Category: Sutta Published: Thursday, 14 December 2017

Sirimavimana - Istana Sirima (Vv I.16)

 

 

Yang Terberkahi sedang berdiam di Rajagaha, di tempat pemberian makan tupai di Hutan Bambu. Dan pada waktu itu, Sirima si pelacur yang disebutkan di dalam Cerita di atas, telah meninggalkan profesinya yang tidak murni karena pencapaian buah Pemasuk-Arus. Setiap hari dia memberikan dana kepada delapan anggota Sangha yang dipilih lewat kupon. Sejak awal, setiap hari delapan Bhikkhu datang ke rumahnya. Dengan mengatakan, ‘Ambillah ghee, ambillah susu," dsb. Dia mengisi mangkuk-mangkuk mereka. Makanan yang diperoleh satu Bhikhhu cukup untuk tiga atau empat orang. Setiap hari, makanan yang pantas senilai enambelas kahapana diberikan sebagai dana.

 

Suatu hari, setelah seorang Bhikkhu menikmati Dana Makanan untuk Delapan di rumah Sirima, dia pergi ke vihara yang berjarak tiga yojana. Petang harinya ketika dia sedang duduk di hadapan para Thera, mereka bertanya kepadanya, "Sahabat, di manakah engkau memperoleh makanan sebelum kemari?" "Saya memperoleh Dana Makanan untuk Delapan dari Sirima." "Apakah Sirima mempersembahkan makanan yang telah dibuatnya untuk menerbitkan air liur?" "Saya tidak bisa menjelaskan makanannya. Dia memberikan makanan yang telah dibuatnya sangat lezat. Makanan yang diperoleh satu orang cukup untuk tiga atau empat orang. Tetapi penampilannya jauh lebih elok daripada dana yang diberikannya. Dia sungguh memiliki keelokan yang begini dan begitu ..." dan dia menjelaskan daya tariknya.

 

Salah satu Bhikkhu mendengar penjelasan tentang daya tarik Sirima. Walaupun dia belum pernah melihat Sirima, hanya dengan mendengar saja Bhikkhu itu sudah jatuh cinta. Dia berpikir di dalam hati, "Saya ingin pergi dan melihatnya." Dia pun membicarakan tentang jumlah musim hujan (yang telah dia lewatkan), dan bertanya kepada para Bhikkhu tentang urutannya di dalam Sangha. Dia diberitahu, "Besok, sahabat, karena engkau adalah Thera yang paling senior, engkau dapat menerima Dana Makanan untuk Delapan. Langsung dia mengambil mangkuk dan jubahnya, dan di fajar hari dia berangkat. Dia memasuki ruangan kupon, dan sebagai Thera tertua dia pun menerima Dana Makanan untuk Delapan di rumah Sirima.

 

Tetapi pada saat itu juga, setelah Bhikkhu yang makan di hari sebelumnya pergi, tiba-tiba Sirima merasa tubuhnya menderita suatu penyakit. Dia melepaskan segala perhiasannya dan berbaring. Para pelayannya, karena melihat bahwa para Bhikkhu telah datang untuk menerima Dana Makanan untuk Delapan, memberitahu Sirima. Karena tidak dapat mengambil mangkuk-mangkuk dengan tangannya sendiri atau mengundang para Bhikkhu untuk duduk, dia memberikan perintah kepada para pelayannya, "O, para pembantuku, ambillah mangkuk-mangkuk itu, persilakan tuan-tuan yang terhormat itu untuk duduk, berilah mereka bubur untuk diminum, layanilah mereka dengan makanan keras. Dan jika tiba waktunya bagi makanan utama, isilah mangkuk-mangkuk mereka dan kembalikanlah kepada mereka." Pelayan-pelayan itu melakukan apa yang diperintahkan. Kemudian Sirima berkata, Bantulah aku bangkit dengan cara merangkul tubuhku, dan topanglah aku masuk. Aku akan menyapa tuan-tuan yang terhormat itu." Dengan ditopang para pelayan, dia dibimbing ke hadapan para Bhikkhu. Dia menyapa mereka dengan tubuh yang gemetar. Ketika Bhikkhu (yang telah jatuh cinta dengannya) tersebut melihat Sirima, dia berpikir, "Walaupun sakit, perempuan ini memancarkan kecantikan. Bila dia sehat, lengkap dengan semua perhiasannya, seperti apa kecantikannya?" Kekotoran batin yang telah menumpuk selama ratusan ribu tahun menyerang Bhikkhu itu. Pikirannya menjadi kacau, dan karena tidak dapat memakan nasinya, dia mengambil mangkuknya dan pergi ke vihara. Dia menutupi mangkuk itu, meletakkannya di satu sisi, menebarkan jubahnya di satu sudut dan kemudian berbaring. Walaupun ada bhikkhu lain yang membujuknya, dia tidak mau makan. Maka dia tidak mengisi perutnya sama sekali. Di petang hari itu juga, Sirima meninggal. Raja mengirimkan pesan kepada Sang Guru, "Bhante, Sirima, adik bungsu Jivaka, telah meninggal." Ketika mendengar hal itu, Beliau mengirimkan pesan kepada raja, "Tubuh Sirima jangan dikremasi dulu. Taruhlah di tempat untuk mayat yang tidak akan dibakar, dan jagalah agar gagak dan sebagainya tidak memangsanya." Raja melakukan hal itu. Tiga hari berlalu. Pada hari ke empat, tubuh Sirima membengkak. Dari sembilan lubang, belatung keluar. Seluruh tubuh tampak seperti satu pot nasi yang hancur. Raja menyuruh untuk mengumumkan di seluruh kota, "Semua orang harus pergi melihat Sirima, kecuali anak-anak yang harus dilindungi di rumah. Yang tidak pergi akan didenda delapan kahapana." Dan raja mengirimkan pesan kepada Sang Guru : "Biarlah Sangha dengan Sang Buddha sebagai pemimpinnya datang melihat Sirima." Sang Guru mengumumkan kepada para Bhikkhu, "Kita akan pergi melihat Sirima."

 

Pada waktu itu, si Bhikkhu muda telah berbaring selama empat hari, tanpa mempedulikan apa yang dikatakan oleh orang-orang. Dia sama sekali tidak mau makan. Walaupun makanan di dalam mangkuknya telah menjadi busuk, dia tidak juga bangkit. Maka seorang Bhikkhu pergi kepadanya dan berkata, "Sahabat, Sang Guru akan pergi melihat Sirima." Pada saat mendengar kata "Sirima," bhikkhu muda tersebut bangkit dengan cepat walaupun dikuasai oleh rasa lapar. "Sang Guru akan melihat Sirima, apakah engkau akan ikut?" tanya Bhikkhu itu. "Saya akan pergi," katanya. Dia membuang nasi busuk itu, mencuci mangkuknya dan pergi bersama Sangha. Sang Guru dengan dikelilingi Sangha berdiri di satu kelompok. Sangha Bhikkhuni, keluarga raja, dan kelompok umat awam, masing-masing berdiri di kelompok sendiri-sendiri. Sang Guru bertanya kepada raja, "Raja yang agung, siapakah dia?" "Bhante, dia adalah saudara perempuan Jivaka, Sirima namanya." "Apakah ini Sirima?" "Ya, Bhante." "Kalau demikian, suruhlah mengumumkan di seluruh kota bahwa siapa pun boleh memiliki Sirima dengan membayarkan 1000 kahapana." Raja menyuruh hal ini dilakukan. Tak ada seorang pun yang berkata "Ya" atau "Tidak" untuk tawaran itu. Raja berkata kepada Sang Guru, "Bhante yang tehormat, tak ada seorang seorang pun yang mau." "Kalau demikian, raja agung, turunkanlah harganya." Raja menyuruh mengumumkan lagi, "Bayarlah 500 kahapana, ambillah Sirima." Ketika raja melihat tidak ada yang mau, dia membuat pengumuman lagi, "Ambillah Sirima dengan membayar 250," "Bayarlah 200," "Bayar 100," "Bayar 50," "Bayar 25 kahapana," "Bayar 10," "Bayar 5," "Bayar 1," "Bayar setengah," "Bayar seperempat," "Bayar satu masaka." "Bayar satu kakanika." Akhirnya dia menyuruh mengumumkan, "Ambillah Sirima tanpa membayar."

 

Bahkan tak seorang pun berkata "Ya" atau "Tidak". Raja berkata, "Bhante yang terhormat, tak ada seorang pun yang mau mengambil dia sekalipun tanpa membayar." Sang Guru berkata, "Lihatlah, para bhikkhu, perempuan yang sangat dicintai oleh dunia ini. Di kota yang sama ini, dulu mereka memberi 1000 kahapana untuk satu hari bersama dia. Namun sekarang tak seorang pun mau mengambil dia sekalipun tanpa membayar. Demikianlah kecantikan, yang penuh dengan kekotoran dan kelapukan, yang dibuat menarik hanya oleh perhiasan yang dipasang, suatu massa penyakit karena sembilan lubang yang membusuk, yang disatukan oleh tiga ratus tulang, yang senantiasa melapuk, daya tarik objek bagi banyak pemikiran karena dunia yang tolol banyak memikirkan tubuh itu, tubuh yang tiada-bartahan itu." Dan untuk mengajarkan hal ini Beliau mengulang syair :

 

"Lihatlah boneka yang dicat, suatu massa penyakit, sesuatu yang terpadu,
Melapuk, objek dari banyak pemikiran. Tanpa stabilitas yang kekal."

 

Di akhir Ajaran, Bhikkhu yang jatuh cinta kepada Sirima kehilangan nafsu kegilaannya; dia mengembangkan pandangan terang dan mencapai tingkat Arahat. Delapan puluh empat ribu manusia menembus Dhamma.

 

Pada saat itu, Sirima, putri-dewa, telah merenungkan keberhasilan dan kesejahteraannya. Ketika merenungkan tempat asalnya, Sirima melihat Yang Terberkahi dikelilingi oleh Sangha para bhikkhu dan kelompok orang-orang yang semuanya berkumpul di samping tubuhnya yang telah menjadi mayat. Dikelilingi lima ratus putri-dewa dengan lima ratus kereta, Sirima tiba dalam bentuknya yang dapat dilihat. Setelah turun dari kereta kencananya, bersama para pengikutnya dia memberi hormat kepada Yang Terberkahi, lalu berdiri dengan sikap penuh bakti. Pada saat itu, Y. M. Vangisa berdiri di dekat Yang Terberkahi. Dia berkata, "Yang Terberkahi, saya ingin bertanya." "Silakan, Vangisa," kata Yang Terberkahi. Y. M. Vangisa mengajukan pertanyaan berikut ini kepada Sirima, putri-dewa itu :

  1. "Kuda-kudamu yang dipasang, dihias dengan indah, turun melalui langit, kuat, cepat, dan lima ratus kereta kencana, yang diciptakan (oleh tindakan jasamu sendiri), menemanimu, kuda-kuda itu disemangati oleh kusir-kusirnya."

  2. "Dengan berhias engkau berdiri di dalam kereta kencana yang agung, berkilau, dengan penampilan yang tanpa-cacat, cemerlang, bagaikan api bintang yang bersinar. Saya bertanya kepadamu, sosok yang agung, berasal dari kelompok makhluk manakah engkau datang menghampiri (Buddha) yang tiada-bandingnya."

 

Devata itu menjelaskan dalam syair-syair ini :

  1. "Ada tanaman rambat, Bhante yang terhormat, yang disebut kosataki, yang pahit, tidak ada harganya. Saya mengambil empat bunganya untuk stupa."

 

Setelah dewi itu menjelaskan kemunculannya di antara para dewa yang bergembira di dalam mencipta, Thera tersebut ingin agar dia menceritakan tentang keadaan kehidupan sebelumnya, tindakan jasa yang telah dilakukannya, dan keyakinan religiusnya.

  1. Perbuatan baik apakah yang dahulu telah engkau lakukan di sini? Karena apakah maka engkau memiliki keagungan yang tak-terbatas, melimpah dalam kebahagiaan, dan memiliki kemampuan kesaktian yang tiada bandingnya untuk melintasi udara sementara keelokanmu bersinar menembus sepuluh penjuru?

  2. Engkau dikelilingi dan dihormati oleh para dewa. Dari manakah engkau dulu meninggal, devata, sehingga kini engkau datang di dalam kelahiran yang baik? Atau ajaran siapakah yang engkau patuhi? Beritahukanlah kepadaku jika engkau dulu adalah pengikut Sang Buddha.

  3. Di kota besar yang terencana dengan baik dan indah di sebuah gunung, sebagai pelayan seorang raja agung yang termansyhur, saya terlatih baik dalam tarian dan nyanyian. Di Rajagaha mereka mengenalku sebagai Sirima.

  4. Dan Sang Buddha, Yang Tertinggi dalam Melihat, Sang Pembimbing, mengajarku mengenai asal mula, penderitaan, (yang) abadi, dan tentang Jalan ini, yang tidak bengkok, langsung, membawa keberuntungan.

  5. Ketika saya mendengar keadaan tanpa-kematian, yang tak-terkondisi, Ajaran dari Tathagata yang tak-tertandingi, saya menjadi amat terkendali di dalam kebiasaan-kebiasaan moral (dan) mantap di dalam Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha, manusia yang agung.

  6. Setelah mengetahui tentang keadaan tanpa-noda, yang tak-terkondisi, yang diajarkan oleh Tathagata yang tiada bandingnya, maka saya sendiri mencapai konsentrasi yang tenang. Sungguh jaminan tertinggi adalah milikku.

  7. Setelah memperoleh keadaan tanpa-kematian yang membuatku berbeda, mantap, menonjol dalam penembusan, tanpa kebingungan, saya lalu dihormati orang-orang. Kini saya mengalami banyak penghiburan dan kenikmatan.

  8. Demikianlah saya sekarang adalah devata yang melihat tanpa-kematian, siswa Tathagata yang tiada bandingnya, makhluk yang melihat Dhamma, yang mantap di dalam buah pertama, (yaitu buah) Pemasuk-Arus, dan tidak ada lagi kelahiran yang buruk (bagiku).

  9. Dengan hormat terhadap raja yang masyhur di bawah Dhamma, saya telah mendekat untuk menghormat para Bhikkhu agung yang bergembira akan apa yang bajik, kelompok para petapa yang membawa keberuntungan.

  10. Saya bersukacita di hati, amat gembira, ketika melihat petapa itu, Tathagata, manusia agung, kusir dari makhluk yang dapat dijinakkan, pemotong keserakahan, bergembira di dalam apa yang bajik, sang pembimbing. Saya menghormati manusia yang amat penuh belas kasih, yang penuh kasih sayang.

 

[Sumber: Vimanavatthu terbitan Wisma Sambodhi.]

 

 

Hits: 77