Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Uttaravimana - Istana Uttara (Vv I.15)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha di tempat pemberian makan tupai di Hutan Bambu. Pada saat itu, ada seorang laki-laki miskin bernama Punna yang bekerja pada seorang banker Rajagaha. Dia tinggal di rumahnya hanya bersama istrinya, Uttara, dan putrinya yang juga bernama Uttara. Suatu hari di Rajagaha ada festival tujuh hari. Bankir itu mendengar hal tersebut dan ketika Punna datang di pagi hari, dia berkata, "Sahabat, pembantu-pembantu kita ingin merayakan festival. Apakah engkau juga akan merayakan festival, atau engkau akan bekerja agar menerima gaji?" "Tuan", kata Punna, "peristiwa seperti festival adalah untuk orang kaya, sedangkan di rumahku bahkan tak ada beras untuk membuat bubur buat besok. Untuk apa festival bagiku? Jika ada sapi, saya akan pergi membajak." "Kalau demikian, ambillah beberapa sapi," kata tuannya itu. Punna pun mengambil sapi jantan yang kuat dan bajak yang bagus. Lalu dia berkata pada istrinya. "Istriku, orang-orang kota sedang merayakan festival. Aku akan pergi mencari uang karena kita miskin. Tetapi untukku, hari ini saja, masaklah makanan dua porsi, dan kirimkan padaku." Kemudian dia pergi ke ladang.

 

Pada saat itu, Sariputta Thera yang telah memasuki penghentian selama tujuh hari, muncul dari sana, dan mengamati (dunia) seraya berpikir, "Kepada siapa hari ini saya mempunyai kesempatan melakukan kebaikan?" Beliau melihat Punna datang di dalam jaring persepsinya, dan mengamati (lebih jauh) beliau berpikir, "Apakah laki-laki ini seorang yang percaya? Apakah dia akan dapat melakukan kebaikan kepadaku?" Karena menyadari bahwa Punna adalah seorang yang percaya dan dapat melakukan kebaikan yang dapat menyebabkan dia bisa memperoleh pencapaian besar, maka beliau mengambil mangkuk dari jubahnya. Kemudian beliau pergi ke ladang di mana Punna sedang membajak dan berdiri di sana memandangi semak di pinggir ladang.

 

Segera setelah Punna melihat Thera tersebut, dia berhenti membajak. Dia menyapa Thera tersebut dengan penghormatan berunsur-lima, dan berkata di dalam hati, "Beliau membutuhkan tusuk gigi." Lalu Punna memberikan tusuk gigi untuk digunakan. Kemudian Thera tersebut mengeluarkan mangkuk dan saringan air dari tas mangkuknya dan memberikan (mangkuk dan saringan itu) kepadanya. Punna berkata di dalam hati, "Beiau membutuhkan air minum." Lalu Punna mengambilnya, menyaringkan air minum dan memberikan kembali kepada Sang Thera. Sang Thera berpikir, "Laki-laki ini hidup di rumah paling ujung. Jika saya pergi ke pintu rumah itu, istrinya tidak dapat melihatku. Saya akan tetap berada di sini sampai istrinya berangkat ke jalan raya dengan makanannya." Beliau menunggu di sana beberapa saat, dan ketika mengetahui bahwa istri Punna sudah berangkat, beliau berjalan ke arah kota. Ketika perempuan itu melihat Thera tersebut di jalan, dia berpikir, "Kadang-kadang bila saya punya sesuatu yang pantas diberikan, saya tidak melihat seorang pun yang pantas menerimanya, kadang-kadang bila saya melihat orang yang pantas menerimanya, tidak ada sesuatu pun yang pantas diberikan. Tetapi hari ini saya melihat orang yang pantas menerimanya dan sekaligus saya memiliki dana yang pantas diberikan. Pasti dia akan melakukan kebaikan kepadaku."

 

Istri Punna meletakan pinggan yang berisi makanan, menyapa Thera tersebut dengan penghormatan berunsur-lima, dan berkata, "Bhante, tanpa memikirkan apakah ini pemberian yang kasar atau halus, berbaik hatilah kepada pelayanmu ini." Thera tersebut memberikan mangkuknya. Perempuan itu memegang mangkuk dengan satu tangan dan mengisikan nasi dengan tangan yang lain. Sang Thera berkata, "Cukup", ketika persis separuh dari makanan itu diberikan. Kemudian beliau menutup mangkuknya dengan tangannya. Perempuan itu berkata, "Bhante, satu porsi tidak dapat dibagi menjadi dua. Jika Bhante tidak mau melakukan kebaikan kepada pelayanmu ini sehubungan dengan dunia ini, lakukanlah demi kehidupan yang akan datang. Saya ingin memberikan semuanya, tanpa tersisa sama sekali." Sambil berkata demikian, dan sesudah memasukan semuanya ke dalam mangkuk beliau, istri Punna membuat aspirasi, "Semoga saya menjadi pengikut di dalam Dhamma yang telah Bhante wujudkan." Thera tersebut berkata, "Demikianlah adanya," dan mengucapkan terima kasih ketika masih berdiri. Setelah duduk di tempat yang nyaman yang ada airnya, Sang Thera pun makan. Perempuan itu pulang, mencari beras, dan masak makanan.

 

Sementara itu Punna telah membajak setengah karisa tanah, dan tidak dapat menahan rasa laparnya. Maka setelah melepas sapi dari bajaknya, dia berteduh di bawah pohon dan duduk memandangi jalan. Istrinya, yang berjalan membawa makanan, melihat suaminya memandang ke arahnya. Dia berpikir, "Suamiku sedang duduk menunggu, tertekan karena kelaparan. Jika dia mencemoohku, 'Dia sangat terlambat,' dan memukulku dengan tongkat penghalau ternak, tindakan yang telah kulakukan tidak akan memberikan hasil. Untuk mencegah hal itu, aku akan lebih dulu berbicara kepada." Dengan hal ini di pikirannya, dia berkata, 'Tuan, hari ini saja, hanya hari ini saja, saya mohon engkau berbesar hati agar tindakan yang telah kulakukan jangan sampai tidak memberikan hasil. Ketika saya membawakan makanan sebelum ini, di jalan saya melihat Panglima Dhamma. Kepada beliau saya memberikan makananmu. Kemudian saya pulang, masak lagi, dan baru sekarang saya datang. Berbesar hatilah, tuan." Punna bertanya, "Apa katamu, istriku?" Setelah sekali lagi mendengarkan, Punna berkata,"Istriku, engkau sesungguhnya telah melakukan hal yang benar dengan memberikan makananku kepada yang pantas menerimanya. Pada hari ini, pagi-pagi tadi, saya juga telah memberi beliau tusuk gigi dan air untuk mencuci mulut." Dengan pikiran yang dipenuhi keyakinan, Punna merasa puas mendengar cerita istrinya. Karena kelelahan dan terlambat makan di siang hari itu, dia jatuh tertidur dengan kepala di pangkuan sang istri.

 

Semua tempat yang telah dibajak sejak pagi hari itu, termasuk tanah yang di hancurkan, berubah menjadi emas yang berkilau dan gemerlap bagaikan setumpuk bunga kanikara. Ketika Punna bangun, dia berkata kepada istrinya," Istriku, semua tanah yang sudah kubajak ini bagiku tampak seolah-olah berubah menjadi emas. Katakanlah kepadaku, apakah mataku tidak salah lihat karena aku tadi terlambat makan di siang hari?" "Tuanku," kata istrinya, "Bagi saya pun kelihatannya begitu." Punna bangkit, pergi ke sana, mengambil segumpal, menghantamkannya di kepala bajak, dan mendapati bahwa itu memang emas. Maka dia pun berteriak, "Aha, buah dari dana yang diberikan kepada Panglima Dhamma yang luhur itu telah menampakan diri pada hari ini juga. Tetapi jelas tidaklah mungkin menikmati kekayaan yang amat besar ini secara rahasia."

 

Punna mengisi pinggan yang dibawa istrinya itu dengan emas dan pergi ke istana raja. Setelah Punna diizinkan masuk dan memberi penghormatan, raja berkata, "Ada apa, rakyatku?" Punna menjawab, "Tuanku, hari ini tanah yang telah saya bajak seluruhnya dipenuhi emas dan tetap bertahan seperti itu. Emas itu harus diambil." "Siapakah engkau?" tanya raja itu. "Punna adalah nama saya, Baginda." "Sebenarnya, apa yang telah engkau lakukan hari ini?" "Pada dini hari ini, saya memberikan tusuk gigi dan air pencuci mulut kepada Panglima Dhamma. Istri saya juga memberi beliau makanan yang sebenarnya dibawa untukku." Mendengar hal ini, raja pun berkata, "Hari ini juga buahnya telah muncul untuk dana yang diberikan," dan dia bertanya, "Rakyatku, apa yang harus kita lakukan?" "Kirimkan ribuan kereta dan bawalah emas itu ke istana," kata Punna. Raja mengirimkan kereta-kereta. Para pelayan raja mengambil emas itu sambil berkata, "Ini milik raja." Namun segera saja setiap potong yang mereka pungut itu berubah menjadi tanah. Ketika mereka kembali untuk melaporkan hal ini, raja bertanya, "O, para pelayan, apa yang kau katakan ketika mengambil emas-emas itu?" Mereka menjawab, "Ini milik raja." Maka raja berkata, "Kalau begitu, kembalilah ke sana lagi. Tetapi ketika mengambil emas itu, katakanlah 'ini milik Punna." Mereka mematuhi perintah itu, dan benar! Setiap potong yang diambil tetap emas. Semua emas pun dibawa ke taman kerajaan dan ditumpuk di sana. Delapan puluh kubik tinggi tumpukan emas itu.

 

Raja menyuruh mengundang semua orang kota. "Adakah orang di kota ini yang memiliki emas sebanyak ini?" tanya raja. "Tidak ada seorang pun, tuanku." "Jadi, apa yang harus diberikan kepada orang ini?" "Payung seorang setthi, tuan." "Raja berkata, "Biarlah dia menjadi setthi dengan kekayaan yang besar." Lalu raja memberi Punna payung seorang setthi dan banyak kekayaan. Punna berkata kepada raja, "Tuanku, selama ini kami telah hidup di rumah orang lain. Berilah kami tempat tinggal." Raja berkata, "Jika demikian, lihatlah. Tampaknya tempat ini adalah hutan. Bersihkanlah dan bangunlah sebuah rumah." Dan raja menunjukan kepada Punna lokasi rumah setthi terdahulu. Hanya dalam waktu beberapa hari, raja menyuruh agar sebuah rumah di bangun di tempat itu. Pada waktu melakukan upacara memasuki rumah dan sekaligus upacara pelantikan kedudukan, Punna memberikan dana selama tujuh hari kepada Sangha dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya.

 

Bankir Rajagaha meminta putri Punna untuk dinikahkan dengan putranya. Punna berkata, "Saya tidak akan memberikan putriku," "Jangan begitu," kata bankir itu, "Engkau memperoleh keberuntungan ketika hidup bersama kami. Berikanlah putrimu untuk putraku." "Putramu adalah orang yang tidak percaya," kata Punna, "sedangkan putriku tidak bisa hidup tanpa Tiga Permata. Karena inilah maka saya tidak akan memberikan putriku kepada putramu." Namun demikian banyak pejabat yang membujuknya. "Jangan memutus persahabatanmu dengan orang ini. Berikanlah putrimu." Punna memenuhi permohonan mereka dan memberikan putrinya pada waktu bulan purnama di bulan Asalhi. Dan putri Punna pun pergi ke rumah suaminya.

 

Sejak meninggalkan rumahnya, putri Punna tidak diizinkan untuk mendekati bhikkhu atau bhikkhuni, memberikan dana, atau mendengarkan Dhamma. Setelah dua setengah bulan lewat, dia bertanya kepada para pelanyannya. "Tinggal berapa hari lagi musim hujan berakhir?" "Setengah bulan, nyonya," kata mereka. Maka dia mengirimkan pesan kepada ayahnya : "Mengapa mereka melemparku ke dalam penjara seperti ini? Akan lebih baik bila engkau mengusirku dan menyatakan saya sebagai budak orang lain daripada memasukan saya ke dalam keluarga yang tidak percaya semacam ini. Sejak saat saya datang ke sini, saya tidak diijinkan untuk melakukan satu tindakan jasa apa pun, tidak juga memandang seorang bhikkhu." Punna merasakan kesedihan dihatinya, "Aduh putriku amat tidak bahagia!"

 

Maka Punna menyuruh mengirimkan limabelas ribu kahapana kepada putrinya itu dengan pesan :"Di kota ini, ada seorang pelacur, Sirima namanya. Setiap hari dia menerima 1000 (kahapana). Dengan uang ini, suruhlah dia datang kepadamu. Berikan dia kepada suamimu, sehingga kau dapat melakukan tindakan-tindakan jasa seperti yang kau suka." Uttara melakukan seperti yang dipesankan. Ketika suaminya melihat Sirima, dia berkata, "Apa ini?" Uttara, putri Punna menjawab, "Suamiku, selama setengah bulan ini biarlah sahabatku ini merawatmu. Tetapi selama setengah bulan ini saya tidak ingin melakukan apa pun kecuali memberikan dana dan mendengarkan Dhamma. "Suaminya memandang perempuan yang cantik ini. Nafsu birahinya muncul. Maka dia menyetujuinya dan berkata, "Baiklah."

 

Uttara mengirimkan undangan kepada Sangha dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya. Dia berkata, "Bhante yang terhormat, selama setengah bulan ini janganlah pergi ke tempat lain. Saya mohon Bhante menerima dana makanan di sini saja." Ketika dia telah memperoleh persetujuan dari Sang Guru, Uttara berkata, "Mulai sekarang sampai Undangan Agung, saya akan bisa melayani Sang Guru dan mendengarkan Dhamma." Dengan hati yang puas dia mulai mengatur segala yang harus dilakukan di dapur, dengan berkata, : "Masaklah bubur dengan cara begini, masaklah kue dengan cara begitu."

 

Sang suami berpikir, "Besok adalah Undangan Agung." Dia berdiri di dekat jendela, melihat ke dapur, dan bertanya-tanya di dalam hati, "Apakah yang sedang dilakukan perempuan tolol ini di dapur?" Dia melihat istrinya sedang bergerak ke sana kemari basah keringat, kena abu, hitam karena arang dan jelaga karena menyiapkan segala sesuatu. Pikirnya, "Perempuan tolol ini tidak bisa menikmati kemewahan dan kenyamanan di tempat seperti ini. Dia ke sana kemari dengan hati yang bahagia hanya karena ingin melayani Bhikkhu-Bhikkhu berkepala gundul itu." Suami Uttara itu tertawa dan kemudian pergi.

 

Pada waktu itu, Sirima sedang berdiri di dekat suami Uttara. Dia berkata kepada dirinya sendiri, "Apa yang telah dilihatnya sehingga dia tertawa?" Melalui jendela yang sama, dia melihat Uttara dan berpikir, "Dia melihat perempuan itu dan tertawa. Pasti ada keintiman di antara dia dan perempuan itu." Menurut cerita, meskipun setengah bulan itu dia adalah orang luar, tetapi karena kemewahan dan kenyamanan yang dinikmatinya di rumah itu, dia tidak sadar akan statusnya sebagai orang luar. Malahan dia berpikir, "Saya adalah nyonya rumah ini." Maka dia merencanakan niat jahat bagi Uttara. Dengan berkata di dalam hati, 'Aku akan membuat kesulitan baginya." dia turun dari teras, masuk ke dapur, dan pergi ke tempat mereka memasak kue. Dia mengambil ghee yang panas mendidih dengan sendok besar, dan menghampiri Uttara. Uttara melihatnya datang dan berpikir, "Sahabatku ini telah membantuku. Lingkaran bumi ini terlalu sempit, alam Brahma terlalu rendah, tetapi keluhuran temanku ini sungguh besar. Berkat bantuannya aku bisa memberikan dana dan mendengarkan Dhamma. Jika aku marah kepadanya, biarlah ghee ini membakarku. Jika tidak, biarlah ghee ini tidak membakarku." Maka, walaupun ghee panas itu dituangkan di atas kepalanya, namun terasa bagaikan air dingin, karena Uttara dipenuhi cinta kasih.

 

Para pelayan Uttara melihat Sirima datang (menuju mereka) setelah dia mengisi sendok lagi sambil berkata (di dalam hati), "Apakah ini (juga) akan menjadi dingin?" Mereka marah sekali pada Sirima. Engkau perempuan jahat! Betapa beraninya engkau menuang minyak mendidih ke kepala nyonya kami?" Sirima pun diserang dari mana-mana di dapur itu. Dia dipukuli dan ditendang, dan kemudian dibanting ke tanah. Walaupun Uttara mencoba mencegah, namun para pelayan itu tidak dapat dihentikan. Maka Uttara kemudian berdiri di atas tubuh Sirima untuk menghadang semua pelayan itu. Lalu dia menegur Sirima, 'Mengapa engkau melakukan tindakan yang memilukan ini?" Lalu Uttara membasuhnya dengan air hangat dan meminyaki kepalanya dengan minyak yang telah disaring 100 kali.

 

Pada saat itu, Sirima menyadari kenyataan bahwa dia sebenarnya adalah orang luar. Dia berpikir, "Aku telah melakukan tindakan yang memilukan. Aku telah menuangkan air mendidih ke kapalanya hanya karena aku melihat senyuman suaminya. Uttara tidak memerintahkan para pelayannya, ‘Tangkap dia.’ Dia bahkan menghalang-halangi ketika mereka menyakitiku, dan melakukan padaku apa yang seharusnya dilakukan. Jika aku tidak meminta maaf kepadanya, kepalaku bisa terbelah menjadi tujuh." Dia menjatuhkan dirinya di kaki Uttara dan berkata, "Nyonya, maafkan saya" "Saya adalah putri yang ayahnya masih hidup. Jika ayahku memaafkan, saya akan memaafkan (engkau)," kata Uttara. "Kalau demikian, nyonya, saya akan meminta maaf juga kepada ayahmu, Punna si bankir." "Punna adalah ayahku yang telah menurunkan aku di dalam siklus (kelahiran). Tetapi jika ayahku yang telah menurunkan aku di dalam siklus yang tidak-berputar memaafkan kamu, saya akan memaafkanmu."Kalau demikian, siapakah ayahmu yang berada di dalam siklus yang tidak-berputar itu?" "Yang Sepenuhnya Tercerahkan." "Saya tidak mengenal Beliau. Apa yang harus saya lakukan?" "Sang Guru datang ke sini besok dengan sekelompok para bhikkhu. Bawalah persembahan apa pun yang bisa kamu peroleh. Lalu datanglah ke sini dan mintalah maaf." "Baiklah, nyonya," kata Sirima. Dia bangkit dan pergi ke rumahnya sendiri.

 

Sirima memerintahkan kepada lima ratus pelayan perempuannya untuk menyiapkan berbagai macam makanan lunak dan makanan keras. Lalu pada hari berikutnya, dia menunggu, tidak berani menaruh apa pun ke dalam mangkuk para Bhikkhu dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya. Uttara sendiri mengambil semua itu dan mengaturnya. Pada waktu para Bhikkhu selesai makan, Sirima dengan semua pengikutnya berlutut di kaki Sang Guru. Sang Guru bertanya kepadanya, “Apakah kesalahanmu?" "Bhante, kemarin saya melakukan begini dan begitu, tetapi temanku ini menghalang-halangi para pelayannya yang menyakitiku. Dan dia malahan melakukan kebaikan padaku. Saya menyadari keluhurannya, dan saya minta maaf. Tetapi dia berkata bahwa bila saya telah memperoleh maaf dari Bhante, maka ‘Saya akan memaafkan,’" "Apakah benar demikian, Uttara?" "Ya, Bhante yang terhormat, temanku ini menuangkan minyak mendidih ke atas kepalaku," "Kemudian apa yang engkau pikirkan?" "Saya berpikir, ‘Lingkaran bumi ini terlalu sempit, alam Brahma terlalu rendah, tetapi keluhuran temanku ini sungguh besar. Berkat bantuannya aku bisa memberikan dana dan mendengarkan Dhamma. Jika aku marah kepadanya, biarlah ghee ini membakarku. Jika tidak, biarlah ghee ini tidak membakarku.’ Dengan berpikir demikian saya menyelimutinya dengan kasih sayang." Sang Guru berkata, “Bagus sekali, bagus sekali, Uttara, demikianlah seharusnya orang mengalahkan kemarahan."

 

Dengan mengucapkan syair ini Sang Buddha pun menjelaskan arti hal ini, "Dengan tanpa-kemarahan seharusnya orang mengalahkan orang yang marah, dengan tidak-mencaci dia mengalahkan yang mencaci, dengan tidak-menghina dia mengalahkan yang menghina, dengan memberikan apa yang dimiliki dia mengalahkan orang yang sangat kikir, dan dengan ucapan benar dia mengalahkan orang yang berbicara salah."

 

"Dengan tanpa-kemarahan seharusnya orang mengalahkan kemarahan,
Dengan kebaikan seharusnya orang mengalahkan kejahatan,
Dengan kedermawanan seharusnya orang mengalahkan kekikiran,
Dan dengan kebenaran orang mengalahkan yang berucap tidak-benar."

 

Setelah menyampaikan syair ini, Sang Buddha berbicara tentang Empat Kebenaran di akhir syair tersebut. Pada akhir kebenaran itu, Uttara mantap di dalam buah Yang-Kembali-Sekali-Lagi. Sedangkan suaminya, ayah mertua, dan ibu mertuanya mewujudkan buah Pemasuk-Arus. Demikian juga, Sirima bersama lima ratus pelacur pengikutnya menjadi Pemasuk_Arus. Setelah Uttara meninggal, dia muncul di (alam) Tiga-Puluh-Tiga dewa.

 

Y.M. Moggallana yang sedang berkunjung ke alam dewa seperti yang dijelaskan di atas, melihat Uttara, si putri-dewa, dan mengajukan pertanyaan dengan syair yang bermula dengan, “ Engkau yang berdiri dengan keelokan melebihi yang lain."

  1. Engkau yang berdiri dengan keelokan melebihi yang lain, devata, membuat segala penjuru bersinar bagaikan bintang penyembuh.

  2. Karena apakah maka keelokanmu sedemikian rupa? Karena apakah engkau sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatimu?

  3. Saya bertanya kepadamu, dewi dengan keagungan yang besar, tindakan jasa apakah yang telah engkau lakukan ketika terlahir sebagai manusia? Karena apakah maka keagunganmu cemerlang sedemikian rupa dan keelokanmu menyinari segala penjuru?

  4. Devata itu, karena gembira ditanya oleh Moggallana, ketika diberi pertanyaan menjelaskan perbuatan apa yang menghasilkan buah itu.

  5. Kedengkian dan kejahatan serta kekikiran tidak pernah menjadi milikku ketika saya hidup di suatu rumah. Tanpa kemarahan, patuh kepada suami, selalu rajin pada (hari-hari) Uposatha.

  6. Pada (hari-hari) ke-14, 15, dan 8 dari dua-mingguan, dan pada hari khusus pada dua mingguan yang berhubungan dengan (peraturan) berunsur delapan.

  7. Saya menjalankan Delapan Sila, selalu terkendali oleh kebiasaan-kebiasaan moral. Dan (demikianlah) di Istana ini saya berdiam, terkendali dan dermawan.

  8. Menjauhkan diri dari membunuh makhluk hidup, dan menjauhkan diri dari berbicara bohong, dari mencuri dan tindakan asusila; minum minuman yang memabukkan jauh dariku.

  9. Bergembira di dalam lima peraturan pelatihan, terampil di dalam kebenaran-kebenaran ariya, dahulu saya adalah umat awam pengikut Gotama, Yang Memiliki Visi, yang dikenal luas.

  10. Saya, yang termasyhur dan terkenal karena moralitasku sendiri, kini mengalami jasa kebaikanku sendiri; saya sekarang bahagia, dan sehat.

  11. Karena inilah maka keelokanku sedemikian rupa, karena inilah saya sejahtera di sini, dan di sana muncul apa pun yang merupakan kesenangan sesuai dengan hatiku.

  12. Saya beritahukan kepadamu, Bhikkhu dengan keagungan yang besar, tindakan jasa yang telah saya lakukan ketika terlahir sebagai manusia. Karena inilah maka keagunganku cemerlang sedemikian rupa dan keelokanku meyinari segala penjuru."

 

Dan, Bhante yang terhormat, atas namaku, maukah Bhante memberi hormat dengan kepalamu di Kaki Yang Terberkahi, dan berkata : ‘Pengikut perempuan awam bernama Uttara memberikan hormat dengan kepalanya di kaki Yang Terberkahi’? Sungguh tidak akan mengherankan, Bhante yang terhormat, bilamana Yang Terberkahi menyatakan bagiku salah satu dari buah kepetapaan." Yang Terberkahi memang menyatakan baginya buah Yang-Kembali-Sekali-Lagi.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 96