. Saya beritahukan kepadamu, Bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku menyinari segala penjuru.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 26